Kevin/Marcus dan Peta Kekuatan Ganda Putra Indonesia

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Rabu, 21/03/2018 07:23 WIB
Kevin/Marcus dan Peta Kekuatan Ganda Putra Indonesia Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon saat ini jadi ganda putra terkuat namun Indonesia tetap butuh andalan lainnya. (Reuters/Peter Cziborra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon berhasil mempertahankan gelar All England pada akhir pekan lalu. Mereka pun makin mengukuhkan diri sebagai ganda putra terbaik di dunia saat ini.

Tak hanya menjadi juara All England, Kevin/Marcus juga masuk final dalam sembilan turnamen terakhir dengan hasil tujuh titel juara. Dalam enam turnamen terakhir, Kevin/Marcus bahkan selalu berhasil jadi juara.

Di luar kehebatan Kevin/Marcus, publik berharap ada ganda putra Indonesia lainnya yang bisa berada di level yang sama dengan Kevin/Marcus. Dengan demikian, Indonesia tak hanya bertumpu pada Kevin/Marcus pada tiap turnamen yang dimainkan.


Tim pelatih ganda putra Indonesia sendiri sudah memiliki sejumlah pasangan yang didorong untuk bisa mengejar Kevin/Marcus, Berikut peta kekuatan ganda putra pelatnas saat ini:

Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto

Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto adalah pemain yang berada di generasi yang sama dengan Kevin Sanjaya. Saat ini mereka adalah pasangan paling ideal untuk disebut sebagai pendamping Kevin/Marcus sebagai andalan Indonesia.

Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto merupakan pemain seangkatan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon.Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto merupakan pemain seangkatan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon. (Foto: dok. PBSI)
Fajar/Rian tampil bagus di awal tahun ini dengan memenangi Malaysia Masters dan jadi runner up Jerman Terbuka. Namun di All England, Fajar/Rian kalah di babak pertama.

Untuk bisa jadi andalan, Fajar/Rian harus bisa tampil lebih konsisten. Mereka punya serangan yang bagus namun menilik performa di beberapa turnamen, defense mereka masih kurang rapat. Selain itu mereka juga masih sering melakukan blunder dan membuang poin.

Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan

Ganda ini adalah tulang punggung nomor ganda putra periode 2013-2016. Setelah berpisah pasca-Olimpiade, Ahsan/Hendra kembali reuni tahun ini.

Kelebihan ganda ini adalah jam terbang yang tinggi dan mental yang tangguh untuk menghadapi ajang-ajang besar macam Piala Thomas, Kejuaraan Dunia, dan Asian Games.

Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan masih bisa diharapkan untuk ajang jangka pendek seperti Piala Thomas dan Asian Games tahun ini.Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan masih bisa diharapkan untuk ajang jangka pendek seperti Piala Thomas dan Asian Games tahun ini. (Foto: Dok. Humas PBSI)
Kekurangannya, kecepatan Ahsan/Hendra tentu sudah berkurang tak lagi sedahsyat masa jayanya. Ahsan/Hendra harus bisa menemukan solusi untuk menutup menurunnya kecepatan mereka.

Kembali mengandalkan Ahsan/Hendra bisa jadi solusi singkat, setidaknya untuk tahun ini. Namun untuk musim 2019 dan 2020, hal tersebut masih butuh pembuktian.

Angga Pratama/Rian Agung

Angga Pratama/Rian Agung adalah duet yang sebelumnya pernah dipasangkan di awal karier mereka di pelatnas. Lantaran perkembangan Angga/Rian tak sesuai harapan, akhirnya duet ini dipecah pada tahun 2014 demi persiapan menuju Olimpiade 2016 saat itu.

Pada musim ini, Angga, Rian, Ahsan, dan Hendra sepertinya akan jadi pemain-pemain yang kombinasinya bakal terus dicoba oleh Herry IP demi mencari kombinasi ideal yang bisa diandalkan seperti Kevin/Marcus.

Berry Angriawan/Hardianto

Berry Angriawan/Hardianto saat ini bisa dibilang masih ada di lapisan kedua dalam struktur andalan ganda putra. Namun Berry/Hardianto kini punya keungggulan dari segi peringkat bila dibandingkan Ahsan/Hendra dan Angga/Rian yang kembali berjuang dari awal setelah kembali dipasangkan.

Berry Angriawan/Hardianto harus berusaha lebih keras untuk bisa diandalkan di turnamen yang levelnya lebih tinggi.Berry Angriawan/Hardianto harus berusaha lebih keras untuk bisa diandalkan di turnamen yang levelnya lebih tinggi. (Foto: Dok. PBSI)
Namun sebelum naik kelas ke lapis pertama, Berry/Hardianto harus bisa menunjukkan kualitasnya di turnamen yang mereka ikuti saat ini. Di awal tahun, Berry/Hardianto kurang mengkilap di Indonesia Masters dan Malaysia Masters.

Wahyu Nayaka/Ade Yusuf

Wahyu Nayaka/Ade Yusuf juga masih lebih sering bermain di level kedua dan masih kesulitan untuk berprestasi. Butuh lonjakan besar dari Wahyu/Ade untuk bisa menjelma jadi ganda putra papan atas dunia.

Posisi Wahyu/Ade mirip dengan Berry/Hardianto yang mengincar peluang untuk bisa jadi tumpuan Indonesia di ajang beregu macam Piala Thomas atau Asian Games. (jun)