Marina Segedi, Sopir Online Mantan Juara Silat Asia Tenggara

CNN Indonesia | Selasa, 18/12/2018 02:01 WIB
Marina Segedi, Sopir Online Mantan Juara Silat Asia Tenggara Mantan juara silat Asia Tenggara Marina Segedi kini memilih menjadi sopir online di usianya yang sudah 54 tahun demi menyambung hidup. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kehidupan seorang atlet tak melulu memiliki masa depan cerah dan kehidupan makmur buah dari prestasi dan jerih payah perjuangan selama bertahun-tahun.

Ini yang dirasakan mantan pesilat Indonesia, Marina Segedi. Di usianya yang sudah 54 tahun, nenek dari tujuh orang cucu masih banting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Padahal, dulu dia berhasil jadi juara ketika cabang olahraga pencak silat pertama kali dipertandingkan antar negara Asia Tenggara di Singapura pada 1980.


"Ketua IPSI [Ikatan Pencak Silat Indonesia] waktu itu Bapak H. Edy Mardjuki Nalapraya. Saat itu beliau masih Wagub DKI [Wakil Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta]. Saya bangga sekali karena bisa memperkenalkan pencak Silat budaya asli Indonesia ke negara lain, sehingga sampai saat ini banyak sekali orang-orang dari negara lain bahkan sudah banyak di dunia menggemari pencak silat yang merupakan olahraga aslinya orang Indonesia," kata Marina kepada CNNIndonesia.com dalam sela acara Penghargaan Atlet Wanita Pada Masanya di Auditorium Mutiara Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada Senin (17/12).

Sepulang dari Singapura, Marina yang ketika itu berstatus siswi Sekola Menengah Atas mendapat beasiswa supersemar selama setahun.

Marina Segedi mendapat penghargaan sebagai salah satu mantan atlet yang pernah berprestasi di Asia Tenggara. (Marina Segedi mendapat penghargaan sebagai salah satu mantan atlet yang pernah berprestasi di Asia Tenggara. (Foto: CNN Indonesia/M. Arby Rahmat)
Keadaan mulai berubah ketika Marina memutuskan pensiun pada 1987. Ia mulai mencoba berjualan sembako di rumah.

"Saya jualan sembako di rumah selama tidak sampai setahun karena banyak saingan warung kecil, lalu buka warung makan gabung dengan teman selama dua tahun, dan jadi supir taksi Blue Bird lalu taksi online di Grab," katanya.

Marina memilih jadi sopir karena ia mengaku senang dengan otomotif. Kesenangan pada dunia otomotif berawal saat ia coba belajar menyetir mobil ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Pekerjaan sebagai supir taksi bahkan sampai membawa dia pergi ke Sulawesi.

"Hijrah [ke Sulawesi], untuk kerja sama tamu saya saat di taksi dulu. Dia mengajak saya," ucap Marina.

"Tapi karena orang tua sakit-sakitan, saya pulang lagi ke Jakarta dan ya sudah memulai lagi di atas roda [jadi supir taksi]. Tapi sekarang puji Tuhan pakai mobil sendiri walau masih kredit," ucapnya menambahkan.

Marina sebetulnya sempat juga mencoba buka tempat latihan silat, namun tidak bertahan lama.

"Ya itu lah, anak-anak sekarang itu agak manja. Kadang kalau lagi ramai, ramai. Nanti [belakangan] bosan," tutur dia.

"Apalagi sekarang banyak gadget. Jadi anak-anak kalau kurang perhatian dan tidak disemangatidari orang tuanya, memang agak kesulitan juga jadi pelatih. Saya kan kepala rumah tangga," tuturnya melanjutkan.

Mendatang, Marina berharap bisa mendapat pensiun dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI).

"Supaya hidup tidak susah, terutama asuransi kesehatan dan pensiun. Saya punya empat anak, tujuh cucu. Saya sudah cerai dengan suami," ujar Marina. (map/bac)