Schumacher, Tuan yang Tak Bisa Dihentikan Hujan

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Selasa, 03/01/2017 12:04 WIB
Schumacher, Tuan yang Tak Bisa Dihentikan Hujan Keahlian Michael Schumacher dalam menangani lintasan balap membuat media Jerman menganugrahinya julukan Regenkönig (Raja Lintasan Basah). (AFP PHOTO/Mark RALSTON)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kehebatan Michael Schumacher dalam mengendalikan mobil berkecepatan tinggi tak hanya terlihat deretan kemenangan, tapi juga kelihaian memacu mobil hingga ke batas maksimal di bermacam kondisi lintasan.

Salah satunya adalah mendominasi balapan di lintasan basah.

Penulis kawakan di arena balapan, Christopher Hilton, berpendapat bahwa kehebatan seorang pebalap di lintasan ditentukan ketika pebalap tersebut berhadapan dengan hujan. Sebab, pada kondisi itulah pebalap butuh kemampuan mengendalikan mobil dengan sangat baik dan harus memiliki rasa kepekaan tinggi terhadap kondisi lintasan.


Kemampuan Schumacher dalam menjajal lintasan basah dapat dikatakan di atas rata-rata. Dilansir dari buku Hilton berjudul The Greatest of All (2003), dari awal kariernya hingga akhir musim 2003, pebalap yang pada Selasa (3/1) ini genap 48 tahun, memenangi 17 dari 30 balapan lintasan basah yang dilakoninya.

Keahliannya dalam menangani lintasan balap pun membuat media Jerman menganugrahinya julukan Regenkönig (Raja Lintasan Basah) atau Regenmeister (Tuan Lintasan Basah). Julukan itu pun kemudian mendunia seiring dengan semakin suksesnya Schumacher dalam menaklukkan Formula 1.

Pembuktian diri di lintasan basah dan berakhir sukses terjadi pada musim kedua Schumacher di F1. Tepatnya pada GP Belgia pada 1992. Schumacher yang pada saat itu balapan untuk tim Benetton-Ford berhasil menyabet kemenangan pertama dalam karier di F1 di Sirkuit Spa-Francorchamps.

Schumacher tak hanya jadi pemenang di Belgia, tapi juga mencatat waktu tercepat dalam satu putaran yakni satu menit dan 53,791 detik pada putaran ke-39. Di musim tersebut, Schumi berakhir di peringkat ketiga dengan perolehan 53 poin, terpaut 55 poin dari pebalap William-Renault, Nigel Mansell.

Setelah bersinar di tim Benetton-Ford selama empat tahun dengan koleksi dua gelar juara dunia, Schumacher pindah ke Ferrari pada 1996. Tim yang kemudian semakin membesarkan namanya hingga sekarang.

Kemenangan Schumacher di tim Ferrari pun ia raih ketika menjajal lintasan basah dalam Grand Prix Spanyol 1996 di Sirkuit Katalonia. Dalam kondisi lintasan basah, Schumacher secara konsisten melahap putaran-putaran di sirkuit tersebut dengan catatan waktu lima detik lebih cepat dari kualifikasi.

Sama seperti pada saat di Belgia empat tahun sebelumnya, selain berhasil naik podium pertama Schumacher juga mencatat waktu terbaik di GP Spanyol 1992 dengan catatan satu menit dan 45,517 detik pada putaran ke-14. (jun/vws)