Laju Manchester City yang Kian Sukar Dihentikan

Vetriciawizach, CNN Indonesia | Jumat, 10/08/2018 15:08 WIB
Laju Manchester City yang Kian Sukar Dihentikan Manchester City menjadi juara Liga Primer Inggris dengan meraih 100 poin pada musim lalu. (REUTERS/Toby Melville)
Jakarta, CNN Indonesia -- Manchester City mengakhir musim 2017/2018 dengan mencengangkan: meraup 100 poin sekaligus memecahkan rekor jumlah angka tertinggi sepanjang sejarah Liga Primer Inggris.

Mereka mengalahkan torehan Jose Mourinho bersama Chelsea yaitu 95 poin yang didapatkan pada musim 2005.

Saking dominannya, Man City bahkan unggul 19 poin dari Manchester United di peringkat kedua.


Sergio Aguero dan kawan-kawan mampu meraih prestasi itu dengan penampilan yang meyakinkan, baik di kandang lawan maupun di hadapan pendukung sendiri, dengan kekuatan merata mulai dari lini depan hingga ke bawah mistar gawang.

Satu catatan lagi yang membuktikan kedigdayaan mereka ketajaman di depan gawang lawan. Total 106 kali mereka membobol lawan, dan lagi-lagi memecahkan rekor di Liga Primer Inggris yaitu gol terbanyak dalam satu musim.
Manchester City mengawali musim baru dengan juara Community Shield. Manchester City mengawali musim baru dengan juara Community Shield.  (REUTERS/Phil Noble)
Jelang periode 2018/2019, Man City tidak banyak melakukan perombakan dan bahkan hanya melepas Yaya Toure yang memang sudah jarang bermain. Pep Guardiola juga mendapatkan Riyad Mahrez untuk menambah sumber kreativitas di lini depan.

Hanya saja, ini bukan berarti laju Man City akan dengan mudah terbendung klub-klub lainnya.

Man City sudah menuntaskan misi mereka memperkuat skuat sejak musim lalu. Mereka mendapatkan Aymeric Laporte, Benjamin Mendy, Kyle Walker, Bernardo Silva, Ederson, Danilo, Douglas Luiz dan beberapa pemain skuat lainnya.

Dengan para pemain ini memasuki musim kedua, mereka akan semakin padu dalam menjalankan taktik Guardiola dan semakin mengenal pergerakan rekan satu tim.

Apalagi, sebagai pelatih Guardiola dikenal memiliki standar yang tinggi dan menuntut banyak dari para pemainnya. Pada pramusim, pelatih asal Spanyol ini juga telah menantang para pemainnya untuk mempertahankan ambisi dan komitmen untuk terus meraih prestasi tertinggi, baik di dalam dan luar Inggris.

Rasa haus ini juga yang bisa menjadi halangan bagi Manchester City untuk merebut gelar di berbagai kompetisi -- mengingat kedalaman skuat yang mereka miliki.
Musim lalu, ManCity menjadi juara dengan total torehan 100 poin. Musim lalu, ManCity menjadi juara dengan total torehan 100 poin.  (Reuters/Andrew Boyers)
Tim yang sudah mencicipi puncak relatif kesukaran untuk menggapai hasil serupa di musim berikutnya. Tak heran jika di era Liga Primer Inggris, hanya ada dua tim yang pernah meraih gelar secara beruntun yaitu Manchester United dan Chelsea.

Hal ini pun diakui oleh Vincent Kompany pada Maret lalu.

"Kami telah memenangi dua gelar (EPL) di klub ini dan pada dua kesempatan itu, kami kehilangan ketajaman di musim berikutnya," ujar bek asal Belgiat ersebut.

"Ini sebabnya sangat sukar untuk mempertahankan gelar. Hanya tim-tim special yang bisa melakukannya dan kali ini kami harus menjadi spesial.

Kemampuan Guardiola untuk mempertahankan intensitas dan ambisi itu yang akan menjadi kunci perjalanan Man City untuk mempertahankann gelar.
Kevin De Bruyne adalah salah satu pemain terbaik Manchester City musim lalu. Kevin De Bruyne adalah salah satu pemain terbaik Manchester City musim lalu.  (REUTERS/Phil Noble)

Calon Bintang Musim Depan: Kevin de Bruyne

Pemain timnas Belgia ini menunjukkan di Piala Dunia 2018 bahwa ia adalah salah satu gelandang kreatif terbaik saat ini. Ia memiliki visi menyerang yang sangat bagus dan dengan kemampuan memberi umpan terobosan yang setara dengan para pemain terbaik di manapun di dunia. Di usia 27 tahun, dan dengan peran David Silva yang semakin berkurang, tahun ini De Bruyne bisa merebut sorotan dari Mohamed Salah sebagai pemain terbaik di EPL.