Analisis

Kupas Kans Timnas Indonesia di Piala AFF 2018

CNN Indonesia | Kamis, 08/11/2018 20:09 WIB
Kupas Kans Timnas Indonesia di Piala AFF 2018 Mengupas kans Timnas Indonesia di Piala AFF 2018. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Timnas Indonesia untuk kesekian kali kembali menancapkan asa mengejar gelar kali ini di Piala AFF 2018. Skuat Garuda masih berstatus sebagai 'Raja Tanpa Mahkota' di Asia Tenggara.

Pasalnya, belum satu pun gelar juara yang diraih Indonesia sejak hajatan sepak bola se-Asia Tenggara itu digelar pada 1996 dan masih bernama Piala Tiger.

Kini Piala AFF sudah memasuki edisi ke-12 dan prestasi Merah Putih hanya mentok sebagai spesialis finalis. Total sudah lima kali final dari total edisi tersebut yang pernah diraih Garuda.


Predikat runner-up terbaru pada edisi sebelumnya. Pada laga final 2016, Indonesia dikalahkan tim kuat Thailand sekaligus menyabet gelar juara untuk kelima kalinya. Gajah Perang pun menjadi tim yang paling banyak meraih trofi di atas Singapura yang sudah mengoleksi empat gelar juara.

Kendati digagalkan Thailand pada Piala AFF 2016, prestasi Garuda tembus ke final justru dinilai sebagai kejutan karena tim arahan Alfred Riedl saat itu sempat tak diperhitungkan. Sebab, saat itu Indonesia baru terbebas dari sanksi FIFA.

Persiapannya pun dianggap kurang ideal saat itu. Salah satunya adalah aturan yang membatasi Riedl untuk memilih para pemain. PSSI menegaskan Timnas Indonesia hanya boleh memanggil maksimal dua pemain dari setiap klub yang bertarung di kompetisi Indonesia Soccer Championship 2016.
Timnas Indonesia arahan Alfred Riedl secara mengejutkan mampu tembus ke final Piala AFF 2018. (Timnas Indonesia arahan Alfred Riedl secara mengejutkan mampu tembus ke final Piala AFF 2018. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Pelatih asal Austria itu pun beberapa kali mengeluhkan kondisi tersebut. Padahal, ia ditargetkan membawa Garuda juara atau setidaknya ke final. Tentu menjadi misi yang nyaris mustahil baginya.

Dalam kondisi itu, Merah Putih rupanya masih bisa memenuhi target minimal ke final. Meski dibatasi dengan aturan kuota maksimal pemain dari klub, Boaz Solossa dan kawan-kawan memiliki program latihan yang cukup baik di bawah arahan Riedl.

Kondisi berbeda yang dialami Timnas Indonesia tahun ini. Situasinya sedikit lebih pelik. Bima Sakti secara dadakan ditunjuk sebagai pelatih setelah PSSI memutuskan membatalkan pembaruan kontrak Luis Milla sebagai juru taktik.

Bima Sakti ditunjuk sebagai pelatih pada 21 Oktober atau 18 hari waktu persiapan sebelum kick-off Merah Putih bertandang ke markas timnas Singapura pada 9 November.

Mantan gelandang Timnas Indonesia itu dinilai sebagai sosok yang tepat karena pernah menjadi asisten Luis Milla. Ia dianggap sudah memahami sistem yang sudah dibangun pelatih asal Spanyol tersebut selama hampir dua tahun. Bima Sakti juga dibantu mantan pemain yang cukup karismatik, Kurniawan Dwi Yulianto dan Kurnia Sandy, sebagai asisten pelatih.

Komposisi skuat yang dipilih Bima Sakti beserta Kurniawan dan Kurnia Sandy juga mayoritas dari eks skuat Asian Games 2018 arahan Luis Milla.

Di posisi kiper ada nama Andritany Ardhiyasa dan Awan Setho. Di lini belakang juga lima dari delapan bek merupakan lulusan Asian Games 2018, salah satunya sang kapten Hansamu Yama Pranata. Begitu pula di lini tengah, delapan dari 10 pemain pernah memperkuat Garuda Muda di ajang multicabang tersebut.

Beto Goncalves pun masuk dalam skuat Piala AFF 2018 ditemani Dedik Setiawan di lini depan. Ada pun nama-nama pemain senior lainnya yang masuk antara lain, Rizky Rizaldi Pora, Fachruddin Aryanto, Bayu Pradana, Riko Simanjuntak, dan Andik Vermansah menggantikan Saddil Ramdani yang dicoret dari skuat besutan Bima Sakti.

Nama-nama seperti Boaz Solossa dan Irfan Bachdim yang merupakan skuat Piala AFF 2016, tak lagi dipanggil. Pun dengan nama pemain asal Argentina yang baru dinaturalisasi, Esteban Vizcarra, tak masuk hitungan.

Permainan Boaz dan Irfan Bachdim yang tak terlalu menonjol lagi di klub masing-masing bisa jadi pertimbangan Bima Sakti untuk tak memanggilnya.

Sementara Vizcarra sebenarnya punya kemampuan sebagai pengatur serangan dan bisa berperan jadi penyerang sayap. Namun, posisi itu dianggap tak terlalu mendesak karena sudah ada pemain di peran itu seperti Evan Dimas yang merupakan sosok play maker. Begitu pun para pemain di sektor sayap yang cukup berlimpah jumlahnya.

Boaz Solossa tak masuk dalam skuat Piala AFF 2018. (Boaz Solossa tak masuk dalam skuat Piala AFF 2018. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Bima Sakti tak mau mengambil risiko bongkar pasang fondasi permainan yang sudah dibangun Luis Milla. Semenjak ditangani mantan pelatih Timnas Spanyol U-21 itu, Tim Merah Putih diyakini mulai memiliki karakter permainan.

Di antara yang menjadi andalan adalah permainan cepat yang didominasi umpan-umpan pendek dan transisi permainan dari bertahan ke menyerang.

Serangan-serangan di dua lini sayap juga jadi andalan skuat Garuda selama ini. Pertahanan Hansamu Yama dan kawan-kawan juga cukup solid di lini depan.

Dalam tiga kali uji coba usai gelaran Asian Games 2018, Indonesia hanya kebobolan sekali saat ditahan imbang Hong Kong 1-1. Mereka meraih dua kali kemenangan atas Mauritius 1-0 dan Myanmar 3-0.

Membaca Peta Kekuatan Lawan

Timnas Indonesia bukan tanpa kelemahan. Merah Putih bahkan masih lemah dalam hal antisipasi bola-bola atas termasuk umpan-umpan bola mati. Mereka bakal satu grup dengan Singapura dan Filipina, dua tim yang memiliki keunggulan dalam bola-bola atas.

Thailand dan Timor Leste juga segrup di Grup B bersama Timnas Indonesia. Kendati dihuni tim-tim bagus macam skuat Gajah Perang, Singapura, dan Filipina, peluang Merah Putih untuk lolos fase grup masih lumayan aman.

Pasalnya, negara macam Thailand dan Singapura tak menurunkan skuat terbaik mereka seperti pada edisi sebelumnya.

Timnas Thailand saat berlaga di Asian Games 2018. (Timnas Thailand saat berlaga di Asian Games 2018. (CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP)
Timnas Thailand, penjaga gawang Kawin Thamsatchanan, bek Theerathon Bunmathan, gelandang Chanathip Songkrasin dan Charyl Chappuis serta bomber Gajah Perang Teerasil Dangda tidak masuk dalam daftar yang disetor pelatih Milovan Rajevac.

Begitu pula Singapura, tanpa diperkuat pemain naturalisasi dengan mayoritas para pemain muda di tim arahan Fandi Ahmad. Hanya Filipina yang kemungkinan menjadi tim Kuda Hitam dengan pelatih level dunia seperti Sven Goran Eriksson.

Untuk lolos ke semifinal tampaknya bukan perkara sulit, tapi kans untuk ke final bakal berat bagi Garuda. Di Grup A ada Malaysia dan Vietnam yang tahun ini sangat serius membangun kekuatan mereka.

Tim Harimau Malaya misalkan, mereka diperkuat gelandang naturalisasi asal Gambia, Mohamadou Sumareh. Vietnam juga masih mengandalkan sejumlah pemain berkualitas macam Nguyen Van Quyet, Luong Xuan Truong dan Phan Van Duc.

Timnas Malaysia amat serius membangun kekuatan untuk Piala AFF 2018. (Timnas Malaysia amat serius membangun kekuatan untuk Piala AFF 2018. (TANG CHHIN SOTHY / AFP)
Timnas Malaysia dan Vietnam memiliki peluang lolos yang cukup besar ke semifinal. Dua tim itu pun kerap menjadi momok bagi Garuda.

Bima Sakti pun sebelumnya mengatakan ia terus fokus pada mental para pemainnya terutama pada laga perdana. Sebab, laga pembuka di Piala AFF kerap menjadi batu sandungan para pemain Garuda.