Lika-liku PSSI Bersama Edy Rahmayadi

CNN Indonesia | Minggu, 20/01/2019 13:43 WIB
Lika-liku PSSI Bersama Edy Rahmayadi Banyak pro dan kontra yang mewarnai kepemimpinan Edy Rahmayadi di PSSI. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Edy Rahmayadi mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI dalam Kongres di Bali, Minggu (20/1). Banyak pro-kontra yang terjadi selama Edy memimpin PSSI.

Terpilih dalam Kongres di Hotel Mercure, Jakarta, 10 November 2016, Edy berhasil menduduki jabatan PSSI periode dengan torehan 76 suara mengalahkan calon lainnya, yakni Moeldoko dan Eddy Rumpoko.

Gebrakan pertama Edy usai memimpin PSSI adalah memilih pelatih untuk empat kelompok Timnas Indonesia, yakni senior, U-22, U-19 dan U-16. Ketika itu Edy mendapat banyak dukungan karena memilih Luis Milla sebagai pelatih Timnas Indonesia senior dan U-22, Indra Sjafri di U-19, dan Fakhri Husaini di U-16.


Banyak yang berharap Edy mampu membawa perubahan dalam PSSI. Terlebih ketika itu Edy masih menjabat sebagai Pangkostrad ketika terpilih sebagai Ketum PSSI. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, Edy mulai mendapat desakan mundur.

Setelah Timnas Indonesia gagal di SEA Games 2017, Edy semakin mendapat kritikan setelah memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Utara. Keputusan itu membuat Edy semakin mendapat desakan untuk mundur karena dianggap tidak akan fokus ketika rangkap jabatan.

Edy rahmayadi menyerahkan jabatan kepada Joko Driyono selaku Plt Ketum PSSI.Edy rahmayadi menyerahkan jabatan kepada Joko Driyono selaku Plt Ketum PSSI. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Menariknya Edy tetap mendapat kepercayaan dari para anggota PSSI meski terpilih sebagai Gubernur Sumatera Utara pada Juli 2018. Dua jabatan dijalani Edy secara bersamaan, meski pada akhirnya pria kelahiran Sabang, Aceh, itu jarang hadir langsung dalam rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI.

Desakan mundur kembali didapat Edy setelah PSSI memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak Milla usai Asian Games 2018. Padahal Timnas Indonesia akan menghadapi Piala AFF 2018, turnamen yang hingga kini belum pernah Indonesia menangi. Bima Sakti pun ditunjuk sebagai pengganti.

Sikap Edy juga tidak banyak membantu setelah sering mengeluarkan pernyataan kontroversial, termasuk menyalahkan wartawan ketika Timnas Indonesia gagal di Piala AFF 2018.

Tagar #EdyOut banyak beredar di media sosial setelah Timnas Indonesia gagal di babak grup Piala AFF 2019. Dalam perjalanan menuju Kongres Tahunan PSSI 2019, Edy tidak henti-hentinya mendapat desakan mundur setelah muncul kasus pengaturan skor yang menimpa sejumlah petinggi PSSI.

Kini Edy memutuskan mundur di saat PSSI sedang babak belur dihajar kasus pengaturan skor. Beban berat pun menanti siapa saja yang akan menggantikan posisi Edy sebagai Ketua Umum PSSI. (har/sry)