Asian Games 2018

Velodrome untuk Asian Games Diklaim Terbaik di Asia Tenggara

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Selasa, 07/08/2018 10:46 WIB
Velodrome untuk Asian Games Diklaim Terbaik di Asia Tenggara Jakarta International Velodrome (JIV) diklaim jadi yang terbaik di Asia Tenggara. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jakarta International Velodrome (JIV) yang terletak di Rawamangun, Jakarta, diklaim jadi yang terbaik di Asia Tenggara dan siap digunakan pada Asian Games 2018.

Project Director JIV, Iwan Takwin, mengatakan pembangunan JIV memakan waktu dua tahun mulai dari persiapan, konstruksi, sampai selesai. Proyek arena balap sepeda berkapasitas hingga 5.000 penonton tersebut dimulai pada 2015.

Bila VNM dibuat untuk SEA Games Kuala Lumpur 2017, JIV dibuat untuk Asian Games 2018.


"Dibanding dengan Malaysia, [velodrome] kapasitas kita lebih besar dan bisa mencapai 3.500 penonton. Di sana [VNM], kapasitas penonton hanya 1.000 sampai 1.500. Bangunannya [JIV] juga lebih luas. Di Malaysia, velodromenya tertutup jadi selalu harus menggunakan lampu," kata Iwan kepada CNNIndonesia.com di JIV, belum lama ini.

Velodrome Indonesia punya kapasitas 3.500 penonton.Velodrome Indonesia punya kapasitas 3.500 penonton. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"[Velodrome] kami lebih ramah lingkungan, dari sisi desain juga kami lebih futuristik. Bisa dibilang di Asia Tenggara juga [JIV] yang terbaik, karena yang baru punya velodrome itu Malaysia dan Indonesia. Di Asia, kami bisa bersaing seperti dengan Hong Kong," katanya menambahkan.

Iwan mengatakan salah satu kelebihan velodrome di JIV adalah atap bangunan yang menggunakan membran tembus cahaya. Selama dua bulan, lanjut dia, pesepeda Indonesia menjalani pemusatan latihan nasional tanpa menggunakan lampu.

"Kalau tidak salah di Seoul juga pakai atap membran, ini [velodrome Seoul pakai atap membran] diketahui berdasarkan penuturan delegasi Korea Selatan yang datang ke sini beberapa waktu lalu," ucap Iwan.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, arena JIV dan sekitarnya tampak sudah siap untuk menyelenggarakan Asian Games pada Agustus mendatang. Kendati begitu, pihak JIV menyoroti lahan parkir yang terletak di ruang terbuka.

Pembangunan velodrome menghabiskan biaya lebih dari Rp650 miliar.Pembangunan velodrome menghabiskan biaya lebih dari Rp650 miliar. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Selain kapasitas tempat duduk penonton yang dinilai masih kurang karena kendala lahan, Iwan mengakui kapasitas kendaraan di lahan parkir menjadi salah satu kekurangan JIV.

"Sebetulnya [area parkir] sudah mencukupi untuk 275 mobil, 100 motor, dan 10 bus. Akan tetapi, kami perlu antisipasi kalau kegiatan rutin [olahraga/non-olahraga] sudah berjalan di sini. Apalagi sekarang animo masyarakat untuk bersepeda sudah meningkat," ucap Iwan.

"Kami mengharapkan tiap pekan ada kegiatan di sini [JIV]. Kami juga ada fasilitas komersial di lantai dasar seperti kafe atau tempat jual merchandise," ujarnya sambil menyebut biaya pembangunan yang mencapai Rp650 miliar.

Biaya Perawatan Ratusan Juta

Bermacam kegiatan olahraga ataupun non-olahraga di JIV sangat diperlukan untuk membantu biaya perawatan yang mencapai ratusan juta rupiah.

Iwan menyampaikan tingginya biaya perawatan terutama berasal dari lintasan balap sepeda yang materialnya menggunakan kayu Siberia. Hal ini menyebabkan kelembaban kayu tersebut harus dijaga dengan ketat di Indonesia yang memiliki iklim tropis.

"[Biaya perawatan] tentu tinggi terutama di trek ini, karena kami harus jaga kelembabannya. Itu yang utama. Jenis kayu bukan karakteristik tropis, jadi AC harus nyala terus. Maksimal kelembaban itu 70 persen," ujar Iwan.

Velodrome Terbaik di Asia Tenggara Siap DigowesBiaya pengeluaran listrik mencapai Rp400 juta per bulan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Kalau listrik sendiri itu sebulan mencapai 250 sampai 300 juta rupiah, itu tentunya harus didukung dengan kegiatan yang diselenggarakan di sini. Kami tidak bisa terpaku dengan satu kegiatan trek balapan sepeda saja," ujarnya kembali.

Senada dengan Iwan, Arlan Lukman selaku direktur venue dan lingkungan INASGOC membenarkan mahalnya biaya perawatan Velodrome. Kendati begitu, ia merasa bangga dengan aset olahraga Indonesia tersebut.

"Mesin pendingin ruangan harus nyala di velodorme setiap hari agar kelembaban lintasannya terjaga. Dan biaya listriknya itu bisa mencapai 400 juta rupiah per bulan," tutur Arlan.

"Namun, velodrome ini [JIV] itu setara dengan di London. Memang bangsa kita untuk hal bangun fasilitas tidak kalah dengan negara lain, tinggal perawatannya saja untuk masa mendatang," tuturnya kembali. (jun/bac)