TESTIMONI
Takdir Kaki Palsu M. Fadli
M. Fadli Imammuddin | CNN Indonesia
Senin, 15 Jul 2019 08:00 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Fokus saya satu-satunya adalah memperbaiki capaian setelah tampil tidak memuaskan di ARRC 2015 seri pertama. Untuk meraih hasil terbaik saya membeli motor 600cc.
Dengan memiliki motor itu, saya pun jadi lebih leluasa melatih diri menunggangi motor yang memang dipakai buat balapan ARRC. Seminggu saya latihan empat kali di Sentul. Semangat untuk jadi juara di 'rumah sendiri' makin menjadi-jadi.
Optimisme lain lahir lantaran istri saya sedang hamil delapan bulan. Tidak ada yang lebih sempurna selain kemenangan dan merayakannya bersama dengan buah hati dalam beberapa pekan ke depan, itu yang saya pikirkan waktu itu.
"Nanti abis aku balapan kita cek ke dokter kandungan ya," itu kalimat yang saya ucapkan kepada Diah Asri Astyavi, istri tercinta, ketika masih di rumah sebelum berangkat ke Sentul. Saya dan istri kemudian menuju Sirkuit pada pukul enam pagi setelah menyelesaikan sarapan.
Balap ARRC selalu berlangsung dua race, yang pertama berlangsung pagi, kira-kira pukul sembilan, yang kedua kedua berlangsung sekitar pukul tiga sore. Setelah sampai sirkuit, saya bersiap di paddock tim. Berbicara dan berkomunikasi dengan tim menyambut balapan pertama. Setelah menyelesaikan persiapan, saya pun bersiap berlomba. Usai lap pemanasan, bendera start berkibar.
Lap demi lap saya lalui, hasilnya saya menempati peringkat kedua. Memang saya gagal finis pertama, tetapi itu bukan hasil yang buruk. Race pertama selesai, saya berkumpul di paddock bersama teman-teman dan istri. Berbincang soal balapan, makan siang, dan bahkan saya sempat tidur untuk mengisi tenaga sebelum race kedua.
Menjelang balapan saya kembali mempersiapkan diri dan motor. Kecuali langit yang sedikit mendung, tidak ada perbedaan yang saya rasakan dengan race pertama. Balapan pun saya lakukan, benar-benar enak, nyaman, saya terus memimpin. Saya pun menjadi pebalap pertama yang melihat bendera finis, saya juara, ambisi saya tercapai.
Tetapi kemenangan itu ternyata cuma sebentar, saya ditabrak dari belakang!
Saya akhirnya benar-benar ke rumah sakit. Lebih cepat bahkan. Bukan untuk menemani istri mengecek kondisi kehamilan jelang kelahiran, tetapi untuk menjalani rawat inap berbulan-bulan lantaran kondisi kaki saya yang tak lagi sempurna.
Sebenarnya setelah insiden tersebut, saya masih bersama kaki kiri saya selama enam bulan. Namun dengan kaki yang tidak optimal lagi, saya memutuskan untuk mengamputasinya.
Dengan satu kaki asli dan satu kaki buatan, saya pun kembali menjalani kehidupan, termasuk mengaspal lagi di Sentul.
Pagi itu, 7 Juni 2015, tidak ada yang berbeda dengan hari-hari lainnya. Sejuk di Sentul dan senyum istri menyambut saya setelah bangun tidur. Saya benar-benar merasa segar dan optimistis menyambut balapan Asian Road Race Championship (ARRC) 2015 seri kedua yang berlangsung di Sirkuit Sentul.
Tidak ada persiapan yang berlebihan untuk balapan di Sirkuit Sentul, karena jarak antara rumah saya dan sirkuit yang dekat membuat saya tidak perlu menginap di hotel.
Tidak ada persiapan yang berlebihan untuk balapan di Sirkuit Sentul, karena jarak antara rumah saya dan sirkuit yang dekat membuat saya tidak perlu menginap di hotel.
Dengan memiliki motor itu, saya pun jadi lebih leluasa melatih diri menunggangi motor yang memang dipakai buat balapan ARRC. Seminggu saya latihan empat kali di Sentul. Semangat untuk jadi juara di 'rumah sendiri' makin menjadi-jadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
M Fadli lebih dulu dikenal sebagai pebalap motor. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni) |
Balap ARRC selalu berlangsung dua race, yang pertama berlangsung pagi, kira-kira pukul sembilan, yang kedua kedua berlangsung sekitar pukul tiga sore. Setelah sampai sirkuit, saya bersiap di paddock tim. Berbicara dan berkomunikasi dengan tim menyambut balapan pertama. Setelah menyelesaikan persiapan, saya pun bersiap berlomba. Usai lap pemanasan, bendera start berkibar.
Dunia balap sudah diakrabi M Fadli sejak remaja. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Tetapi kemenangan itu ternyata cuma sebentar, saya ditabrak dari belakang!
Saya akhirnya benar-benar ke rumah sakit. Lebih cepat bahkan. Bukan untuk menemani istri mengecek kondisi kehamilan jelang kelahiran, tetapi untuk menjalani rawat inap berbulan-bulan lantaran kondisi kaki saya yang tak lagi sempurna.
Dengan satu kaki asli dan satu kaki buatan, saya pun kembali menjalani kehidupan, termasuk mengaspal lagi di Sentul.
Kembali ke Sentul dan Motivasi Ali Imammuddin
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
M Fadli lebih dulu dikenal sebagai pebalap motor. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Dunia balap sudah diakrabi M Fadli sejak remaja. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Nyali membalap Fadli di lintasan tetap terjaga karena keyakinan. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
M Fadli sudah begitu akrab dengan Sirkuit Sentul. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
M Fadli menjadi ikon baru para cycling Indonesia. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
M Fadli mengaku belum puas dengan capaian di para cycling. (Dok. PB ISSI)