Senna vs Schumi: Rivalitas yang Berakhir Terlalu Dini

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Selasa, 03/01/2017 14:21 WIB
Senna vs Schumi: Rivalitas yang Berakhir Terlalu Dini Michael Schumacher dan Ayrton Senna sama-sama dianggap sebagai raja di lintasan basah. (AFP PHOTO / BERTRAND GUAY)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kehebatan mantan pebalap Formula Satu (F1) Michael Schumacher, sosok yang pada Selasa (3/1) ini genap 48 tahun, tidak lepas dari peran Ayrton Senna di lintasan balap.

Senna adalah pebalap yang pernah tiga kali juara dunia Formula 1. Ia dianggap sebagai salah satu pebalap terbaik sepanjang masa dan terkenal karena keandalan mengemudi di bawah guyuran hujan.

Ketika Senna berada di puncak kejayaan, Michael Schumacher muncul dengan predikat pebalap berbakat masa depan yang siap merusak dominasi Senna. Schumacher sendiri selalu menyimpan rasa hormat pada rivalnya tersebut.


"Sebuah kehormatan bagi saya dapat balapan bersamanya. Kami balapan dengan ketat, sangat ketat. Saya selalu memiliki kenangan yang baik terhadapnya," kata pebalap Legenda Michael Schumacher dalam sebuah pernyataannya yang dilansir CNN pada 22 April 2004.

"Saya memiliki banyak kenangan. Yang pertama adalah pada 1980 dalam sebuah balapan go-kart, ketika saya melihatnya balapan dan saya sangat terkesan meski tak mengenal sosoknya dan tidak ada yang tahu dirinya saat itu. Dia benar-benar pebalap yang fantastis dengan kemampuan dan talenta yang hebat," katanya menambahkan.

Schumacher dan Senna pertama kali bertemu di ajang balap F1 adalah pada musim 1991. Schumacher balapan untuk tim Benetton-Ford, sedangkan Senna bermain untuk tim McLaren-Honda.

Musim tersebut, Senna berhasil menyabet gelar juara dunia yang ketiga dengan mengumpulkan 96 poin di puncak klasemen. Sementara itu Schumacher yang baru berpartisipasi pada seri balapan ke-11 di Belgia, selesai di peringkat ke-14 dengan perolehan empat poin.

Debut Schumacher di F1 cukup mengejutkan. Dari enam balapan yang ia jalani di pengujung musim 1991, ia meraih empat poin dengan tiga balapan di antaranya gagal finis. Schumacher juga pernah mendapatkan raihan terbaik posisi kelima di GP Italia – mengalahkan rekan setimnya kala itu yang seorang juara dunia, Nelson Piquet.

Itu adalah tanda-tanda Schumacher punya cukup bakat untuk meraih prestasi tertinggi di ajang balap jet darat tersebut.

Terbukti, musim berikutnya Schumacher mengalahkan peringkat Senna. Schumacher yang berada di peringkat ketiga dalam klasemen F1 musim 1992, unggul tiga poin dari Senna yang berada satu peringkat di bawahnya.

Di masa-masa ini, Senna sendiri sempat mencurigai Schumacher curang bahwa mobil yang dikemudikannya melanggar peraturan. Pebalap asal Brasil itu tak segan untuk mengungkapkan hal ini di depan media.

F1 musim 1993, Senna kembali menyusul Schumacher dalam peringkat klasemen. Performa Senna membaik dan berakhir di peringkat kedua di akhir musim dengan perolehan 73 poin, terpaut 26 poin dari pebalap Williams-Renault, Alain Prost, yang jadi juara dunia musim tersebut. Sementara itu, Schumacher berada di peringkat keempat dengan perolehan 52 poin.

Tiada yang menyangka bahwa musim selanjutnya pada 1994 menjadi pertarungan terakhir antara Schumacher melawan Senna.

Senna tewas karena kecelakaan ketika memimpin di putaran keenam di Sirkuit Imola pada 1 Mei 1994. Schumacher tepat berada di belakang Senna saat musibah tersebut terjadi dan langsung mengurangi kecepatan dan menghindari puing-puing kendaraan Senna yang terlempar hingga ke dalam lintasan.

Kecelakaan yang merenggut nyawa Senna di seri ketiga musim 1994 itu membuka peluang Schumacher untuk merebut gelar juara dunia pertama. Dari tujuh balapan pertama, Schumacher menang enam kali dan satu kali menduduki podium dua. Hasil itu cukup untuk mendorongnya untuk duduk di puncak klasemen mengantongi 92 poin di akhir musim – hanya berselisih satu poin dari Damon Hill di tempat kedua.

Schumacher kemudian mendedikasikan gelar pertamanya itu untuk Senna.

Enam tahun berlalu sejak meninggalnya Senna, dan Schumacher masih belum dapat melupakan kejadian yang menimpa rivalnya tersebut. Kejadian tersebut meninggalkan emosi yang mendalam bagi Schumacher.

Puncaknya, Schumacher -- yang menjadi pebalap terbaik usai kepergian Senna -- tak mampu membendung tangis ketika ia memecahkan rekor catatan kemenangan Senna sebanyak 41 kali, pada 2000. Catatan kemenangan Grand Prix sepanjang masa tersebut hingga kini masih dipegang Schumacher yakni 91 kemenangan.

Schumacher pun masih sampai sekarang masih menjadi pebalap terbaik di sepanjang masa. Selama hampir 21 tahun balapan di ajang F1, pebalap yang kini berusia 48 tahun tersebut mengoleksi tujuh gelar juara dunia. Sebuah rekor gelar juara dunia terbanyak yang belum dikalahkan pebalap manapun. (vws)