FOTO: Aksi Pussy Riot Cari Perhatian di Piala Dunia 2018

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 14:57 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Band punk-rock Rusia, Pussy Riot, cari perhatian dengan menyusup ke laga final Piala Dunia 2018 antara Kroasia melawan Prancis di Stadion Luznhiki Moskow.

Salah satu personel Pussy Riot yang ikut menyusup ke lapangan di laga final Piala Dunia 2018 Minggu (15/7), Olga Pakhtusova, digelandang polisi ke gedung pengadilan Rusia. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Personel band Pussy Riot, Pyotr Verzilov, yang juga menyusup ke lapangan di final Piala Dunia 2018, tampak rileks saat menuju ke ruang pengadilan Rusia. Total ada empat personel yang menyusup dan dipenjara selama 15 hari. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Anggota Pussy Riot, Olga Pakhtusova (kiri) dan Olga Kurachyova, hadir dalam persidangan di Rusia. Band punk-rock asal Rusia itu dikenal paling vokal atas isu-isu feminisme dan kaum marginal. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Pyotr Verzilov mengakui bertanggung jawab atas aksi menerobos laga final Piala Dunia 2018 pada persidangan di Moskow. Ini bukan kali pertama para personel band Pussy Riot melakukan aksi mereka. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Anggota Pussy Riot, Olga Kurachyova yang sempat bertemu dan 'tos' dengan penyerang Prancis, Kylian Mbappe di final Piala Dunia 2018. Pussy Riot dikenal sebagai band punk yang anti pemerintah Rusia. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Olga Kurachyova di ruang persidangan. Pussy Riot juga pernah melakukan aksi protes pada gelaran Olimpiade Musim Dingin 2014 di Sochi sehingga digelandang ke penjara. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Anggota band Pussy Riot Veronika Nikulshina yang juga ikut menyusup ke laga final Piala Dunia 2018. Ia juga dipenjara selama 15 hari. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Veronika Nikulshina tak menyesal melakukan aksi penerobosan ke final Piala Dunia 2018. Ia pernah dipenjara karena melakukan protes terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Empat anggota band Pussy Riot yang melakikan aksi cari perhatian di final Piala Dunia 2018. Mereka dikenal di Rusia kerap beraksi untuk memprotes kebijakan yang dianggap 'maskulin'. (REUTERS/Sergei Karpukhin)