Formula 1 di Tepi Jurang Kematian

Vetriciawizach, CNN Indonesia | Minggu, 29/11/2015 12:17 WIB
Formula 1 di Tepi Jurang Kematian Formula 1 kehilangan 175 juta penonton dalam enam tahun terakhir. (Mark Thompson/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Formula 1 2015 berakhir dengan senyap. Kebisingannya tak lagi terdengar, seperti halnya deru mesin mobilnya yang kian halus dan tak lagi memekakkan telinga.

Kegembiraan Lewis Hamilton menjadi juara dunia untuk kali ketiga tak menarik perhatian publik dunia. Ketika disandingkan dengan pemberitaan konflik Valentino Rossi kontra Marc Marquez yang terjadi nyaris berbarengan dengan keberhasilan Hamilton menggondol gelar juara, Hamilton kalah telak.

Cerita soal F1 yang ditinggalkan penggemarnya ini sebenarnya usang.


Di awal musim, Federasi Otomobil Internasional (FIA) melaporkan bahwa F1 telah kehilangan 175 juta penonton televisi hanya dalam waktu enam tahun. Pada 2008, total 600 juta pasang mata menyaksikan aksi Hamilton mendapatkan gelar juara dunia untuk pertama kali, sementara jumlahnya merosot ke angka 450 juta ketika Hamilton mendapatkan gelar kedua pada 2011.

Masalah paling utama dalam urusan hak siar ini adalah F1 tidak mendapatkan tempat di Asia dan Amerika Selatan  yang memang memegang populasi penduduk dunia, sementara negara basis penggemar F1 di Eropa pun mulai kehilangan minat.

Televisi Italia RAI mengeluarkan data bahwa hanya ada tiga juta orang Italia yang menyaksikan F1 2014, sementara di tahun 2000 nilai ini bisa mencapai 11 juta.

Di Inggris juga terjadi hal serupa. GP Singapura 2015 mencatatkan jumlah penonton paling rendah di Britania Raya sepanjang sejarah, dan bahkan jumlah penontonnya bisa tersaingi oleh pemirsa Piala Dunia Rugbi antara Selandia Baru dan Argentina.  

Jika hak siar menjadi darah segar bagi keberlangsungan industri olahraga, maka semua indikasi menunjukkan kini F1 kian bergerak ke tepi jurang kematian.  

Para pemangku kepentingan bukannya tak menyadari hal ini.

Berbagai cara dilakukan oleh bos F1 Bernie Ecclestone dan juga petinggi (FIA) untuk membalikkan roda nasib, mulai dari menerapkan sistem poin ganda pada 2014, membatasi pengembangan mesin ketika musim berjalan, hingga yang teranyar adalah nyaris menghapus pesan radio.

Namun pada akhirnya, kemenarikan F1 memang akan tergantung kepada satu hal: aksi di atas trek. Dan, F1 musim 2015 gagal untuk memberikan jawaban pada hal tersebut.

Musim F1 2015 diakhiri sebagaimana ia dimulai, dan sebagaimana ia berjalan sepanjang musim: didominasi duo Mercedes, Hamilton dan Nico Rosberg.

Dari 19 pole position yang tersedia, hanya satu yang bisa diraih oleh pebalap non-Mercedes yaitu ketika Sebastian Vettel mendapatkan pole di GP Singapura.

Di balapan sebenarnya, Vettel hanya mampu mengganggu kombinasi Hamilton-Rosberg sebanyak tiga kali. Di 15 balapan lain (minus Abu Dhabi), podium pertama selalu dikuasai Mercedes.

Patut dipertimbangkan bahwa dominasi satu tim bukan hal baru dalam dunia balapan. Di era Alain Prost dan Ayrton Senna bersama McLaren pada periode 1980-1990 pun keduanya sangat mendominasi. Namun tak sampai membikin pebalap-pebalap lain tak mampu memberikan kejutan sama sekali.

Atau, misalnya saja, ketika Vettel menjadi juara dunia kedua kalinya bersama Red Bull di musim 2010. Meski Red Bull bersama Vettel dan Mark Webber dominan, ada empat pebalap yang bersaing memperebutkan gelar juara dunia hingga akhir musim, yaitu Vettel, Webber, Fernando Alonso, dan Jenson Button. 

Lewis Hamilton mendapatkan gelar juara dunia ketiga kali pada musim 2015. ( Action Images / Hoch Zwei Livepic)
 

Pebalap yang Kian Menghilang

Lewat kolomnya di BBC Sport, Hamilton menyoroti satu hal yang membikin balapan tak lagi menarik, yaitu soal ban yang terlalu cepat aus. Menurutnya, hal ini membuat para pebalap tidak bisa lagi memacu kendaraan sekencang mungkin untuk menyalip lawan.

Jika ban aus berarti mereka harus masuk pitstop sehingga berpeluang untuk disalip lawan. Hal inilah yang membuat para pebalap kini sangat bergantung pada strategi tim untuk menentukan waktu paling pas masuk pit.

"Idealnya, kami tidak perlu terlalu bergantung kepada strategi; balapan seharusnya soal kelihaian di atas trek," kata Hamilton melalui tulisannya pada pertengahan November ini.

"Masalahnya, kondisi ban akan cepat habis dan Anda tidak bisa mendekati mobil lainnya karena aerodinamika mobil Anda akan terganggu."

Hal senada juga didengungkan oleh pebalap lain.

Fernando Alonso, dua kali juara dunia dan salah satu pebalap terbaik di generasinya, mengatakan bahwa ia ingin kembali ke masa-masa dahulu ketika ban mereka bisa digunakan untuk menyerang lawan.

Masa-masa yang dimaksudkan Alonso adalah pra-2011, atau ketika Pirelli belum menjadi penyuplai tunggal ban Formula 1. Ironisnya, ketika pabrikan asal Italia itu mendapatkan kontrak sebagai penyuplai ban, Pirelli secara khusus diminta untuk merancang ban yang cepat aus agar semakin banyak pebalap yang bisa menyalip lawan. Rencana yang kini gagal total karena berbagai hal.

Memang banyak faktor yang membuat para pebalap tak lagi bisa unjuk gigi di atas trek. Selain masalah ban, kemampuan mesin yang jauh berbeda dari satu tim ke tim lain pun turut mendorong dominasi Mercedes dalam dua musim ke belakang.

Para petinggi balapan kini dipusingkan mencari jawaban atas semakin tidak menariknya balapan Formula 1, entah itu masalah ban, perbedaan kemampuan mesin, atau dana pengembangan mesin yang terlalu berbeda dari tim berdaya finansial kuat ke tim semenjana.

Jatuhnya Nama-nama Besar

Meski aksi di atas trek tak memunculkan banyak kejutan, Formula 1 masih menyisakan drama di luar arena. Musim F1 2015 menjadi musim ketika nama-nama besar mulai tumbang dan berpotensi menghilang dari F1.

Kesulitan finansial membuat tim Lotus yang memiliki sejarah panjang di dunia F1 terancam undur diri, sementara kombinasi McLaren dan Honda juga bisa dikatakan gagal total. Honda gagal memberikan mesin yang kompetitif bagi Button dan Alonso sehingga mereka berulang kali gagal finis di musim ini.

Nama lain yang mungkin menghilang adalah Sirkuit Monza, Italia, yang juga mengalami kesulitan finansial untuk membayar hak sebagai tuan rumah F1.

Masalah-masalah ini belum menemui penyelesaian setelah berbagai rancangan untuk mengurangi biaya pengembangan mesin --sebagai beban paling tinggi tim-- kerap mengalami penolakan tim-tim besar.

Bukan hanya berakhir dalam senyap, tampaknya Formula 1 2015 juga menyisakan banyak masalah. (vws)