Ini yang dirasakan mantan pesilat Indonesia, Marina Segedi. Di usianya yang sudah 54 tahun, nenek dari tujuh orang cucu masih banting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Padahal, dulu dia berhasil jadi juara ketika cabang olahraga pencak silat pertama kali dipertandingkan antar negara Asia Tenggara di Singapura pada 1980.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepulang dari Singapura, Marina yang ketika itu berstatus siswi Sekola Menengah Atas mendapat beasiswa supersemar selama setahun.
Marina Segedi mendapat penghargaan sebagai salah satu mantan atlet yang pernah berprestasi di Asia Tenggara. (Foto: CNN Indonesia/M. Arby Rahmat) |
"Saya jualan sembako di rumah selama tidak sampai setahun karena banyak saingan warung kecil, lalu buka warung makan gabung dengan teman selama dua tahun, dan jadi supir taksi Blue Bird lalu taksi online di Grab," katanya.
"Hijrah [ke Sulawesi], untuk kerja sama tamu saya saat di taksi dulu. Dia mengajak saya," ucap Marina.
"Tapi karena orang tua sakit-sakitan, saya pulang lagi ke Jakarta dan ya sudah memulai lagi di atas roda [jadi supir taksi]. Tapi sekarang puji Tuhan pakai mobil sendiri walau masih kredit," ucapnya menambahkan.
Marina sebetulnya sempat juga mencoba buka tempat latihan silat, namun tidak bertahan lama.
Lihat juga:Nasib Teco di Persija Dipastikan Pekan Depan |
"Apalagi sekarang banyak gadget. Jadi anak-anak kalau kurang perhatian dan tidak disemangatidari orang tuanya, memang agak kesulitan juga jadi pelatih. Saya kan kepala rumah tangga," tuturnya melanjutkan.
Mendatang, Marina berharap bisa mendapat pensiun dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI).
"Supaya hidup tidak susah, terutama asuransi kesehatan dan pensiun. Saya punya empat anak, tujuh cucu. Saya sudah cerai dengan suami," ujar Marina. (map/bac)
Marina Segedi mendapat penghargaan sebagai salah satu mantan atlet yang pernah berprestasi di Asia Tenggara. (Foto: CNN Indonesia/M. Arby Rahmat)