Mental Baja Ni Nengah Widiasih untuk Kibarkan Merah Putih

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 19/09/2018 22:12 WIB
Mental Baja Ni Nengah Widiasih untuk Kibarkan Merah Putih Ni Nengah Widiasih meraih medali perunggu pada Paralimpiade 2016. (REUTERS/Ueslei Marcelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ni Nengah Widiasih menjadi salah satu atlet elite difabel Indonesia yang kerap mengibarkan bendera Merah Putih setelah melewati masa kecil yang tak seindah anak-anak kebanyakan.

Widi yang kini berusia 28 tahun mengungkapkan ia sesungguhnya lahir dengan kondisi normal sebelum duduk di kursi roda.
"Saya dilahirkan normal. Sampai pada usia tiga tahun, saya sakit demam panas. Saya diajak ke dokter dan disuntik," kata Widi di Citibank Tower pada Selasa (19/9).

"Setelah disuntik, makin demam dan lemas total tidak bisa jalan. Dari situ, orang tua sudah berupaya segalanya sampai mungkin dukun dicoba. Akan tetapi, Tuhan berkata lain," katanya menambahkan.


Ketika menjadi siswi Sekolah Dasar, Widi merasa berbeda dan mengaku tidak pernah keluar kelas.

"Diam saja [di dalam kelas]. Lihat teman lari, saya tidak bisa. Pernah saya pulang dan saya nangis, ayah saya tanya,'Kenapa?'" ucap peraih dua emas pada ASEAN Para Games 2017.

"Saya ingin tahu alasan kenapa saya berbeda. Saya tidak tahu saat itu, saya hanya tahu bahwa saya tidak bisa lari. Ayah saya lalu mengatakan bahwa saya tidak berbeda, tapi spesial," lanjutnya.
Ni Nengah Widiasih mendapat sambutan sepulang dari Paralimpiade.Ni Nengah Widiasih mendapat sambutan sepulang dari Paralimpiade. (CNNIndonesia/M. Arby Rahmat)
Ketika itu, Widi tidak begitu mengerti makna kata 'spesial' yang dikatakan sang ayah. Namun, seiring beranjak dewasa, ia akhirnya paham maksud orang tua.

Widi pun kemudian mulai berkenalan dengan dunia olahraga. Kebetulan ia memiliki saudara yang menggeluti olahraga angkat besi.

Perlahan mental Widi semakin terasah, hingga orang bisa menilai dia sebagai sosok yang tegas dari caranya bertutur kata.

"Kelas 7 SMP, pertama kali gabung Pelatnas di Solo. Ikut ASEAN Para Games pertama di Thailand pada 2008 dan dapat perunggu. Dari situ, saya semakin termotivasi untuk lebih kerja keras setelah pulang ke Indonesia," ujar Widi.

Kerja keras Widi terbukti. Hingga kini, Widi sudah meraih beragam prestasi seperti peringkat ketiga dalam Kejuaaraan Dunia di Dubai pada 2014 sampai medali perunggu Paralimpiade di Brasil pada 2016.

Diet Ketat

Kini Widi sedang mempersiapkan diri untuk Asian Para Games 2018 di Jakarta, Indonesia. Supaya bisa meraih prestasi, ia harus berkorban salah satunya dengan diet.

"Berat badan ketika bertanding harus di bawah 41 kilogram," ujarnya kepada CNNIndonesia.com .

Agar angka berat itu tercapai, Widi sangat menjaga pola makan. Dia tidak boleh sembarangan makan kalau ingin mimpi mewujudkan mimpinya mendapat medali di negara sendiri dalam turnamen olahraga terbesar di Asia.

"Menu makan untuk persiapan Asian Para Games dalam sehari itu semua hanya direbus tanpa bumbu, seperti kentang rebus, wortel, brokoli, ubi. Pagi, siang, dan malam menunya sama seperti itu," tutur Widi.
Dalam sepekan, Widi hanya libur pada Sabtu. Hampir setiap hari dia berlatih pada pukul 09.00-11.00 dan 14.00-17.00.

"Persiapan sekarang lebih fokus dan jaga kondisi karena pertandingan bakal dimulai kurang lebih dua pekan lagi, jadi harus lebih fit. Saya sudah tahu kekuatan lawan, China lawan terberat saya," pungkas dia.

"Baru sepekan lalu habis bertanding China. Jadi saya sudah tahu harus apa, dan saya tahu kekuatan mereka." (map/sry)