Meski mengalami down syndrome, Namira adalah anak yang sangat berbakat. Sang ibu, Nini Andrini, menyebut talenta terbesar anaknya ada di bidang seni.
Itu terlihat ketika kali pertama CNNIndonesia.com bertemu Namira di depan panggung Para Inspirasi yang masuk rangkaian kegiatan di Asian Para Games 2018. Namira sedang asik berjoget bersama teman-temannya mengikuti alunan lagu yang dibawakan sebuah grup band di atas panggung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka tergabung dalam sebuah sanggar tari bernama Gigi Art of Dance atau G-Star yang punya kelas khusus tarian untuk anak disabilitas down syndrome. Di G-Star mereka diajarkan tarian kontemporer, k-pop sampai hiphop.
"Kemarin dia (Namira) juga jadi model video klip Gloria Jessica di lagu terbarunya (Luka Yang Kecil)," kata Nini, sang ibu saat berbicang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Penyandang Disabilitas Intelektual Down Syndrome yang tergabung dalam sanggar tari Gigi Art Of Dance (G-Star) tampil di festival parainspirasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
"Enggak ada yang susah sih semua [tariannya]. Kalau ada yang salah, diulang lagi. Tadi sebelum tampil latihan dulu di sini," ucap Namira setelah selesai menari di hadapan masyarakat yang datang ke panggung Para Inspirasi.
Sebelum fokus di tari, Namira pernah mencoba untuk menjadi seorang atlet atletik. Ia turun di nomor lari dan tolak peluru saat ia masih 15 tahun.
Namira Zania bersama sang ibu. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Meski tak tampil jadi atlet, Namira punya peran tersendiri untuk mendukung Asian Para Games 2018. Ia diminta untuk menjadi fasilitator relawan Asian Para Games yang bertugas mengajarkan relawan cara bergaul dengan para disabilitas.
Namira diminta dari HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia) dan INAPGOC. Nini mengatakan ia bersama beberapa orang dari disabilitas tuna netra dan tuna daksa menjadi salah satu mentor yang mengajar 300 fasilitator Asian Para Games 2018.
"Dia senang banget ikut berpartisipasi di Asian Para Games ini. Apalagi kemarin jadi fasilitator, sekarang dia tampil di sini," terang Nini.
"Kalau tidak mood, kalau tidak mau ya tidak bisa dipaksa. Kita yang harus ikuti maunya apa. Tidak bisa dipaksa, kita harus tunggu sampai mood-nya enak lagi. Tapi Namira untuk hal-hal yang berbau seni, mood-nya selalu bagus," ucap Nini.
Pesan Inspiratif
Bagi para penyandang disabilitas, Asian Para Games 2018 adalah momen yang sangat berharga. Ajang ini digunakan mereka untuk berkampanye dan membuktikan kepada masyarakat luas bahwa di balik keterbatasan yang dimiliki, mereka masih bisa berbuat banyak hal yang membanggakan.
Buat Karina menjadi seorang instruktur penari down syndrome memiliki banyak tantangan. Keahlian pertama yang harus dimiliki tak lain adalah kesabaran.
"Kalau untuk menjelaskan semuanya, yang utama adalah sabar dan mau mencoba mengenal, menerima mereka sesuai dengan kemampuan mereka. Kalau mengajar murid-murid lain yang tidak punya kebutuhan khusus, diajarin kan langsung mengerti. Kalau mereka tidak, harus menyediakan plan A, B, dan C. Setiap anak pun berbeda. Itu mengapa kita harus mengenal mereka," ungkap wanita 24 tahun itu.
Total ada 14 dari 18 murid G-Star yang terlibat dalam pertunjukkan di Panggung Inspirasi Asian Para Games 2018. Usia mereka berkisar mulai dari 13 sampai 36 tahun.
"Ya sampai sekarang saja mereka masih berdiri, padahal sudah selesai dari tadi. Mereka memang senang ke sini dan saya mau menunjukkan kepada orang-orang kalau mereka tidak ada masalah, sama seperti orang lain," jelas Karina.
Lewat Asian Para Games 2018, banyak pesan kemanusiaan yang tersampaikan. Para penyandang disabilitas bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang terlahir sempurna. (ttf/sry)
Penyandang Disabilitas Intelektual Down Syndrome yang tergabung dalam sanggar tari Gigi Art Of Dance (G-Star) tampil di festival parainspirasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Namira Zania bersama sang ibu. (CNN Indonesia/Andry Novelino)