Pemandu Bakat Persib Nyaris Salah Rekrut Pemain

Ahmad Bachrain & Arby Rahmat, CNN Indonesia | Selasa, 15/03/2016 16:15 WIB
Pemandu Bakat Persib Nyaris Salah Rekrut Pemain Pelatih Diklat Persib Budiman Yunus ketika ditemui di Bandung. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagai salah satu klub tertua di Indonesia, Persib Bandung, mencoba membangun salah satu fondasi, yakni pembinaan usia muda. Genap baru sekitar tiga tahun klub ini mencoba membangun Diklat Persib.

Salah satu yang menjadi roda penggerak di belakang layar, tentu ada pada tim seleksi Maung Ngora. Sistem pencarian bakat-bakat usia muda sudah ditentukan, dengan menggunakan metode pencarian langsung ke sumber-sumber talenta muda.

Metodenya pun dilakukan secara diam-diam oleh tim pemandu bakat. Beberapa klub, utamanya dari 36 klub mantan anggota Persib, jadi sasaran pantauan talent scout yang digawangi oleh Budiman Yunus.


Alih-alih membuka seleksi besar-besaran, metode mencari langsung pemain muda dirasa lebih tepat sasaran dan efektif.

Namun, tentu tetap ada tantangan, Dengan sistem pencarian langsung ke sumbernya, Budiman mengakui, tak berarti Maung Bandung luput dari kesalahan.

Pelatih kepala Diklat Persib ini pun bertutur tentang kendala dan tantangannya selama mengumpulkan para talenta muda. Mengingat keterbatasan jumlah personel pemandu bakat, Budiman dkk harus cermat betul dalam menghimpun informasi, dan melakukan pemantauan langsung di sejumlah kompetisi usia muda, lokal dan nasional.

Apalagi, ia bersama timnya harus benar-benar efektif menggunakan dana dari PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB) sebagai ongkos memantau di sejumlah daerah. Dananya tentu cukup terbatas. "Kalau ongkos, kami mengajukan anggaran ke PT PBB. Nanti mereka yang mencairkan," ujar Budiman.

"Makanya, kami memilih tim yang benar-benar mau kerja. Bukan selalu memikirkan keuntungan pribadi."

Tim pemandu bakat tentu bukan robot yang secara otomatis menjalankan program dan luput dari kealpaan. Ia mengakui, pernah nyaris salah dalam memilih pemain.

"Pernah suatu ketika, saya menemukan pemain bagus. Sewaktu kami dekati, anaknya kecil dan imut-imut. Tapi ternyata usianya lebih dewasa, kelahiran 1993," ucap Budiman, lantas tertawa. "Pantesan saja mainnya bagus."

Menepis Godaan

Sebagai pemandu bakat, banyak pula godaan yang harus dilalui Budiman dalam menjalankan tugas. Ia menuturkan, bahkan ada orangtua yang memaksa-maksa anaknya untuk dimasukkan Diklat Persib.

"Pertama kami ngomong baik-baik, saya tanya di anaknya main di klub mana. Kemudian saya datangi diam-diam, saya lihat permainannya," kata Budiman.

"Banyak yang kasih saya iming-iming sesuatu, padahal anaknya tidak istimewa."

Di situlah godaannya bagi ia, untuk menolak secara baik-baik, permintaan beberapa orangtua yang ingin sekali anaknya masuk Diklat Persib. "Kalau saya mau, saya pasti sudah kaya karena disogok sana-sini demi memenuhi ambisi orangtua agar anaknya masuk Diklat Persib," ujarnya.

"Tapi saya bekerja untuk Persib, demi memajukan sepak bola Bandung dan Jawa Barat pada umumnya. Pilihannya jelas, mau jadi perusak sepak bola atau memelihara sepak bola."

Selentingan-selentingan miring pun pernah sampai ke telinganya. Tak sedikit yang menuduh bahwa ada beberapa pemain 'titipan' di Diklat Persib. "Itu sudah risiko bekerja di klub sebesar Persib," Budiman menerangkan.

"Ada juga yang tidak suka. Kami hanya ingin membuktikan kerja kami dengan proses dan hasilnya yang bagus."


(bac)