Plus-Minus Olahraga Indonesia di Empat Tahun Jokowi

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 20/10/2018 08:15 WIB
Plus-Minus Olahraga Indonesia di Empat Tahun Jokowi Indonesia meraih sukses di Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018 di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. (ANTARA FOTO/INASGOC/Ismar Patrizki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terdapat plus-minus di dunia olahraga Indonesia sepanjang empat tahun masa jabatan Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia.

Pengamat olahraga nasional Tommy Apriantono mengatakan salah satu plusnya adalah kesuksesan penyelenggaraan maupun prestasi Indonesia di ajang Asian Games dan Asian Para Games 2018.

Lewat waktu persiapan yang dianggap mepet, penyelenggaraan Asian Games maupun Asian Para Games di Indonesia mendapat pengakuan dan apresiasi dari negara-negara Asia yang kagum dengan cara pemerintah mempersiapkan.


"Plusnya prestasi Asian Games dan Asian Para Games sebagai penyelenggara maupun dari segi prestasi sangat bagus. Minusnya Menpora dianggap belum punya cetak biru perencanaan olahraga jangka panjang Indonesia seperti apa," kata Tommy kepada CNNIndonesia.com, Jumat (19/10).

Di Asian Games 2018, Indonesia menempati peringkat keempat Asia dengan raihan 31 medali emas, 24 perak dan 43 perunggu. Hasil itu melesat jauh dari target yang dicanangkan pemerintah, yakni berada di posisi sepuluh besar dengan raihan 16 medali emas.

Indonesia juga meraih prestasi terbaik di Asian Para Games 2018. Hanya menargetkan berada di peringkat delapan dengan minimal 16 medali emas. Target itu meleset ke atas seperti keinginan Presiden Jokowi. Indonesia berada di posisi kelima dengan 37 emas, 47 perak, dan 51 perunggu.

Presiden Jokowi dianggap bagus dalam memberikan bonus untuk atlet.Presiden Jokowi dianggap bagus dalam memberikan bonus untuk atlet. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Meski begitu, Indonesia juga gagal meraih target prestasi di SEA Games 2015 Singapura usai finis kelima dalam daftar perolehan medali. Begitu juga di SEA Games 2017 Kuala Lumpur, Malaysia, Indonesia tidak dapat memperbaiki peringkat posisinya dari urutan kelima.

"Kalau dianalisa kita kemungkinan bisa melorot jauh di Asian Games selanjutnya bukan karena prestasi kita yang jelek, tapi cabang olahraganya yang tidak bakal ada di Asian Games nanti. Artinya bakal ada fluktuasi prestasi. Sebab itu diharapkan nantinya Kemenpora dan pengurus cabor punya cetak biru, jadi programnya jelas," ucap Tommy.

Pemerintahan Jokowi juga patut diapresiasi karena bisa memberikan kesetaraan bonus bagi para atlet peraih medali di Asian Games dan Asian Para Games. Hal itu disebut Tommy tidak pernah dilakukan presiden sebelumnya.

"Saya melihat sudah bagus. Menjanjikan. Selama ini presiden sebelumnya tidak pernah memperhatikan bonus untuk para atlet disabilitas dan diberikan tepat waktu," ungkap Tommy.

Presiden Jokowi ketika memberikan bonus untuk atlet peraih medali Asian Para Games 2018.Presiden Jokowi ketika memberikan bonus untuk atlet peraih medali Asian Para Games 2018. (CNN Indonesia/Ulfa Arieza)
Selain itu pemerintah juga dianggap belum serius membangun infrastruktur olahraga yang menyeluruh ke daerah. Meskipun bukan urusan Presiden langsung, Tommy mengatakan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah bisa fokus terhadap pembangunan infrastrukur dan sistem di keolahragaan Indonesia.

"Satlak Peima kemarin dibubarkan, tapi tidak dievaluasi, tidak dijelaskan alasan kenapa dibubarkan. Sebab kalau disebut masalahnya anggaran, sampai sekarang juga masih bermasalah," terangnya.

Masalah lain yang dianggap penting oleh Tommy adalah pemerintah juga belum menganggap penting olahraga. Itu terlihat dari jumlah anggaran yang dikucurkan untuk bidang olahraga. Sekalipun dana yang dikeluarkan untuk olahraga terlihat besar di dua tahun terakhir, hal itu lantaran Indonesia jadi tuan rumah Asian Games dan Asian Para Games.

Pembangunan infrastruktur olahraga di daerah dianggap belum merata. Pembangunan infrastruktur olahraga di daerah dianggap belum merata. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Hambalang yang disebut sebagai kunci prestasi olahraga Indonesia pun masih tidak jelas akhirnya. Sementara menjadikan kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan sebagai pusat pelatihan nasional bukan jalan keluar.

Menurut Tommy, GBK tidak dilengkapi dengan dukungan sport science untuk mengetahui perkembangan kemampuan para atlet. Selain itu juga diperlukan cara untuk mengidentifikasi bakat-bakat atlet di daerah.

"Mudah-mudahan ke depan kita bisa lebih baik. Terutama untuk persiapan ke Olimpiade 2020 yang jadi bukti akhir Pak Jokowi dan Menpora. Bagaimana bisa meloloskan sebanyak-banyaknya atlet Indonesia ke Olimpiade melalui klasifikasi bukan wildcard," ucap Tommy. (TTF/har)