Hendra Setiawan, Sang Pembunuh Berdarah Dingin di Lapangan

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Kamis, 08/12/2016 13:40 WIB
Hendra Setiawan, Sang Pembunuh Berdarah Dingin di Lapangan Hendra Setiawan selalu terlihat tenang namun mematikan di atas lapangan. ( CNN Indonesia/Adhi Wicaksono
Jakarta, CNN Indonesia -- Mengesalkan tentunya melihat lawan berteriak ekspresif ketika pukulan mereka sukses menaklukkan lawan dan berbuah poin. Namun ekspresi dingin milik Hendra Setiawan jauh lebih mematikan dari pemain-pemain yang meledak dan berapi-api di atas lapangan.

Meraih poin dan bergembira atau bahkan berteriak sudah lazim dilakukan. Namun meraih poin dan tetap tenang seolah tak terjadi apa-apa jelas jadi sebuah isyarat perang yang lebih dingin namun lebih menikam.

Tak banyak pemain yang seperti itu dan Hendra Setiawan adalah salah satunya. Muka dingin dan datar Hendra sepanjang permainan adalah salah satu senjata ampuh milik Hendra sehingga lawan tak pernah benar-benar tahu apa yang dipikirkannya.


"Bagi banyak pemain lawan, Hendra adalah pembunuh berdarah dingin. Dia pendiam tetapi mematikan di atas lapangan," kata Kabid Binpres PBSI 2012-2016 Rexy Mainaky dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com.

Hendra pun mengakui dirinya memang tak bisa jadi sosok pemain yang berapi-api dan menunjukkan ekspresi di atas lapangan.

"Pada dasarnya saya memang tak terlalu ekspresif dan cenderung pendiam. Hal itu yang juga terbawa di lapangan," ujar Hendra. "Mungkin hanya pada beberapa kejuaraan besar saja saya berteriak melampiaskan kegembiraan."

Sikap dingin dan datar milik Hendra ternyata merupakan sifat yang sudah ada sejak lahir.

"Dua kakak saya (Silvi Anggraeni dan Ivon Anggaraeni) padahal termasuk yang aktif berbicara. Namun saya dari kecil memang pendiam," ungkap pria yang berasal dari Pemalang, Jawa Tengah tersebut.

"Sifat pendiam itu tak pernah berubah setelah saya pergi bergabung dengan Jaya Raya Jakarta dan akhirnya masuk pelatnas."

Meskipun memiliki sifat pendiam, Hendra mengaku dirinya tak mengalami kesulitan dalam bergaul. Ia memiliki banyak teman meskipun dirinya tetap tak terlalu aktif dalam obrolan keseharian.

Walaupun pendiam, Hendra ternyata cenderung 'berisik' bila sudah menyangkut strategi untuk menaklukkan lawan di lapangan.

"Baik saat berpasangan dengan Markis Kido maupun Mohammad Ahsan, saya aktif dan bersama-sama mencari strategi untuk mengalahkan lawan yang kami hadapi," ujar pria berusia 32 tahun ini.

Seperti halnya Hendra yang juga menyimpan banyak kata saat mengatur strategi di balik diamnya, dia pun mengakui tetap merasakan gugup di balik sikap tenangnya.

"Misalnya saja saat malam sebelum final Olimpiade 2008. Saat itu saya tak bisa tidur karena tegang memikirkan partai final," ujar pria yang sudah memenangkan satu medali emas Olimpiade, dua medali emas Asian Games, dan tiga medali emas Kejuaraan Dunia Bulutangkis tersebut.

"Sebagai pemain pasti ada perasaan tegang atau panik ketika permainan tak berjalan seperti yang diinginkan. Namun saya terus berusaha untuk tenang dan mencari cara untuk mengatasinya."

(kid)