Todung yang pernah menjadi Ketua Komite Etika PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin kemudian melanjutkan pernyataannya dengan harapan untuk kompetisi dan sepak bola Indonsia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Todung juga mewanti-wanti agar pemerintah tidak membawa sepak bola ke ranah politik.
"Kita seharusnya belajar dari pengalaman masa lalu. Jangan bawa sepakbola ke politik. Itu akan berbahaya. Sepakbola itu apolitik."
(Baca Juga Sikap Kemenpora: "Presiden Sudah Beri Sinyal Tegas, Benahi Sepak Bola")
Todung bukan satu-satunya ahli hukum yang berkomentar positif terhadap sanksi FIFA untuk Indonesia tersebut. Mantan Ketua Mahkamah Konsistusi, Mahfud MD, juga menyatakan hal senada dengan Todung.
"Indonesia sudah kena banned oleh FIFA. Manfaatkan pil pahit ini sebagai obat penyembuh. Perbaiki segera PSSI. Setelah beres daftar lagi ke FIFA," kata Mahfud melalui akun Twitternya @mohmahfudmd.
Sementara itu, pakar tata negara, Refly Harun, pada Jumat (29/5) juga sempat mengatakan bahwa sanksi FIFA adalah obat pahit yang diminum untuk menyembuhkan sepak bola Indonesia.
Refly mengatakan, saat ini ada empat hal yang harus dibenahi dalam sepak bola Indonesia, yaitu mafia sepak bola, pengaturan skor pertandingan, suap, dan pencucian uang.
"Negara tidak boleh membiarkan prilaku yang seperti itu dan harus melakukan intervensi. Jika tidak, maka negara tidak hadir untuk melindungi masyarakat sepak bola."
Baca Selengkapnya Ucapan Refly: Jangan Takuti Indonesia dengan Sanksi FIFA (vws)