Cedera Leher, Insan Malu Tak Sumbang Emas Buat Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 11/10/2018 16:34 WIB
Cedera Leher, Insan Malu Tak Sumbang Emas Buat Indonesia Insan Nurhaida malu tidak sumbang medali emas untuk Indonesia. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Atlet para atletik Indonesia Insan Nurhaida mengaku malu karena gagal menyumbangkan medali emas buat di ajang Asian Para Games 2018.

Insan sebenarnya berpeluang meraih medali sebelum hilang keseimbangan dan jatuh jelang garis finis di nomor lari 100 meter kategori T36 putri di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Rabu (10/10). Alhasil, ia tercatat sebagai atlet yang finis kelima dengan catatan waktu 16,56 detik.

Gagal menyumbangkan medali, Insan sempat mengaku malu. Ia mengakui hal itu saat dibesuk Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, Rabu (10/10) malam.


"Dia bilang ke Pak Menteri kalau dia malu karena tidak bisa mendapatkan medali emas. Tapi kata Pak Menteri tidak apa-apa. Nanti kalau sembuh bisa main lagi di ASEAN Para Games 2019 Filipina," kata ayah Insan, Agus Nurdin.

Insan merupakan penyandang disabilitas cerebal palsy atau kelumpuhan pada otak. Disabilitas ini menyebabkan terjadinya gangguan gerakan otot, atau postur yang disebabkan cedera (perkembangan abnormal di otak).

CNNIndonesia.com berkesempatan menjenguk langsung Insan yang kini dirawat di Rumah Sakit Dr. Mintohardjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis (11/10). Saat itu Insan masih bisa tersenyum manis.

Insan Nurhaida terjatuh di lintasan atletik saat pertandingan.Insan Nurhaida terjatuh di lintasan atletik saat pertandingan. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Ditanya kondisinya saat ini, dara kelahiran 24 Desember 1987 itu mengaku baik-baik saja. Padahal dari hasil pemeriksaan rontgen, dokter menyatakan tulang lehernya retak.

"Baik-baik. Tidak apa-apa. Tidak sakit," kata Insan sambil menunjukkan luka di bagian bahu kanan akibat terbentur gravel lintasan.

Saat ini lnsan harus terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan selimut merah muda tanpa menggunakan bantal sebagai penyangga. Lehernya dililit cervical collar atau penyangga yang membuat lehernya tidak bisa banyak bergerak.

Tangan kanannya juga terdapat infus yang mengalirkan obat dan kebutuhan nutrisi serta vitamin yang dibutuhkan Insan selama masa perawatan.

Menurut sang ibu N. Mis'ati, Insan tidak boleh banyak gerak supaya retak di bagian tulang lehernya bisa cepat sembuh. Insan juga sempat mengalami mual dan muntah.

Rencananya, Insan bakal juga menjalani pemeriksaan syaraf oleh dokter spesialis syaraf di RS Mintohardjo yang dijadwalkan Kamis (11/10). (TTF/sry)