Kapten Semen Padang Menangis Dengar Kabar Choirul Huda

Titi Fajriyah, CNN Indonesia | Selasa, 17/10/2017 12:36 WIB
Hengki Ardiles salah satu pemain Semen Padang yang berbicara dengan Choirul Huda sebelum kiper Persela Lamongan itu meninggal dunia, Minggu (15/10). Kapten Semen Padang Hengki Ardiles menyesal tidak bisa melihat jenazah Choirul Huda. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kapten Semen Padang Hengki Ardiles menyesal tidak sempat melihat mendiang Choirul Huda untuk kali terakhir usai pertandingan melawan Persela Lamongan di Stadion Surajaya, Minggu (15/10).

Hengki merupakan salah satu pemain Semen Padang yang sempat berbincang dengan Choirul sebelum pertandingan melawan Persela. Dalam perbincangan singkat di lorong stadion itu, Hengki bertegur sapa dengan Choirul karena sudah lama tidak bertemu kiper veteran tersebut.

"Kami sudah enggak ketemu lama, ya di lorong itu kami saling sapa, salaman. Ada rasa kangen sebagai abang dengan Huda. Sempat tanya kabar juga," kata Hengki kepada CNNIndonesia.com.


Hengki merasa tidak ada yang berbeda dalam obrolan singkatnya dengan Choirul. Namun, bek 36 tahun itu menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Choirul setelah mendengar kabar kiper veteran itu meninggal.
Choirul Huda sebelum pertandingan Persela Lamongan melawan Semen Padang.Choirul Huda sebelum pertandingan Persela Lamongan melawan Semen Padang. (ANTARA FOTO/Rahbani Syahputra)
“Setelah saya review lagi, saya merasa aura wajahnya beda dari sebelumnya waktu di lorong itu. Ini mukanya putih enggak kaya yang biasanya," ungkap Hengki.

Saat insiden Choirul bertabrakan dengan Ramon Rodrigues, Hengki mengaku takut dan trauma melihat temannya itu jatuh. Meski melihat kondisi Choirul yang mengerang kesakitan, Hengki awalnya berharap hanya benturan biasa yang sering terjadi di pertandingan sepak bola.
Jenazah Choirul Huda ketika disalatkan di Masjid Agung Lamongan.Jenazah Choirul Huda ketika disalatkan di Masjid Agung Lamongan. (ANTARA FOTO/Rahbani Syahputra)
"Ternyata habis pertandingan saya dikasih kabar kalau Huda sudah meninggal. Saya langsung menangis. Saat konferensi pers dengan media awalnya saya mau mengucapkan belasungkawa, tapi media officer (Persela) bilang kalau Huda belum meninggal, masih kritis kondisinya,” ujar Hengki.

"Saya jadi bingung karena kabarnya beda. Jadi saya putuskan untuk tidak mengucapkan belasungkawa dulu takut salah," sambungnya.

Selain tidak sempat memberikan ucapan belasungkawa di hadapan para pemain Persela, yang lebih membuat Hengki menyesal adalah tidak sempat melihat Choirul untuk kali terakhir sebelum jenazahnya dikubur.

“Tim menginap di Surabaya. Perjalanannya cukup jauh dari Lamongan. Terakhir saya dapat kabar juga kalau almarhum mau langsung dimakamkan malam itu. Jadi saya sangat menyesal tidak bisa ketemu untuk terakhir kali," terang Choirul.