Danurwindo
Mantan pelatih timnas PSSI Primavera yang menimba ilmu di Italia era 1990-an. Ia juga pernah melatih klub-klub besar seperti Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya. Pria berusia 65 tahun itu kini banyak mengisi aktivitasnya sebagai pengamat sepak bola dan pemandu bakat pembinaan sepak bola usia muda

Menerka Cara Timnas Indonesia Menang di Pakansari

Danurwindo, CNN Indonesia | Jumat, 02/12/2016 08:55 WIB
Menerka Cara Timnas Indonesia Menang di Pakansari Timnas Indonesia akan menghadapi Vietnam di semifinal Piala AFF 2016. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim nasional Indonesia menghadapi laga penting pada akhir pekan ini yaitu melawan Vietnam di semifinal Piala AFF 2016, Sabtu (3/12) di Stadion Pakansari. Ini adalah pertama kalinya Indonesia tampil kembali ke empat besar setelah di dua edisi sebelumnya terhenti di fase grup.

Patut diakui, Vietnam bukan lawan mudah. Tim yang dilatih Nguyen Huu Tang itu lolos sebagai juara Grup B dengan tiga kemenangan. Tapi bukan berarti Indonesia harus menatap laga semifinal ini dengan pesimistis.

Melihat dari kekuatan permainan Indonesia di fase grup dan juga taktik yang digunakan Vietnam, ada beberapa cara agar Indonesia bisa merebut kemenangan.


Cara Indonesia Lolos dari Babak Grup

Menghadapi Thailand, tim yang menyandang status sebagai favorit juara, di pertandingan pertama, terlihat jelas Alfredl Riedl lebih mengandalkan permainan serangan balik yang cepat ke pertahanan Thailand. Ia lebih memilih taktik itu ketimbang bermain terbuka dan menyerang masuk ke area pertahanan lawan. 

Cara bermain reaktif atau lebih menunggu lawan menyerang tentu dapat dimengerti. Di atas kertas, Thailand memang lebih baik dan memiliki pemain yang kualitasnya merata di semua lini.

Menghadapi kesebelasan-kesebelasan seperti itu, para penggawa timnas Indonesia dituntut bermain disiplin, terutama pemain belakang (back four) dan empat pemain lapangan tengah. Dua penyerang pun harus bermain lebih rapat, menjaga jarak satu sama lain agar sulit ditembus lawan.

Melawan Filipina di pertandingan kedua, dan dengan tuntutan harus menang, Riedl meminta timnas main dengan cara berbeda. Lebih proaktif. Berani keluar menyerang dengan bermain lebih vertikal, terutama memanfaatkan sisi lapangan menggunakan pemain yang bergerak cepat.

Andik Vermansah, Boaz Solossa dan Rizky Rizaldi Pora sangat menyulitkan lawan di laga itu.

Di pertandingan pamungkas melawan Singapura, yang bermain dengan cara ‘parkir bus’ menumpuk hampir delapan pemain di belakang, timnas dipaksa lebih sering mengubah gaya bermain dan menusuk dari sisi lapangan.

Cukup sulit menebus cara pertahanan rapat (compact defense) ini, tetapi kecepatan menyerang kembali menjadi senjata utama yang membuat Indonesia berhasil lolos ke semifinal.

Total enam gol dari tiga pertandingan adalah tanda penyerang-penyerang timnas Indonesia cukup produktif dan tajam, terutama dengan permainan serangan balik yang menjadi tren. Jumlah gol itu sedikit lebih baik daripada Vietnam yang mengoleksi lima gol di fase grup.

Namun sebaliknya. Dengan kebobolan tujuh gol dari tiga pertandingan, pertahanan Indonesi masih lemah dan perlu perbaikan.

Organsisasi pertahanan terutama kesepemahaman permainan antara lini bertahan dan gelandang harus lebih baik lagi. Terutama, timnas harus menghindari kesalahan di sektor belakang yang bisa berakibat terjadinya gol.

Cara Indonesia Menang Lawan Vietnam

Beruntung sebelum Piala AFF dimulai Timnas pernah bermain dalam laga persahabatan versus Vietnam. Di laga pertama yang digelar di Sleman, timnas Indonesia ditahan imbang 2-2, sementara di Vietnam menderita kekalahan 2-3.

Dari pertandingan itu, setidaknya kita bisa mengukur kelebihan dan kekurangan dari calon lawan Indonesia di pertandingan semi final nanti.

Vietnam yang keluar sebagai juara Grup B dengan aggregate gol 5-2, termasuk tim yang cukup produktif dalam mencetak gol dan memiliki pertahanan yang cukup terorganisasi.

Di samping itu, Vietnam dikenal dengan disiplin dalam menerapkan taktik permainan ketika menyerang, bertahan, dan juga memiliki transisi cepat. Mereka juga memiliki pemain yang berbahaya di sektor depan seperti Le Cong Vinh, serta pemain lapangan tengah yang kreatif dan bisa bertindak sebagai playmaker Le Van Thang.

Hal ini dibuktikan lewat keberhasilan mencetak lima gol di pertandingan grup.

Untuk mendapatkan poin penuh di pertandingan kandang, tentunya Indonesia harus menerapkan taktik dan strategi yang tepat, terutama cara meredam kecepatan penyerang-penyerang dan pemain tengah Vietnam yang kreatif. Juga mahir dalam melakukan serangan balik.

Timnas perlu main agresif semenjak peluit dibunyikan, terutama dengan permainan ‘pressing’ yang dilakukan secara bersama oleh pemain depan, tengah, dan belakang.

Hal ini untuk memaksa lawan tidak dapat mengembangkan permainan lebih sering mengalirkan bola ke samping atau belakang. Skema ini adalah untuk meredam situasi berbahaya yang ditimbulkan serangan Vietnam.

Kemungkinan besar di pertandingan nanti, Vietnam akan bermain lebih sabar, lebih sering turun di sepertiga lapangan sendiri atau lapangan tengah untuk mengorganisasi pertahanan.

Di sektor ini lah mereka melakukan ‘pressing’ ketat untuk merebut bola dan dilanjutkan dengan permainan serangan balik cepat.

Indonesia butuh kemenangan dan mencetak gol ke gawang Vietnam, untuk itu Boaz Solossa dan kawan-kawan harus sering masuk ke pertahanan lawan. Tetapi juga harus diingat, sekali terlambat untuk cepat kembali bertahan, maka Vietnam bisa menggunakan kesempatan untuk balik menyerang.

Oleh karena itu, keseimbangan bermain menyerang dan bertahan harus dijaga, terutama dengan permainan transisi cepat menyerang ke bertahan dan sebaliknya.

Alfred Riedl sendiri punya pekerjaan ruman karena dua pemain bek tengah Yanto Basna dan Fachrudin Aryanto tak bermain karena akumulasi kartu kuning.

Siapapun pengganti yang akan diturunkan, yang terpenting adalah dua bek tengah yang baru ini bersama unit lini pertahanan harus punya pengertian bersama secara tim ketika melaksanakan tugas ketika bertahan dan juga saat memulai serangan.

Kemampuan timnas Indonesia yang berhasil lolos ke babak semi final, serta ketajaman lini depan seperti Boaz, Andik Vermansah, Rizky Rizaldi Pora, ditunjang pemain lapangan tengah yang cukup bertenaga seperti Evan Dimas dan Stefano Lilipay, bisa menjadi kunci kemenangan kita di pertandingan pertama nanti.

Apalagi jika ditambah kemampuan dalam serangan balik cepat yang sulit diantisipasi pemain belakang lawan. Jangan lupa, ketajaman ini juga harus diimbangi dengan permainan disiplin dalam bertahan, bukan hanya pemain belakang saja tetapi seluruh pemain termasuk gelandang dan pemain depan harus terlibat bertahan bersama.

Kalau cara bermain ini dilakukan dengan baik, tentu kita bisa meraih kemenangan ideal di kandang sendiri.

(vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS