Putra Permata Tegar Idaman
Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia

Sungguh, Doraemon Tak Bantu Jepang di Piala Thomas-Uber 2018

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Senin, 28/05/2018 20:31 WIB
Sungguh, Doraemon Tak Bantu Jepang di Piala Thomas-Uber 2018 Tim Jepang berhasil jadi tim tersukses di gelaran Piala Thomas-Uber 2018. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jepang jadi tim tersukses di Piala Thomas-Uber 2018. Mereka merebut Piala Uber dan jadi runner-up Piala Thomas. Namun percayalah, tak ada bantuan Doraemon di balik sukses Jepang.

Sebagai negara yang identik dengan bulutangkis, masyarakat awam Indonesia mungkin akan bingung saat melihat keberhasilan Jepang di Piala Thomas-Uber 2018. Tim Putri Jepang mampu merebut Piala Uber setelah kali terakhir mereka melakukannya pada 1981.

Musuh Indonesia bukan lagi China, dan memang begitulah adanya. Jepang muncul sebagai kekuatan besar, diiringi sejumlah negara-negara lainnya yang membuat Indonesia makin terlihat mengejar dengan kepayahan.


Bila keberhasilan Jepang meraih juara Piala Thomas 2014 masih bisa diperdebatkan sebagai sebuah keberuntungan, kejutan, ataupun keajaiban, maka sukses Jepang meraih Piala Uber 2018 adalah sebuah kewajaran.

Jepang tengah bertabur bintang dan mereka layak jadi pemenang. Justru label kejutan bakal disematkan bila bukan Jepang yang jadi pemenang.

Nozomi Okuhara adalah juara dunia junior yang juga telah sukses jadi juara dunia di level senior,Nozomi Okuhara adalah juara dunia junior yang juga telah sukses jadi juara dunia di level senior. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jepang di Piala Uber 2018 adalah tim dengan kekuatan yang paling merata dan paling dalam dibandingkan negara-negara lainnya.

Di nomor tunggal putri, mereka punya pebulutangkis nomor dua dunia Akane Yamaguchi dan juara dunia 2017 Nozomi Okuhara. Dua tunggal lainnya, Sayaka Sato dan Sayaka Takahashi juga ada di posisi 20 besar.

Pada nomor ganda Jepang punya empat pasang ganda putri yang ada di posisi 10 besar dan salah satu ganda mereka adalah Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo yang merupakan juara Olimpiade 2016.

Kembali ke 2012, Park Joo-bong, Kepala Pelatih Jepang sempat menyatakan Asosiasi Bulutangkis Jepang tengah fokus menyiapkan generasi muda agar bisa mendobrak persaingan di level dunia.

Dengan banyaknya pemain yang masih berusia muda, Jepang punya peluang besar untuk mempertahankan dominasi dua tahun mendatang.Dengan banyaknya pemain yang masih berusia muda, Jepang punya peluang besar untuk mempertahankan dominasi dua tahun mendatang. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Generasi itulah yang kemudian diisi oleh nama-nama seperti Nozomi dan Akane di tunggal putri serta Kento Momota di tunggal putra.

Setelah generasi tersebut menjadi berprestasi di level junior, Asosiasi Bulutangkis Jepang mampu menjaga ritme dengan baik sehingga Nozomi dan kawan-kawan bisa cepat melejit di level senior.

Selain menunggu kematangan pemain muda, Jepang juga sudah lebih dulu bergerak dengan pemain-pemain yang ada di atas usia mereka. Usai meraih Piala Thomas 2014, Jepang akhirnya mampu meraih medali emas pertama dari cabang bulutangkis pada ajang Olimpiade.

Hari Penuh Harapan yang Tak Jadi Datang

Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan berusaha saling menguatkan. Mereka kemudian menuju net untuk bersalaman dengan Li Junhui/Liu Yuchen yang baru saja memberikan kemenangan untuk China. Indonesia terhenti di semifinal Piala Thomas dan dua tahun ke depan, genap 20 tahun Indonesia kali terakhir mengangkat Piala Thomas.

Dua tahun lalu Indonesia juga mengecap rasa pahit. Skuat Merah-Putih kalah dari Denmark dengan skor 2-3 di partai final. Namun di balik kepahitan itu ada harapan. Bahwa Indonesia punya materi tim yang masih muda. Bahwa Indonesia dua tahun ke depan akan jadi tim yang paling berbahaya.

Dua tahun lalu Tim Uber Jepang kalah di semifinal. Saat itu Nozomi dan Akane juga dinilai belum terlalu matang, namun menyimpan potensi besar untuk jadi kekuatan Jepang di dua tahun yang akan datang.

Perkembangan Jonatan Christie belum sesuai harapan karena ia masih belum konsisten.Perkembangan Jonatan Christie belum sesuai harapan karena ia masih belum konsisten. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Dua tahun berselang dari 2016, skuat Indonesia datang kembali. Anthony, Jonatan, Ihsan telah mendapatkan tambahan jam terbang, pun begitu halnya dengan Nozomi dan Akane di tim Jepang.

Bedanya Nozomi dan Akane makin melesat dan sudah jadi pemain papan atas di nomor tunggal putri, sedangkan Anthony, Jonatan, dan Ihsan masih berusaha keras untuk masuk zona 10 besar.

Secara kualitas di lapangan Anthony, Jonatan, dan Ihsan sudah bisa merepotkan dan bahkan mengalahkan pemain-pemain papan atas mulai dari Chen Long hingga Lin Dan. Namun hal itu tak serta-merta membuat mereka bisa nyaman di 10 besar.

Kesulitan mereka menembus dan bertahan di 10 besar tak lepas dari inkonsistensi permainan. Di level terbaik, pemain-pemain muda Indonesia bisa menyulitkan pemain manapun, namun di hari berikutnya mereka terkadang kehilangan momentum baik yang sejatinya sudah ada dalam genggaman.

Kesulitan Anthony Ginting dan kawan-kawan masuk zona 10 besar BWF menunjukkan perkembangan mereka tak berjalan lancar dan sesuai harapan dua tahun silam. Justru Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon yang melesat dalam dua tahun terakhir. Padahal, di Piala Thomas 2016, Kevin/Marcus masih jadi ganda ketiga yang tak banyak dibicarakan dan diandalkan.

Akhirnya hari penuh harapan yang dikumandangkan dua tahun lalu tak jadi datang. Tunggal Indonesia datang ke Piala Thomas 2018 tidak pada kondisi yang dibayangkan dua tahun lalu. Mereka masih kurang 1-2 langkah menuju kondisi ideal yang ada dalam pemikiran dua tahun silam.

Anthony Ginting dan kawan-kawan sejatinya punya kualitas yang bisa merepotkan pemain-pemain papan atas dunia.Anthony Ginting dan kawan-kawan sejatinya punya kualitas yang bisa merepotkan pemain-pemain papan atas dunia. (Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Hari penuh harapan benar-benar datang untuk Tim Uber Jepang. Itu karena mereka benar-benar mengalami lonjakan seperti yang dibayangkan. Kejutan bahkan akan lebih manis andai saja Tim putra Jepang bisa memenangkan Piala Thomas.

Beberapa tahun lalu Indonesia dan Jepang melakukan hal yang sama, yaitu mendorong pemain-pemain muda untuk langsung dijadikan andalan. Namun pada titik saat ini, langkah Jepang terlihat lebih jauh dibandingkan jejak yang ditorehkan Indonesia.

Dua tahun ke depan, tak ada lagi istilah pemain muda untuk deretan pemain-pemain Indonesia. Jonatan Christie (kelahiran 1997), Anthony Ginting (1996), Ihsan Maulana Mustofa (1995), Firman Abdul Kholik (1997), Kevin Sanjaya (1996), Muhammad Rian Ardianto (1996), Fajar Alfian (1995) sudah ada di usia emas. Mereka harus bisa menjawab harapan penggemar bulutangkis Indonesia untuk memiliki generasi emas yang membuat tim Merah Putih kembali perkasa di Piala Thomas.

Tim putra Indonesia harus terhenti di babak semifinal pada Piala Thomas 2018.Tim putra Indonesia harus terhenti di babak semifinal pada Piala Thomas 2018. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Tim Bulutangkis Indonesia harus menyadari tak ada hal instan di balik kesuksesan ataupun memilih selalu bertumpu pada keajaiban, seperti halnya kisah fiktif Doraemon yang mewujudkan segala mimpi Nobita jadi nyata.

Jepang menang karena perencanaan dan pelaksanaan mereka berjalan dengan tepat sasaran. Indonesia sudah memiliki dasar fondasi yang kuat di awal perjalanan, namun kemudian limbung di tengah jalan. Untuk bisa kembali berlari memenuhi harapan, maka pemain, pelatih, dan pengurus PBSI harus menyadari satu hal, mereka punya tanggung jawab yang sama dan harus siap berbagi beban.
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS


BACA JUGA