Bali United dan Klub-klub Luar Negeri yang IPO

CNN Indonesia | Senin, 24/06/2019 07:12 WIB
Bali United dan Klub-klub Luar Negeri yang IPO Tim Liga Super China, Guangzhou Evergrande, jadi klub sepak bola pertama di Asia yang melantai di bursa saham. (Thomas Peter)
Jakarta, CNN Indonesia --
Bali United resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Senin (17/6). Serdadu Tridatu jadi klub pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang masuk ke pasar modal.

Bali United atau PT Bali Bintang Perkasa Tbk mengikuti jejak klub ternama asal China, Guangzhou Evergrande, yang merupakan klub pertama Asia yang menjual saham ke publik (go public). Bali United melepas 33,33 persen saham dan meraup dana sebesar Rp350 miliar.

Reaksi yang ditunjukkan publik pun cukup positif dengan kedatangan Bali United dengan kode saham BOLA tersebut. Saham tim asal Pulau Dewata itu sempat melambung 69,14 persen ke level Rp296 per saham pada pembukaan perdagangan perdana.

Padahal, saat masa penawaran umum saham perdana atau Initial Public Offering (IPO), harga saham yang ditetapkan di level Rp 175 per saham. Sepanjang minggu ini, saham Bali United terus merangkak naik.

Saham klub milik Pieter Tanuri dan Yabes Tanuri terus merangkak naik sepanjang minggu ini. Pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (20/6), saham BOLA naik 2,66 persen ke level Rp386 per saham.


Euforia tersebut pun membanggakan meski potensi risiko tetap harus diwaspadai Bali United karena prestasi sebuah klub akan ikut berpengaruh dalam pergerakan saham mereka.

Ilustrasi pialang saham di Bursa Efek Indonesia. (Ilustrasi pialang saham di Bursa Efek Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Klub yang melantai di bursa saham memang bukan hal baru apabila mengacu klub-klub Eropa. Dilansir The Economist, tahun 1992 atau sejak era Liga Primer Inggris, klub ramai-ramai masuk ke pasar modal.

Pada pertengahan tahun 1990-an bahkan sampai 27 tim melantai di bursa saham karena pendapatan hak siar yang melonjak.

Ketika itu saham klub bola asal Inggris dipatok dengan harga tinggi, tetapi tidak berbanding lurus saat periode pembagian dividen.

Hal itu membuat klub-klub yang turun ke bursa saham tidak bisa membagikan keuntungan sehingga harga pasar mereka pun anjlok. Akibatnya di awal era 2000-an banyak klub Inggris yang menarik diri dari bursa saham karena ketidakpuasan dari pemegang saham karena prestasi klub dan biaya memahami aturan perusahaan publik yang mencapai £100 ribu per tahun.

Kendati demikian, cukup banyak klub sepak bola yang hingga saat ini tercatat melantai di bursa saham. Di antaranya Manchester United, Arsenal, Juventus, Ajax Amsterdam, hingga klub Denmark FC Kobenhavn.

Bali United dan Klub Luar Negeri IPO
Kobenhavn malah melakukan diversifikasi bisnis untuk menunjang kinerja mereka di bursa saham. Mulai dari akuisisi Stadion Parken, akuisisi promotor musik Rockshow, hingga membeli perusahaan industri kebugaran Fintessdk.

Keberadaan anak usaha ini punya pengaruh signifikan untuk mengurangi ketergantungan terhadap hasil pertandingan dan membantu untuk menjaga stabilitas harga saham. Sejak tahun lalu, Bali United mendirikan PT Kreasi Karya Bangsa (Perdagangan Umum dan Jasa), PT Bukit Radio Swara Indah (Siaran Radio), PT Bali Boga Sejahtera (Jasa Boga, Restoran, dan Kafe), dan PT IOG Indonesia Sejahtera (Aktivitas olahraga dan rekreasi lainnya).

Bahkan PT Kreasi Karya Bangsa turut membantu empat klub Liga 1: PSS Sleman, Arema FC, PSIS Semarang, Semen Padang, dan satu klub Liga 2 yaitu PSMS Medan dalam mencari sponsor. (jal/bac)