Semangat Penyandang Down Syndrome 'Zaman Now' di APG 2018

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 11/10/2018 20:05 WIB
Semangat Penyandang Down Syndrome 'Zaman Now' di APG 2018 Namira Zania memiliki bakat lebih di bidang seni. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Namira Zania terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus karena intelektualnya di bawah rata-rata. Dalam kedokteran, disabilitas yang dialaminya disebut down syndrome atau kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental.

Meski mengalami down syndrome, Namira adalah anak yang sangat berbakat. Sang ibu, Nini Andrini, menyebut talenta terbesar anaknya ada di bidang seni.

Itu terlihat ketika kali pertama CNNIndonesia.com bertemu Namira di depan panggung Para Inspirasi yang masuk rangkaian kegiatan di Asian Para Games 2018. Namira sedang asik berjoget bersama teman-temannya mengikuti alunan lagu yang dibawakan sebuah grup band di atas panggung.


Kala itu Namira dan teman-temannya yang juga mengalami down syndrome kompak memakai baju berwarna putih bertuliskan 'Down Syndrome Zaman Now'.

Mereka tergabung dalam sebuah sanggar tari bernama Gigi Art of Dance atau G-Star yang punya kelas khusus tarian untuk anak disabilitas down syndrome. Di G-Star mereka diajarkan tarian kontemporer, k-pop sampai hiphop.

Bahkan, beberapa kali Namira yang kini berusia 20 dipercaya menjadi model video klip artis papan atas Indonesia. Sebut saja ketika ia menjadi model video klip lagu bertajuk 'Semua Murid Semua Guru' yang dinyanyikan Glenn Fredly, Vidi Aldiano dan Andien yang dirilis Mei 2018 lalu. Lagu itu didedikasikan khusus untuk menwarnai Hari Pendidikan Nasional.

"Kemarin dia (Namira) juga jadi model video klip Gloria Jessica di lagu terbarunya (Luka Yang Kecil)," kata Nini, sang ibu saat berbicang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Penyandang Disabilitas Intelektual Down Syndrome yang tergabung dalam sanggar tari Gigi Art Of Dance (G-Star) tampil di festival parainspirasi, untuk mendukung gelaran Asian Para Games 2018.Penyandang Disabilitas Intelektual Down Syndrome yang tergabung dalam sanggar tari Gigi Art Of Dance (G-Star) tampil di festival parainspirasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Bagi Namira, tidak ada materi tarian yang menyulitkannya. Ia justru mengaku senang karena mendapatkan banyak teman di kelas tarinya.

"Enggak ada yang susah sih semua [tariannya]. Kalau ada yang salah, diulang lagi. Tadi sebelum tampil latihan dulu di sini," ucap Namira setelah selesai menari di hadapan masyarakat yang datang ke panggung Para Inspirasi.

Bersama G-Star, Namira juga pernah tampil di Singapura. November nanti, Namira dan kawan-kawan akan bakal kembali unjuk kebolehan di Asian Youth Festival Theatre.

Sebelum fokus di tari, Namira pernah mencoba untuk menjadi seorang atlet atletik. Ia turun di nomor lari dan tolak peluru saat ia masih 15 tahun.

Namira Zania bersama sang ibu.Namira Zania bersama sang ibu. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
"Tapi waktu itu dia ada gangguan dengan pernapasannya jadi tidak kuat. Di nomor tolak peluru Namira sempat dapat medali emas waktu kejuaraan antar-SMP," ujar Nini.

Meski tak tampil jadi atlet, Namira punya peran tersendiri untuk mendukung Asian Para Games 2018. Ia diminta untuk menjadi fasilitator relawan Asian Para Games yang bertugas mengajarkan relawan cara bergaul dengan para disabilitas.

Namira diminta dari HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia) dan INAPGOC. Nini mengatakan ia bersama beberapa orang dari disabilitas tuna netra dan tuna daksa menjadi salah satu mentor yang mengajar 300 fasilitator Asian Para Games 2018.

"Dia senang banget ikut berpartisipasi di Asian Para Games ini. Apalagi kemarin jadi fasilitator, sekarang dia tampil di sini," terang Nini.

Menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus seperti Namira, Nini menyebut hal utama yang harus dimiliki adalah kesabaran. Ia juga tidak bisa memaksakan kalau sang anak suasana hatinya sedang tidak baik.

"Kalau tidak mood, kalau tidak mau ya tidak bisa dipaksa. Kita yang harus ikuti maunya apa. Tidak bisa dipaksa, kita harus tunggu sampai mood-nya enak lagi. Tapi Namira untuk hal-hal yang berbau seni, mood-nya selalu bagus," ucap Nini.

Pesan Inspiratif

Bagi para penyandang disabilitas, Asian Para Games 2018 adalah momen yang sangat berharga. Ajang ini digunakan mereka untuk berkampanye dan membuktikan kepada masyarakat luas bahwa di balik keterbatasan yang dimiliki, mereka masih bisa berbuat banyak hal yang membanggakan.

Tak mudah untuk bisa membuat mereka tampil di hadapan banyak orang. Salah satu pengajar di G-Star, Karina Syahna mengungkapkan jika pakai hati, pekerjaan seberat apapun pasti ringan saat dilakoni.

Buat Karina menjadi seorang instruktur penari down syndrome memiliki banyak tantangan. Keahlian pertama yang harus dimiliki tak lain adalah kesabaran.

"Kalau untuk menjelaskan semuanya, yang utama adalah sabar dan mau mencoba mengenal, menerima mereka sesuai dengan kemampuan mereka. Kalau mengajar murid-murid lain yang tidak punya kebutuhan khusus, diajarin kan langsung mengerti. Kalau mereka tidak, harus menyediakan plan A, B, dan C. Setiap anak pun berbeda. Itu mengapa kita harus mengenal mereka," ungkap wanita 24 tahun itu.

Total ada 14 dari 18 murid G-Star yang terlibat dalam pertunjukkan di Panggung Inspirasi Asian Para Games 2018. Usia mereka berkisar mulai dari 13 sampai 36 tahun.

Antusiasme mereka yang besar sangat terlihat saat berjoget dan melayani setiap orang yang meminta mereka untuk berfoto bersama.

"Ya sampai sekarang saja mereka masih berdiri, padahal sudah selesai dari tadi. Mereka memang senang ke sini dan saya mau menunjukkan kepada orang-orang kalau mereka tidak ada masalah, sama seperti orang lain," jelas Karina.

Lewat Asian Para Games 2018, banyak pesan kemanusiaan yang tersampaikan. Para penyandang disabilitas bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang terlahir sempurna. (TTF/sry)