Tak banyak pemain yang seperti itu dan Hendra Setiawan adalah salah satunya. Muka dingin dan datar Hendra sepanjang permainan adalah salah satu senjata ampuh milik Hendra sehingga lawan tak pernah benar-benar tahu apa yang dipikirkannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hendra pun mengakui dirinya memang tak bisa jadi sosok pemain yang berapi-api dan menunjukkan ekspresi di atas lapangan.
Sikap dingin dan datar milik Hendra ternyata merupakan sifat yang sudah ada sejak lahir.
"Dua kakak saya (Silvi Anggraeni dan Ivon Anggaraeni) padahal termasuk yang aktif berbicara. Namun saya dari kecil memang pendiam," ungkap pria yang berasal dari Pemalang, Jawa Tengah tersebut.
"Sifat pendiam itu tak pernah berubah setelah saya pergi bergabung dengan Jaya Raya Jakarta dan akhirnya masuk pelatnas."
Meskipun memiliki sifat pendiam, Hendra mengaku dirinya tak mengalami kesulitan dalam bergaul. Ia memiliki banyak teman meskipun dirinya tetap tak terlalu aktif dalam obrolan keseharian.
Walaupun pendiam, Hendra ternyata cenderung 'berisik' bila sudah menyangkut strategi untuk menaklukkan lawan di lapangan.
"Baik saat berpasangan dengan Markis Kido maupun Mohammad Ahsan, saya aktif dan bersama-sama mencari strategi untuk mengalahkan lawan yang kami hadapi," ujar pria berusia 32 tahun ini.
Seperti halnya Hendra yang juga menyimpan banyak kata saat mengatur strategi di balik diamnya, dia pun mengakui tetap merasakan gugup di balik sikap tenangnya.
"Misalnya saja saat malam sebelum final Olimpiade 2008. Saat itu saya tak bisa tidur karena tegang memikirkan partai final," ujar pria yang sudah memenangkan satu medali emas Olimpiade, dua medali emas Asian Games, dan tiga medali emas Kejuaraan Dunia Bulutangkis tersebut.
"Sebagai pemain pasti ada perasaan tegang atau panik ketika permainan tak berjalan seperti yang diinginkan. Namun saya terus berusaha untuk tenang dan mencari cara untuk mengatasinya."
(kid)