Pengamat: Perlu Kantong Tebal untuk Jadi Ketua PSSI

CNN Indonesia | Sabtu, 23/02/2019 12:47 WIB
Pengamat: Perlu Kantong Tebal untuk Jadi Ketua PSSI Ketua Umum PSSI dinilai harus punya modal finansial dan relasi yang kuat. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selain harus punya integritas, calon Ketua Umum PSSI disebut wajib berkantong tebal. Demikian diungkapkan Supriyono sebagai pengamat sepak bola nasional.

PSSI bakal segera menggelar Kongres Luar Biasa pasca Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Joko Driyono ditetapkan Satuan Tugas (Satgas) Anti Mafia Bola sebagai tersangka kasus perusakan dan pencurian barang bukti di kantor Komisi Disiplin PSSI.

Supriyono mengatakan KLB menjadi penting untuk digelar agar induk organisasi sepak bola Indonesia tersebut tidak terlalu lama berjalan tanpa pemimpin.


"Apalagi masyarakat menanti terobosan untuk sepak bola Indonesia lebih maju di lima sampai 10 tahun mendatang. Ketua Umum PSSI berikutnya harus punya integritas, punya wawasan, tahu sepak bola dan punya duit. Karena tanpa duit, repot," kata Supriyono kepada CNNIndonesia.com.

Supriyono tak bisa memberikan gambaran seberapa besar uang yang diperlukan untuk seseorang menjadi Ketum PSSI. Yang jelas, ia menilai sulit bagi mantan pemain nasional untuk menjadi orang nomor satu di sepak bola Indonesia.

Joko Driyono berstatus tersangka.Joko Driyono berstatus tersangka. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
"Belum berani [mantan pemain nasional jadi Ketua Umum PSSI]. Terutama ya tadi: duit. Perlu duit yang tebal untuk pimpin sebuah organisasi di Indonesia," ucap mantan pemain Timnas Indonesia era Primavera tersebut.

"Selain itu, perlu relasi yang kuat untuk bisa mendapatkan duit agar bisa memutar sebuah kompetisi yang berjenjang dan berkesinambungan," ucapnya menambahkan.

Kali terakhir pucuk kekuasaan PSSI dipimpin mantan pemain nasional di era Djohar Arifin Husin pada 2011-2015. Semasa bermain Djohar pernah memperkuat PSL Langkat dan PSMS Medan.

Akan tetapi banyak kontroversi yang terjadi di kepemimpinan Djohar yang menggantikan Nurdin Halid itu. Mulai dari mengubah nama kompetisi menjadi Liga Primer Indonesia, hingga liga itu yang tidak berakhir dengan tuntas. Selain itu muncul juga dualisme kepengurusan induk sepak bola, versi Djohar dan La Nyalla Mattalitti.

Lebih lanjut, Supriyono juga memberikan pandangan mengenai nama-nama yang beredar untuk menjadi Ketua Umum PSSI sebagai pengganti Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi sebagai Ketua seperti Brigjen Pol Krishna Murti, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan, dan Komjen Pol (Purnawirawan) Budi Waseso.

"Dari sisi ketegasan, beliau-beliau pantas. Tapi apakah link dan relasi mumpuni juga? Sudah saja ambil Erick Thohir [Ketua Komite Olimpiade Indonesia] tapi dia harus keluar dari organisasi yang lain," ujar Supriyono. (map/jun)


BACA JUGA