Asa Besar Atlet Renang Difabel di Asian Para Games 2018

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Sabtu, 15/09/2018 04:05 WIB
Asa Besar Atlet Renang Difabel di Asian Para Games 2018 Laura Aurelia Dinda Sekar bekerja keras untuk meraih medali di Asian Para Games 2018. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Atlet renang Laura Aurelia Dinda Sekar Devanti memiliki asa besar di Asian Para Games 2018 yang berlangsung pada 6-13 Oktober mendatang. Ia terus memacu diri hingga mencapai batas maksimal.

Laura adalah atlet difabel yang mengikuti program pemusatan latihan di Solo sejak 10 Januari. Saat ini ia sedang menjalani program peningkatan kecepatan tahap akhir.

Di Asian Para Games, Laura akan turun di enam nomor yakni 50 meter gaya bebas, 100 meter gaya bebas, 50 meter gaya pungung, 200 meter gaya bebas, estafet, dan 200 meter gaya ganti.


Untuk meraih prestasi terbaik, Laura menempa dirinya dengan keras. Latihan rutin menjadi menu wajib yang harus dilahap setiap hari.

"Latihan terus, sehari dua atau tiga kali latihan. Pagi renang, sore renang. Atau pagi fitness, siang fitness lagi," kata Laura melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Jumat (14/9).

"Kalau pagi dari jam 05.00-07.30, sore jam 17.00-19.00. Tapi belakangan program latihan dikurangi karena sudah mulai dekat Asian Para Games," katanya menambahkan.

Para atlet difabel Indonesia bakal berjuang keras di Asian Para Games 2018. (Para atlet difabel Indonesia bakal berjuang keras di Asian Para Games 2018. (Foto: Detikcom/Rifkianto Nugroho)
Karena kesibukan persiapan Asian Para Games, Laura rela mengambil cuti kuliah satu semester. Ia terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Psikologi di Universitas Gadjah Mada.

"Latihan untuk Asian Para Games sih lebih berat daripada Peparnas [Pekan Olahraga Nasional] dan ASEAN Para Games menurut saya. Karena lawan yang akan dihadapi jauh lebih banyak dibandingkan dengan ASEAN Para Games," ujar Laura.

Demi meraih medali di Asian Para Games, Laura juga mengikuti ajang uji coba yakni di Berlin, Jerman. Di sana, ia mendapat dua medali emas, satu perak, dan satu perunggu.

"Kalau dari pelatih menargetkan dapat satu emas di cabang olahraga [cabor] renang. Anggota tim renang Indonesia ada tiga puluh orang dengan target di cabor ini empat medali emas. Saya sendiri ditargetkan dapat satu medali," ucapnya melanjutkan.

Terpeleset

Perjalanan Laura menjadi atlet difabel berawal pada 2015. Awalnya, ia lahir dengan keadaan normal.

"Ketika POPDA [Pekan Olahraga Pelajar Daerah] di Semarang, saya kepeleset dan jatuh duduk. Sebulan kemudian, tulang punggung remuk. Setelah itu operasi tapi penanganan sudah terlambat. Fungsi tubuh bagian bawah lalu menurun," ujar Laura yang kini menggunakan kursi roda untuk berjalan.

Selama tiga tahun menjadi atlet difabel, Laura terbilang cukup berprestasi. Ia berhasil menyabet dua medali emas pada ASEAN Para Games 2017 di Kuala Lumpur. Namun, Laura belum puas dengan prestasi tersebut.

"Motivasi saya lebih kepada pelatih, karena yang membuat saya bangkit adalah pelatih. Dia [pelatih] bilang, 'Kamu difabel, masih bisa melakukan hal-hal yang bisa dilakukan orang normal.' Jadi saya ingin membuktikan," ujarnya kembali.

Tahun ini adalah kali pertama Laura ikut Asian Para Games 2018. Laura mengaku tegang menyambut laga di ajang empat tahunan tersebut.

"Deg-degan sih. Karena ada target, takut mengecewakan pelatih dan negara," tutur Laura.

"Catatan terbaik saya di nomor 50 meter gaya punggung dan bebas yakni 42 detik dan 39 detik. Catatan waktu gaya punggung harus lebih cepat lagi, karena ada Kazakhstan dan China yang waktunya tidak jauh berbeda dengan saya dan menjadi pesaing terberat," tuturnya lagi. (jun/bac)