Honor Penari Ratoh Jaroe di Asian Games Diduga Bermasalah

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 18/09/2018 15:58 WIB
Honor Penari Ratoh Jaroe di Asian Games Diduga Bermasalah Honor para penari khas Aceh Ratoh Jaroe dari siswi SMA se-Jakarta diduga bermasalah. (Dok. Kementerian Pariwisata)
Jakarta, CNN Indonesia -- Honor ribuan penari yang tampil membawakan tarian khas Aceh Ratoh Jaroe pada upacara pembukaan Asian Games 2018 diduga bermasalah. Dua pekan setelah gelaran olahraga multicabang se-Asia itu, sejumlah penari belum juga mendapatkan honor mereka.

Padahal, penampilan sekitar 1.600 penari dari 18 Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta itu membawa decak kagum masyarakat Indonesia. Bahkan, performa mereka menjadi perbincangan positif di media massa.

Salah seorang siswi SMA 23 Jakarta yang ikut menjadi penari Ratoeh Jaroe mengatakan sudah mulai berlatih sejak April lalu. Sebelumnya, dari 200 siswi SMA 23 yang mendaftar hanya 75 yang lolos seleksi dan delapan lainnya ikut sebagai penari cadangan.


Dua hari dalam sepekan, ia dan teman-temannya menghabiskan waktu tiga jam untuk latihan di sekolah mulai awal April sampai pertengahan Juni. Selama itu, tidak ada bayaran untuk latihan, hanya makanan ringan yang disediakan pihak sekolah untuk para siswi yang berlatih tarian asli dari Aceh itu.


Para siswi SMA se-Jakarta yang membawakan tarian khas Aceh Ratoh Jaroe di pembukaan Asian Games 2018 mendapat pujian dari dalam dan luar negeri. Para siswi SMA se-Jakarta yang membawakan tarian khas Aceh Ratoh Jaroe di pembukaan Asian Games 2018 mendapat pujian dari dalam dan luar negeri. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Mulai 24 Juni, latihan dipindahkan ke Lapangan B Senayan, Jakarta sampai dua pekan jelang pembukaan Asian Games 2018. Kemudian, latihan digeser lagi ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, yang merupakan venue utamanya.

Sejak pindah latihan dari sekolah ke Senayan, Panitia Penyelenggara Asian Games (INASGOC) menghitung pemberian honor buat para penari. Setiap penari mendapatkan US$15 atau sekitar Rp223 ribu per hari.

Total, ada 15 kali pertemuan sampai mereka selesai tampil di pembukaan. Jika di rupiahkan, per penari setidaknya bisa mengantongi sekitar Rp3,3 juta sebagai honor mereka. Nyatanya, sampai saat ini sepeser pun uang honor belum mereka terima.

"Guru bilangnya, tidak ada bayaran jadi jangan terlalu berharap. Kalau dikasih syukur, kalau enggak ya sudah. Tapi teman-temanku bilang, memang harusnya dapat US$15 per hari, tapi sampai sekarang tidak turun-turun [uang honornya]," ungkap siswa yang tak mau disebutkan identitasnya kepada CNNIndonesia.com,Selasa (18/9).

Pernyataan yang sama diungkapkan salah satu siswa SMA 78 yang juga tak ingin disebutkan namanya. Bersama teman-temannya, ia mengaku sudah terus menanyakan kabar soal honor yang didapatnya usai mengisi acara di pembukaan Asian Games 2018.

"Beberapa perwakilan kami sudah dipanggil. Tapi sekolah bilang tidak mau memberikan uang tunai. Kami dikasih tiga opsi, dikasih jaket atau kaus, jalan-jalan atau uang tunai. Kami maunya uang."

"Itu kan hak kami. Sejak awal kami yang panas-panasan, capek, pulang malam terus, kenapa masih ditahan-tahan uangnya?" tanyanya

Respons INASGOC

Di sisi lain, INASGOC mengaku telah menyelesaikan tiga termin pembayaran honor penari Ratoh Jaroe dari 18 SMA di Jakarta pada, Senin (17/9). Pembayaran diberikan pihak INASGOC langsung kepada pihak sekolah untuk dikelola operasionalnya.

Pihak INASGOC menyatakan sudah melakukan pembayaran para penari Ratoh Jaroe ke pihak sekolah. (Pihak INASGOC menyatakan sudah melakukan pembayaran para penari Ratoh Jaroe ke pihak sekolah. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Direktur Pembukaan dan Penutupan Asian Games 2018, Herty Purba mengungkapkan masing-masing sekolah mengirimkan jumlah siswa-siswi yang berbeda sesuai dengan hasil seleksi yang dilakukan. Sekolah bertugas untuk mengelola dana yang diberikan untuk menyiapkan kebutuhan mulai dari konsumsi, bus dan lainnya.

"Benar, per hari kami berikan honor US$15 yang per orang selama 15 hari latihan. Itu yang kami kirimkan sesuai jumlah siswa-siswi di masing-masing sekolah. Pengelolaan dananya kami kembalikan lagi ke kebijakan masing-masing sekolah," jelas Herty melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Selasa (18/9).

CNNIndonesia.com mencoba untuk mengonfirmasi hal tersebut kepada Wakil Kepala Sekolah SMA 78 Jakarta dan penanggung jawab SMA 23. Namun, hingga berita ini diturunkan keduanya belum memberikan jawaban. (TTF/nva)