Kevin/Marcus, Andai Olimpiade 2020 Berlangsung Saat Ini

, CNN Indonesia | Selasa, 20/03/2018 15:37 WIB
Kevin/Marcus, Andai Olimpiade 2020 Berlangsung Saat Ini Perjalanan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon untuk bisa jadi juara Olimpiade masih panjang. (AFP PHOTO / PAUL ELLIS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lagi-lagi Kevin Sanjaya. Lagi-lagi Marcus Fernaldi Gideon. Kedua pebulutangkis muda ini untuk ke sekian kalinya merebut perhatian meski 2018 ini belum genap menyelesaikan bulan ketiganya.

Keduanya berhasil memenangi laga sengit lawan Mathias Boe/Carsten Mogensen di final All England 2018. Dalam pertarungan selama 42 menit, Kevin/Marcus menang 21-18, 21-17.

All England tahun ini adalah gelar All England dalam dua tahun beruntun yang diraih oleh Kevin/Marcus. Minions sukses memecahkan kutukan juara bertahan All England yang berlangsung selama dua dekade terakhir.


Decak kagum pada Kevin/Marcus makin terasa wajar bila melihat rekor mereka musim ini yang belum terkalahkan dengan tiga trofi juara di tangan, yaitu Indonesia Masters, India Terbuka, dan All Engalnd.

Kekaguman itu bakal terasa jauh lebih besar bila mengetahui fakta bahwa Kevin/Marcus mampu masuk final dalam sembilan turnamen terakhir dengan koleksi tujuh gelar juara. Dalam enam final terakhir, Kevin/Marcus tak terkalahkan, mulai dari China, Hong Kong, Final Super Series, Indonesia Masters, India Terbuka, dan All England.

Kevin/Marcus hanya butuh waktu tiga bulan untuk membuktikan bahwa sensasi mereka di musim 2017 bukanlah sebuah kebetulan. Mereka telah menunjukkan indikasi untuk kembali mengulangi atau bahkan melebihi prestasi di 2017 saat mereka meraih tujuh gelar juara dalam satu musim.

Carsten Mogensen bahkan tanpa ragu mengakui bahwa Kevin/Marcus adalah ganda putra terbaik di dunia saat ini dan menilai hanya dirinya dan Boe yang paling bisa memberikan perlawanan sengit pada Minions.

Menilik rekor menang-kalah Kevin/Marcus sejak 2017, Boe/Mogensen jadi satu-satunya pemain yang bisa mengalahkan Kevin/Marcus lebih dari satu kali.

Kevin/Marcus jelas yang terhebat di nomor ganda putra saat ini. Titik.

------------------------------

Dalam perjalanan karier seorang pebulutangkis, medali emas Olimpiade adalah pencapaian terbesar yang diinginkan. Pada tataran turnamen sejak bulutangkis dipertandingkan di tahun 1992, juara Olimpiade mengukir namanya lebih dalam di lembaran sejarah, barulah setelah itu juara dunia, dan juara All England.

Kevin/Marcus juga begitu. Tanpa ragu keduanya mengatakan bahwa mimpi mereka adalah juara All England, juara dunia, dan juara Olimpiade. Juara All England sudah dipenuhi oleh Kevin/Marcus dan kini mereka tengah memburu mimpi jadi juara dunia dan Olimpiade.

Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon sukses memenangkan tiga gelar beruntun di awal 2018.Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon sukses memenangkan tiga gelar beruntun di awal 2018. (Foto: AFP PHOTO / Paul ELLIS)
Bila saja Olimpiade dilaksanakan pada hari ini, maka Kevin/Marcus jadi ganda putra dengan presentase menang jauh lebih besar dibandingkan ganda putra lainnya, mungkin hingga 70 persen. Kevin/Marcus telah membuktikan konsistensi mereka dari pertandingan ke pertandingan dengan berbagai macam tipe lawan.

Namun sayangnya, Olimpiade baru akan dilangsungkan dua tahun ke depan. Masih ada waktu yang panjang bagi Kevin/Marcus untuk mempertahankan status sebagai ganda putra terbaik di dunia.

Video-video Kevin/Marcus akan semakin dipelajari oleh tim-tim lawan, diulang-ulang, diperhatikan detail-detailnya, dan dicari kemungkinan-kemungkinan yang bisa jadi titik kelemahan.

Pelatih-pelatih negara lain akan meramu berbagai macam kemungkinan untuk bisa jadi penawar bagi kehebatan Kevin/Marcus.

Dalam nomor ganda, seorang pelatih akan punya ruang eksplorasi lebih luas dengan materi pemain yang ada. Bila kualitas pemain di nomor tunggal hanya bisa ditingkatkan dengan terus-menerus diberikan program latihan, maka dalam nomor ganda, sang pemain bisa mengalami peningkatan dengan mengganti pasangan.

Mengubah format pasangan ini yang kemungkinan bakal jadi salah satu cara yang dilakukan negara lain untuk menjinakkan keganasan Kevin/Marcus di lapangan.

Kevin/Marcus sendiri saat ini akan mulai terus disibukkan dengan rutinitas sebagai andalan dalam segala jenis turnamen di depan. Kevin/Marcus akan mengulangi jejak Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang terus menerus jadi andalan dari tahun ke tahun.

Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon mengalami lonjakan prestasi yang signifikan pada tahun 2017.Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon mengalami lonjakan prestasi yang signifikan pada tahun 2017. (Foto: dok. PBSI)
Ahsan/Hendra, meski tak sesuperior Kevin/Marcus di seri turnamen BWF, sukses menunjukkan konsistensi mereka di turnamen-turnamen besar yang mereka ikuti. Kejuaraan Dunia 2013, Asian Games 2014, dan Kejuaraan 2015 adalah turnamen besar yang mereka menangi.

Perjalanan spektakuler Ahsan/Hendra kemudian berujung anti-klimaks karena mereka terhenti di babak penyisihan grup pada Olimpiade 2016. Sebelum Olimpiade berlangsung, penampilan Ahsan/Hendra sudah mulai mengalami penurunan dan bisa diantisipasi lawan.

Meniru Ahsan/Hendra, Belajar dari Ahsan/Hendra

Kevin/Marcus jelas harus bisa meniru Ahsan/Hendra dalam fokus dan pola pikir menghadapi turnamen besar karena Ahsan/Hendra selalu berhasil di tiga kesempatan yang mereka dapatkan. Yang tidak boleh terulang, tentu saja kegagalan di OIimpiade.

Kevin/Marcus punya keuntungan dibanding Ahsan/Hendra dari segi usia karena Kevin baru berusia 24 tahun dan Marcus baru menginjak 29 tahun saat Olimpiade digelar pada 2020 mendatang.

Namun masih banyak hal lain yang harus dipersiapkan, mulai dari fisik, pengembangan pola permainan hingga yang terpenting adalah ketahanan mental untuk selalu jadi andalan.

Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon harus terbiasa untuk selalu diandalkan di tiap turnamen.Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon harus terbiasa untuk selalu diandalkan di tiap turnamen. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Dari segi fisik, Kevin/Marcus beberapa kali mengalami cedera dalam setahun ke belakang, mulai dari cedera bahu Kevin di Indonesia Terbuka, cedera Marcus usai Denmark Terbuka, hingga cedera tangan yang menimpa keduanya jelang All England berjalan. Penanganan cedera Kevin/Marcus harus dilakukan dengan maksimal agar tak menjadi cedera kambuhan.

Soal ketahanan mental, Kevin/Marcus jelas tidak boleh selalu dituntut untuk menang di tiap kejuaraan. Tanpa tuntutan, Kevin/Marcus sudah menyadari posisinya dan target yang sepantasnya mereka dapatkan. Bila Kevin/Marcus mengalami satu atau dua kegagalan, jadikan hal itu sebagai sebuah kewajaran demi sukses di turnamen besar yang lebih diutamakan.

Jalan menuju Olimpiade 2020 masih panjang. Tahun ini ada sejumlah turnamen besar yang bila dimenangkan akan menambah kepercayaan diri Kevin/Marcus, yaitu Kejuaraan Dunia dan Asian Games. Jika satu per satu gelar itu dimenangkan maka keyakinan bahwa Kevin/Marcus ada di jalan yang benar menuju Olimpiade 2020 akan semakin besar.

Keistimewaan Bersama Kevin/Marcus

Terlepas dari sukses-tidaknya Kevin/Marcus memenangkan Kejuaraan Dunia dan Asian Games tahun ini, ada satu hal yang tak boleh dilupakan Herry Iman Pierngadi dan Aryono Miranat sebagai pemegang kendali nomor ganda putra.

Mereka tidak boleh mengulangi kesalahan di periode sebelumnya saat Ahsan/Hendra berjaya tanpa kehadiran pendamping yang sepadan.

Tim pelatih ganda putra harus bisa mendorong secara bersamaan pemain-pemain lainnya untuk ada di level yang sama, atau setidaknya sedikit di bawah Kevin/Marcus.

Soal adanya pendamping Kevin/Marcus sebagai andalan, tentu bukan hanya tanggung jawab sang pelatih. Pemain-pemain lainnya juga bertanggung jawab untuk bisa memikul harapan tersebut.

Pemain-pemain pelatnas Cipayung seharusnya merasa punya keistimewaan karena bisa berlatih melawan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon setiap hari.Pemain-pemain pelatnas Cipayung seharusnya merasa punya keistimewaan karena bisa berlatih melawan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon setiap hari. (Foto: AFP PHOTO / MAHMOUD KHALED)
Saat pemain-pemain dunia lainnya hanya bisa menonton video rekaman Kevin/Marcus untuk coba meningkatkan kualitas permainan mereka, maka anak-anak pelatnas bisa merasakan pukulan Kevin/Marcus setiap hari. Mereka bisa menghadapi serangan dan pertahanan Kevin/Marcus di tiap latihan. Hal itu jelas merupakan sebuah keistimewaan yang nantinya bisa diaplikasikan di lapangan.

Andai Olimpiade 2020 berlangsung sekarang, maka Kevin/Marcus berpeluang besar menang. Namun, karena jalan menuju Olimpiade 2020 masih panjang, maka Kevin/Marcus, Herry IP dan Aryono, serta pemain ganda putra lainnya tentu harus bersiap dari sekarang. (ptr)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS