Analisis

Menelaah Terobosan BWF di 2018

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Selasa, 09/01/2018 18:59 WIB
Menelaah Terobosan BWF di 2018 Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon dan pemain papan atas lainnya wajib mengikuti 12 turnamen di kompetisi 2018. (Dok. Humas PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia -- BWF telah merilis sejumlah perubahan untuk musim kompetisi 2018. Ada sejumlah perubahan yang membuat publik mengernyitkan dahi.

BWF saat ini terus melakukan terobosan agar olahraga ini bisa masuk dalam jajaran olahraga populer di dunia. Tahun 2018 ini, BWF kembali mengeluarkan sejumlah terobosan.

Pertama, adalah pengkategorian baru pada kalender turnamen mereka. All England, Indonesia Terbuka, dan China Terbuka naik pangkat jadi tiga turnamen tertinggi dengan label Super 1000.


Di bawah kategori Super 1000, ada Super 750, Super 500, Super 300, dan Super 100. Nama-nama ini mengganti nama yang sudah familier seperti super series dan grand prix yang sudah familier selama 10 tahun terakhir.

Penamaan kali ini cenderung mengikuti tenis, yang mengkategorikan turnamen mereka dalam ATP 1000, ATP 500, dan ATP 250.

Kontroversi pertama yang muncul dari aturan BWF adalah kewajiban mengikuti 12 turnamen dalam setahun untuk 15 besar pemain tunggal dan 10 besar pemain ganda. Bahkan, BWF mengatur rincian kewajiban tersebut, yaitu tiga turnamen level 2, lima turnamen level 3, dan empat dari tujuh turnamen level 4.

Aturan ini dibuat BWF dengan tujuan agar turnamen-turnamen di bawah kalender mereka berjalan semarak karena terus diikuti oleh pemain-pemain top, termasuk untuk turnamen level 4.

Namun kewajiban ini memiliki efek negatif, terutama bagi pemain-pemain yang sudah berumur. Mereka tak lagi bisa mengatur nafas karena diwajibkan mengikuti 12 turnamen, belum termasuk turnamen lain macam Kejuaraan Dunia, Asian Games, ataupun kejuaraan beregu misal Piala Thomas/Uber dan Piala Sudirman.

Tahun lalu, Liliyana Natsir 'hanya' tampil di 10 turnamen. Namun hasilnya, Liliyana mampu jadi juara dunia. Hal ini tak lepas dari kejelian pelatih dan pemain untuk menentukan prioritas turnamen dan lebih memilih menghabiskan waktu untuk membentuk persiapan matang dibandingkan turun ke turnamen yang bukan jadi target utama.

Liliyana Natsir sukses jadi juara dunia 2017 bersama Tontowi Ahmad karena pengaturan turnamen yang selektif. Liliyana Natsir sukses jadi juara dunia 2017 bersama Tontowi Ahmad karena pengaturan turnamen yang selektif. (Foto: Dok. Humas PBSI)
Tahun lalu, turnamen wajib untuk pemain papan atas hanyalah lima turnamen premier super series. Tanpa kewajiban 12 turnamen, para pebulutangkis pun pasti akan mengikuti lebih dari lima turnamen tiap musimnya. Mereka juga tak ingin kehilangan ritme bermain, ranking, dan tentunya juga pundi-pundi dari segi materi.

Kewajiban 12 turnamen membuat atlet akan dipaksa memenuhi kuota tersebut dengan ancaman bayang-bayang denda. Frekuensi turnamen yang lebih sering juga akan meningkatkan risiko cedera.

Rencana Poin 5X11

BWF juga menerapkan regulasi baru yaitu servis harus dilakukan dengan ketinggian maksimal 1,15 meter dari permukaan lapangan. Penerapan batas angka pasti membuat penilaian tak lagi subjektif berdasarkan pengamatan service judge semata. Namun, peraturan ini akan menyulitkan pemain-pemain yang bertubuh tinggi.

Selain itu, salah satu rencana besar yang digodok BWF tahun ini adalah perubahan format pertandingan ke pola 5x11. Itu berarti para pebulutangkis hanya perlu merebut 11 poin untuk merebut satu gim dan harus merebut tiga gim secara keseluruhan untuk memenangkan pertandingan.

Harapan BWF, dengan format 5X11, tensi pertandingan akan panas sejak awal dan penonton sudah berada dalam 'suasana panas' begitu laga dimulai. Lewat format 11 angka, nyaris tak ada toleransi bagi para pemain untuk lengah di awal pertandingan.

Selain itu, BWF juga bisa berharap durasi laga yang lebih singkat dibandingkan permainan dengan format 3x21.

Andai perubahan format poin 5x11 benar-benar terlaksana, pemain senior macam Lin Dan jadi salah satu dari sedikit pemain bakal merasakan perubahan poin dari format 15 poin silam.Andai perubahan format poin 5x11 benar-benar terlaksana, pemain senior macam Lin Dan kembali merasakan perubahan format poin. (AFP PHOTO / STR)
Bila format 5x11 benar-benar diterapkan tahun ini, para pebulutangkis tiap negara harus berusaha menemukan cara main yang tepat pada format poin ini.

Kepastian perubahan format ke 5x11 juga harus dipikirkan BWF melalui pertimbangan matang karena format poin yang berubah tentunya merupakan sebuah titik sejarah, seperti halnya saat format 15 poin berubah menjadi format 21 poin lebih dari satu dekade lalu. (bac)