Gede Widiade Hampir Menyerah Angkat Pamor Persija
Arby Rahmat | CNN Indonesia
Kamis, 21 Des 2017 00:35 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Utama Persija Jakarta, Gede Widiade, mengaku pernah hampir menyerah saat berupaya mengangkat kembali pamor Persija. Sebagai orang baru di manajemen klub, ia dihadapkan dengan berbagai persoalan pelik.
Gede baru masuk ke dalam manajemen Persija mulai 2017 lalu. Kali pertama kali menjabat, ia belum mendapat kepercayaan dari publik Jakarta. Bekal pengalaman mengelola klub dan kejujuran belum cukup untuk mengangkat tim ibu kota.
“Harus ada otak (strategi), manajerial skill, dan keberuntungan. Tapi, kalau tak mengalahkan tekanan politik, sulit sekali,” kata Gede dalam gelaran diskusi di Plaza City View, Jakarta, Rabu (20/12) malam.
“Saya hampir menyerah kemarin. Tapi karena saya ‘panglima perang’, saya tak mau salahkan siapa-siapa. Yang menolong saya satu: Jakmania, membuat saya bertahan dan melanjutkan pegang Persija. ” katanya menambahkan.
Meski Persija punya nama besar, namun pengusaha properti itu kaget bahwa strategi bisnis manajemen klub Ibu Kota ternyata belum matang. Di sisi lain, Persija harus lari kencang untuk mengejar ketinggalan.
“Persija tidak punya lapangan latihan, tidak punya home base, mes pemain, utang banyak, tidak punya aset. Tapi ada satu yang luar biasa: suporter Persija [The Jakmania],” ujar mantan pemilik Surabaya United itu.
“Saya hitung lagi [peluang pengembangan bisnis Persija] di rumah. Hitung lagi, dan ternyata seluruh kesulitan tadi kalau didoain sama Jakmania bisa baik dampaknya. Saya petakan dan yakin Persija tidak akan mati kalau didukung Jakmania dan media,” ucapnya melanjutkan.
Pada akhirnya, Gede menyadari ada tiga hal yang dibutuhkan untuk mengelola sepak bola. Pertama, lanjut dia, kemampuan manajerial yang bagus.
“Jangan harap sukses kalau tak punya skill manajer yang hubungannya banyak dengan elite politik, bank, dan lain-lain. Kedua, harus punya dana yang memang bukan dana kebutuhan hidup. Ketiga, keberuntungan,” paparnya.
Di tangan Gede, prestasi Persija di level kompetisi memang menanjak. Musim lalu, tim kebanggaan The Jakmania finis di posisi keempat di bawah Bhayangkara FC, Bali United, dan PSM Makassar.
Musim depan, Persija juga bakal tampil di AFC Cup karena tim juara Bhayangkara FC belum mengantongi lisensi klub dari AFC. (jun)
Gede baru masuk ke dalam manajemen Persija mulai 2017 lalu. Kali pertama kali menjabat, ia belum mendapat kepercayaan dari publik Jakarta. Bekal pengalaman mengelola klub dan kejujuran belum cukup untuk mengangkat tim ibu kota.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama Persija Gede Widiade harus menjalin komunikasi dengan jajaran pemimpin Pemprov DKI Jakarta, termasuk Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah) |
Meski Persija punya nama besar, namun pengusaha properti itu kaget bahwa strategi bisnis manajemen klub Ibu Kota ternyata belum matang. Di sisi lain, Persija harus lari kencang untuk mengejar ketinggalan.
Gede Widiade juga lebih dulu menghadap Wakil Gubernur DKI periode lalu, Djarot Saifulah. (Dok. Persija Jakarta) |
Pada akhirnya, Gede menyadari ada tiga hal yang dibutuhkan untuk mengelola sepak bola. Pertama, lanjut dia, kemampuan manajerial yang bagus.
“Jangan harap sukses kalau tak punya skill manajer yang hubungannya banyak dengan elite politik, bank, dan lain-lain. Kedua, harus punya dana yang memang bukan dana kebutuhan hidup. Ketiga, keberuntungan,” paparnya.
Musim depan, Persija juga bakal tampil di AFC Cup karena tim juara Bhayangkara FC belum mengantongi lisensi klub dari AFC. (jun)
Direktur Utama Persija Gede Widiade harus menjalin komunikasi dengan jajaran pemimpin Pemprov DKI Jakarta, termasuk Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Gede Widiade juga lebih dulu menghadap Wakil Gubernur DKI periode lalu, Djarot Saifulah. (Dok. Persija Jakarta)