Asian Games 2018

Atletik Cinta Pertama dan Terakhir Karisma Evi

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 11/10/2018 02:32 WIB
Atletik Cinta Pertama dan Terakhir Karisma Evi Karisma Evi mengaku sudah cinta dengan atletik. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bulutangkis menjadi olahraga pertama yang pernah dijadikan hobi Karisma Evi Tiarani, peraih medali emas atletik nomor 100 meter kategori T42 Asian Para Games 2018.

Sejak di Sekolah Dasar (SD) Evi mengaku ingin menjadi atlet bulutangkis. Namun, nasib justru membawanya menjadi seorang atlet atletik.

Awal kariernya sebagai atlet dimulai ketika ia duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama) ketika diajak saudaranya masuk ke National Paralympic (NPC) di Solo. Ia pun coba-coba ikut seleksi untuk cabang atletik dan hasilnya lolos.


Kemudian, ia diminta untuk mengikuti Pekan Paralimpiade Pelajar Daerah (Papereda) 2014 dan berhasil menyumbangkan satu medali emas di nomor 100 meter T42. Hasil itu membuatnya dipanggil ke PPLP (Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar) Jawa Tengah.

Karier nasionalnya dimulai saat ia mengikuti Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2016 di Jawa Barat. Prestasi gemilang kembali diraih usai membawa pulang dua medali emas di nomor 100 meter dan lompat jauh.

Evi juga untuk pertama kalinya mewakili Indonesia di ASEAN Para Games 2017. Lagi-lagi, medali emas di nomor sprint diraih atlet kelahiran Boyolali, 19 Januari 2001 itu.

Sejak saat itu, Evi mengaku tak bisa pindah ke lain cabang. Rasa cintanya untuk atletik dianggap sudah terlalu besar untuk atletik yang telah membuatnya banyak meraih prestasi.

Karisma Evi ingin ajak keluarganya pergi umrah tahun depan.Foto: CNN Indonesia/Titi Fajriyah
Karisma Evi ingin ajak keluarganya pergi umrah tahun depan.
"Enggak bisa pindah [ke lain cabang] karena terlalu cinta. Atletik itu cinta pertama dan ingin jadi yang terakhir juga. Jadi kayanya enggak mau pindah juga," kata Evi usai lomba di Stadion Utama Gelora Bung Karno [SUGBK] Senayan, Rabu (10/10).

Evi harus menerima kondisinya yang berbeda dengan teman-temannya. Ia terlahir dengan kaki kanannya yang lebih panjang tujuh sentimeter dari kaki kirinya.

Meski begitu, kedua orang tua Evi, Riyanto dan Istiqomah tak pernah memperlakukan anaknya berbeda, baik di keluarga maupun di lingkungan sosial.

Kondisi itu yang membuat Evi selalu percaya diri dalam setiap penampilannya. Termasuk satu medali emas dan satu perak (lompat jauh) yang diraih di Asian Para Games 2018.

Karisma Evi sebelumnya meraih medali perak di nomor lompat jauh.Karisma Evi sebelumnya meraih medali perak di nomor lompat jauh. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
"Rahasianya fokus latihan, sama jaga kesehatan. Rasanya lega karena targetnya minimal satu emas, saya pribadi maunya dua. Tapi karena belum bisa [dua emas], saya cukup puas dengan hasil ini," terang Evi.

Dua medali di Asian Para Games 2018 ini dipersembahkan Evi untuk keluarga, teman-teman dan seluruh masyarakat Indonesia.

"Bonus rencananya buat umrah sekeluarga dan tabungan sekolah. Insya Allah umrah tahun depan. Umrah ini juga sudah nazar dari sebelum Asian Para Games," sebut Evi.

Seperti anak-nak lain, cita-cita Evi ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Apalagi, sang ayah Riyanto kini sudah pensiun dari pekerjaannya sebagai buruh tambang pasir.

Evi dan kakaknya, Gilang Yahya Priyanggi yang bekerja di pabrik tekstil bertugas menggantikan posisi ayah sebagai tulang punggung keluarga.

"Bapak karena usia jadi berhenti dari pekerjaan di tambang pasir, sedangkan ibu rumah tangga. Jadi saya sama kakak berusaha bantu [keluarga]," terang bungsu dari dua bersaudara itu.

Untuk para teman-teman disabilitas lain, Evi berpesan supaya mereka bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia.

"Kita semua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk Indonesia di tengah keterbatasan," ujarnya. (TTF/sry)