Putra Permata Tegar Idaman
Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia

Kevin/Marcus dan Standar Ganda Kesombongan

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Jumat, 26/05/2017 19:55 WIB
Kevin/Marcus dan Standar Ganda Kesombongan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon memiliki peluang besar untuk membawa Indonesia unggul 3-0. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia nyaris menciptakan momen keajaiban ketika unggul 2-0 dan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon mendapatkan match point di gim kedua saat menghadapi Mathias Boe/Carsten Mogensen pada pertandingan kedua babak grup Piala Sudirman, Rabu (24/5).

Namun kemudian semuanya sirna dan Indonesia terhenti di babak penyisihan grup Piala Sudirman. Sebenarnya, Kevin/Marcus sudah menutup gim pertama dengan skor 21-16 dan memimpin 20-18 di gim kedua. Tapi, gim kedua lepas dari genggaman mereka dan akhirnya Kevin/Marcus kalah 22-24.

Di gim ketiga, pertarungan ketat kembali terjadi. Di saat akhir, Kevin/Marcus kalah 21-23 lewat pertarungan sengit dan ketat.


Kekalahan Kevin/Marcus membatalkan ambisi Indonesia untuk unggul 3-0. Meski akhirnya Indonesia menang 3-2 atas Denmark, namun hal itu tak cukup untuk membawa skuat Merah-Putih lolos ke babak perempat final.

Dari ragam kekecewaan yang beredar setelah pertandingan berakhir, salah satu komentar yang sering terlihat adalah Kevin/Marcus dinilai terlalu percaya diri, sombong dan meremehkan lawan sehingga mereka gagal mengambil kemenangan di depan mata. Benarkah demikian?

Boe/Mogensen bukanlah pasangan di luar 50 besar dunia dari negara antah-berantah di dunia bulu tangkis. Mereka adalah ganda putra nomor dua dunia, tepat di bawah Kevin/Marcus, yang berasal dari negara yang kuat tradisi bulutangkisnya, Denmark.

Kevin/Marcus pun kalah di pertemuan terakhir lawan Boe/Mogensen di Singapura Super Series.

Melihat fakta-fakta demikian pun, rasanya tak ada alasan yang kuat bagi Kevin/Marcus untuk meremehkan lawan.

Lalu mengapa Kevin/Marcus terlihat sering melakukan provokasi, menampilkan sikap arogan dan provokatif di lapangan sepanjang duel?

Itu semata-mata untuk menekan lawan. Itu gaya Kevin/Marcus untuk memadamkan semangat juang lawan sehingga peluang meraih kemenangan bisa semakin besar.

Bila banyak yang tak setuju dengan gaya Kevin/Marcus di lapangan, mengapa hal itu tak ramai terdengar saat mereka memenangkan All England?

Kevin/Marcus ketika itu juga bertarung sengit dan penuh aksi provokatif saat menghadapi Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding dan Li Junhui/Liu Yuchen.

Namun, yang terjadi kemudian banyak komentar bernada positif lantaran Kevin/Marcus dinilai bermain penuh semangat. Bisa memainkan emosi lawan, dan tak gentar menghadapi siapapun.

Perbedaannya jelas, ketika itu Kevin/Marcus menang dan saat ini kalah. Menang dan kalah.

Contoh terbaik untuk perbedaan gaya main bulu tangkis di lapangan adalah Hendra Setiawan.

Hendra di lapangan terkenal sangat pendiam, jarang berekspresi, jarang berteriak, dan lebih sering tenang baik saat memimpin maupun tertinggal.

Hendra lalu dilabeli sebagai salah satu pembunuh berdarah dingin di dunia bulutangkis lantaran ketenangannya tersebut. Tanpa banyak ekspresi, Hendra mampu menumbangkan lawan-lawannya.

Namun apa yang terjadi pada pemain-pemain lain yang juga cenderung pendiam dan tak reaktif di lapangan?

Tanpa menyebut nama - banyak pemain Indonesia yang terbilang pendiam di lapangan - kemudian dicap kurang bersemangat, tak bertenaga, tak punya kemauan keras, ketika mereka mengalami kekalahan.

Perbedaan perlakuan pada Hendra dan pemain pendiam lainnya adalah tentang kekalahan dan kemenangan, meskipun mereka sama-sama pendiam.

Sebelum kalah dari Boe/Mogensen di Singapura, Kevin/Marcus sendiri sudah menyatakan bahwa mereka tetap tak akan menganggap remeh ganda-ganda senior penuh pengalaman yang ada di atas mereka. Tingkat kewaspadaan Kevin/Marcus pun makin meningkat setelah mereka takluk dari Boe/Mogensen di Singapura.

Itulah mengapa Kevin/Marcus terlihat begitu kesal karena mereka gagal menyelesaikan pertandingan saat unggul 20-18 di gim kedua. Kevin mungkin terlalu ambil risiko dengan melakukan flick serve di gim penentuan saat mereka mendapatkan match point. Namun, tak tepat rasanya menganggap Kevin/Marcus meremehkan lawan hanya karena melihat gerak tubuh mereka dalam beberapa momen di pertandingan tersebut.

Gaya Kevin/Marcus memang seperti itu di lapangan dan jadi terlihat salah lantaran kali ini mereka kalah. Seperti halnya para pemain pendiam yang kemudian dinilai tak bersemangat ketika tumbang.

"Kalau menang, ngomong apa saja atau ngapain saja juga enak Mas," ucap Sony Dwi Kuncoro beberapa tahun lalu usai menang di Indonesia Terbuka.

Perkataan Sony jelas menggambarkan semuanya!
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS