Analisis

Timnas Indonesia U-23 Bisa Tiru Prancis di Asian Games 2018

Jun Mahares, CNN Indonesia | Kamis, 02/08/2018 07:03 WIB
Timnas Indonesia U-23 Bisa Tiru Prancis di Asian Games 2018 Timnas Indonesia U-23 bisa meniru kesuksesan Prancis yang berhasil menjuarai Piala Dunia 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bukan rahasia lagi bahwa skuat Timnas Indonesia U-23 kekurangan bomber mumpuni jelang Asian Games 2018. Namun, pasukan Garuda Muda masih punya kans tampil tajam jika mampu meniru kesuksesan timnas Prancis di Piala Dunia 2018.

Ya, Prancis berhasil menyabet gelar juara meski tanpa keberadaan striker yang mumpuni. Olivier Giroud, yang diplot sebagai penyerang utama tak sanggup mencetak gol di sepanjang gelaran.

Jika mengacu pada statistik, maka penampilan Giroud sebagai striker jauh dari kata spesial. Selain nihil mencetak gol, penyerang Chelsea itu hanya sekali melesakkan tendangan mengarah ke gawang. Catatan yang benar-benar 'miskin' bagi seorang bomber yang rutin dimainkan sejak menit awal.


Namun, pelatih Didier Deschamps punya pandangan berbeda. Giroud dinilai tampil cemerlang sesuai dengan strategi yang diusung sejak awal. Mantan pemain Arsenal ini berfungsi sebagai pemantul bola untuk rekan-rekannya sekaligus perusak konsentrasi bek lawan.

Olivier Giroud tak mampu menyumbang gol namun berhasil mengantar Prancis juara Piala Dunia 2018.Olivier Giroud tak mampu menyumbang gol namun berhasil mengantar Prancis juara Piala Dunia 2018. (REUTERS/Carlos Garcia Rawlins)
Peran yang dimainkan Giroud justru membuat dua penyerang sayap, Kylian Mbappe dan Antoine Griezmann, punya keleluasaan untuk merangsek ke jantung pertahanan lawan. Buktinya, Mbappe dan Griezmann sama-sama mengemas empat gol di Rusia.

Kualitas pemain Prancis memang tak bisa disejajarkan dengan para personel skuat Garuda. Tapi, tak ada salahnya meniru strategi bermain tim juara dunia yang mampu meminimalisir kekurangan.

Pelatih Luis Milla masih memiliki striker sarat pengalaman seperti Alberto Goncalves. Namun, striker berusia 37 tahun itu belum pernah mencetak gol sejak melakoni debutnya menyokong Timnas Indonesia U-23 mulai 1 Juni 2018.

Septian David Maulana menjadi top skor Timnas Indonesia U-23.Septian David Maulana menjadi top skor Timnas Indonesia U-23. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Produksi gol Timnas Indonesia U-23 di bawah arahan Luis Milla lebih banyak diciptakan para gelandang. Septian David Maulana menjadi top skor sementara dengan koleksi tujuh gol di mana setengahnya ditorehkan pada laga persahabatan.

Para pemain sayap Indonesia seperti Saddil Ramdani, Febri Hariyadi, dan Osvaldo Haay juga rajin mencetak gol. Sejauh ini Saddil sudah mengemas tiga gol, sementara Febri dan Osvaldo masing-masing mencatat dua gol.

Para pemain seperti Septian David dan Febri inilah yang bisa diandalkan untuk memecah kebuntuan ketika barisan depan sedang terisolasi atau kesulitan mendulang gol.

Kecepatan Febri Hariyadi bisa diandalkan untuk memecah kebuntuan.Kecepatan Febri Hariyadi bisa diandalkan untuk memecah kebuntuan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Selain itu, kehadiran Stefano Lilipaly juga bisa jadi alternatif mencetak gol dari lini kedua. Apalagi kini pemain keturunan Belanda itu tercatat sebagai gelandang serang paling produktif di Liga 1 2018 dengan koleksi 10 gol.

Lilipaly juga berhasil menyumbang satu gol saat Timnas Indonesia U-23 berhasil mengalahkan Bali United 2-1 pada laga uji coba yang digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Selasa (31/7). Satu gol Indonesia lainnya dicetak oleh pemain sayap Irfan Jaya.

Luis Milla tentu sadar akan kelebihan sekaligus kekuarangan pemainnya. Namun, ia tak boleh frustrasi menengok kinerja lini serang yang masih belum sempurna. Terlebih keinginan  mengandalkan Ezra Walian gagal karena tak mendapat izin dari klub RKC Waalwijk.

Stefano Lilipaly merupakan gelandang paling produktif cetak gol di Liga 1 2018.Stefano Lilipaly merupakan gelandang paling produktif cetak gol di Liga 1 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Indonesia bisa bermain atraktif mengandalkan potensi pemain sayap yang berlimpah. Selain ada Saddil dan Febri, Milla juga punya Irfan Jaya. Sementara di lini kedua, Septian David dan Lilipaly bisa menjadi pemecah kebuntuan dari lini kedua.

Berharap Finis Juara Grup

Kendati demikian, target Timnas Indonesia U-23 untuk lolos ke semifinal terbilang sulit. Mengingat persaingan di level Asian Games jauh lebih berat dari SEA Games, kejuaraan level Asia Tenggara yang sudah dua dekade terakhir tak mampu dimenangi skuat Garuda Muda.

Indonesia yang berstatus sebagai tuan rumah berada di Grup A bersama Hong Kong, Laos, Taiwan, dan Palestina. Komposisi tersebut membuat pasukan Luis Milla diunggulkan lolos fase grup.

Namun, langkah Hansamu Yama dan kawan-kawan terbilang berat di fase gugur. Terlebih jika hanya mampu finis sebagai runner-up di bawah Palestina. Sebab calon lawan yang dihadapi adalah juara Grup C yang berpotensi diraih China.

Sementara itu, peluang Indonesia lolos ke perempat final terbuka lebar jika finis sebagai juara Grup A. Dengan status juara grup, Indonesia berpeluang berhadapan dengan tim peringkat ketiga terbaik yang bisa berasal dari grup C,D, atau E.

Meski demikian, tak ada yang bisa menerka hasil akhir di sepak bola. Status sebagai tuan rumah tentu bisa jadi pelecut motivasi untuk meraih hasil terbaik seperti halnya Rusia yang mampu melangkah ke perempat final Piala Dunia 2018. (har)