Rene Alberts tidak asing dengan sepak bola Indonesia. Sosok 64 tahun itu kali pertama berkarier di Indonesia dengan membesut Arema pada musim kompetisi 2009/2010 setelah pindah dari Sarawak FA.
Lihat juga:Resmi: Rene Alberts Latih Persib Bandung |
Singo Edan juga menjadi runner up Piala Indonesia 2010. Skuat yang kala itu dihuni Kurnia Meiga, Noh Alam Shah, dan Ahmad Bustomi itu kalah 1-2 dari Sriwijaya di final.
Sukses di Arema, Rene Alberts tidak melanjutkan karier di Kota Apel dan memilih PSM Makassar sebagai klub baru. Bersama Laskar Ramang pelatih yang pernah bermain sebagai gelandang itu tidak bertahan lama seiring keinginan manajemen yang memutuskan PSM beralih dari ISL ke Indonesian Premier League (IPL).
PSM Makassar bertahan di papan atas dalam dua musim penyelenggaraan Liga 1. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang) |
Empat tahun di Malaysia, Rene Alberts kembali memutuskan ke Indonesia dengan kembali menangani PSM di ajang Indonesia Soccer Championship (ISC).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karier pelatih asal Belanda itu tidak hanya seputar Serawak, Arema, dan PSM. Klub pertama yang ditanganinya adalah klub Swedia Hittarpas pada 1984 hingga 1987 dan berlanjut ke klub Astorps pada 1988 hingga 1991.
Rene Alberts kemudian berkelana ke Malaysia menangani Kedah FA pada 1992 hingga 1995 dan menghasilkan gelar Liga Malaysia serta Piala Malaysia pada 1993.
Berdasarkan pengalaman melatih di Indonesia, Rene Alberts pun pernah mengungkapkan borok dalam kompetisi nasional. Ia mengaku tidak asing dengan pengaturan skor dan berharap pihak berwenang dapat melakukan tindakan mengenai perilaku menyimpang di sepak bola Indonesia. (nva/har)
PSM Makassar bertahan di papan atas dalam dua musim penyelenggaraan Liga 1. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)