Asian Games 2018

Angkat Besi Jadi Tamu di Negeri Sendiri pada Asian Games 2018

Titi Fajriyah, CNN Indonesia | Selasa, 21/08/2018 14:02 WIB
Angkat Besi Jadi Tamu di Negeri Sendiri pada Asian Games 2018 Lifter angkat besi putri Indonesia minim dukungan saat bertanding pada Senin (21/8). (ANTARA FOTO/INASGOC/Fanny Octavianus)
Jakarta, CNN Indonesia -- Malangnya jadi atlet angkat besi Indonesia di Asian Games 2018. Bertanding di 'rumah sendiri' tapi sepi dukungan. Miris, apalagi dari segi prestasi Indonesia masih belum bisa unjuk gigi.

Pengalaman itu terasa ketika saya mendatangi pertandingan cabang olahraga angkat besi Asian Games 2018 di Hall B Jakarta International Expo (Jiexpo), Kemayoran, Senin (20/8).

Sebelumnya, saya dan beberapa wartawan lain tidak diperbolehkan masuk ke venue perlombaan. Koordinator relawan di venue itu menyebut, tempat untuk media sudah penuh dan tidak bisa dimasuki jurnalis lainnya.


Lucu, padahal jika hitung-hitungan peserta Asian Games ada 45 negara. Tapi relawan tersebut bilang kalau tempat khusus media itu hanya bisa menampung 38 orang.

Setelah mencoba menghubungi Manajer Venue, Alamsyah Wijaya, akhirnya kami bisa masuk. Kami ditempatkan di area tribune yang mau tidak mau duduk bersama penonton lain.

Saya dan tiga teman lain ada di bagian tengah tribune dan hampir seluruh kursi dipadati suporter asal Korea Selatan. Padahal, hari itu tidak ada wakil Korea Selatan yang turun di cabor angkat besi kelas 48kg.

Suporter Korea mendominasi venu angkat besi pada Senin (20/8).Suporter Korea mendominasi venu angkat besi pada Senin (20/8). (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Tetapi, ada satu wakil Korea Utara yang tampil yakni Ri Song-Gum. Saat Gum Ri mau melakukan angkatan snatch, suporter Korea yang kompak menggunakan baju putih dengan gambar bendera Korea Bersatu berwarna biru, langsung besorak memberikan semangat.

Seorang koordinator suporter memberikan arahan kepada teman-temannya yang kemudian langsung diikuti. Saat itu, saya merasa kecil padahal saya berada di rumah sendiri sedangkan mereka adalah tamu.

Ketika lifter Indonesia Sri Wahyuni Agustiani tampil, sorakan yang diberikan penonton Indonesia tak seramai ketika suporter Korea berteriak. Malu saya bertambah, ketika suporter Thailand justru menabuh gendang supaya orang-orang Indonesia di venue tersebut bisa teriak memberikan dukungan. Saya benar-benar seperti tamu di negeri sendiri.

Salah seorang suporter asal Korea Selatan Park Jeong In mengatakan kehadiran mereka adalah untuk memberikan dukungan kepada atlet Korea Selatan dan Korea Utara yang berlaga di Asian Games 2018.

Lifter Korea Utara Ri Song-Gum mendapat dukungan dari suporter Korea Bersatu.Lifter Korea Utara Ri Song-Gum mendapat dukungan dari suporter Korea Bersatu. (ANTARA FOTO/INASGOC/Fanny Octavianus/YU/18)
"Ya, kami datang ke sini bersama 120 orang untuk mendukung Tim Korea. Di sini tidak ada atlet Korea Selatan yang tampil, kami datang untuk mendukung saudara kami dari Korea Utara. Kami juga mau mengampanyekan Korea Bersatu. Kami bawa bendera Korea Bersatu," ucap Jeong In kepada CNNIndonesia.com.

Mereka datang menggunakan agen perjalanan bernama Korea Bersatu. Sesuai dengan tujuannya, melalui Asian Games mereka ingin mendeklarasikan kepada dunia bahwa Korea saat ini sudah bersatu.

Lima hari di Jakarta, Jeong In menyebut sudah datang ke tiga venue cabang olahraga yang dimainkan Tim Korea. Seperti basket, renang, dan angkat besi.

"Ini hari terakhir (Senin, 20/8) kami di sini. Besok kami akan pulang ke Korea," sebutnya.

Di kelas 48kg putri, Sri Wahyuni harus puas dengan medali perak.Di kelas 48kg putri, Sri Wahyuni harus puas dengan medali perak. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Sebagai tuan rumah, suporter Indonesia harusnya malu karena hanya sedikit yang datang ke venue untuk memberikan dukungan. Sedangkan suporter negara lain, seperti Korea, Thailand dan China tak pernah absen di setiap tim mereka bertanding.

Seorang suporter Indonesia Rendy Renuki mengaku malu karena lebih banyak suporter asing yang datang menyaksikan cabor angkat besi. Tapi, ia sadar kalau angkat besi bukan cabang olahraga populer di Indonesia.

"Sebenarnya buat sebagian orang sayang mengeluarkan uang Rp100 ribu untuk menyaksikan cabor angkat besi yang kurang populer dibanding sepak bola atau basket," ungkapnya.

Menurut Rendy, harusnya Indoensia Asian Games Organizing Committee (INASGOC) membuat kebijakan berupa kuota tiket gratis untuk masyarakat menyaksikan laga atlet Indonesia di Asian Games 2018.

"Bukan cuma buat anak sekolah, tapi nonton gratis itu juga bisa buat masyarakat umum dengan jumlah yang dibatasi. Ini sekaligus memperkenalkan cabang olahraga dan atlet unggulan Indonesia," harapnya. (sry/jun)