ANALISIS

Jangan Tambah Beban Timnas Indonesia di Piala AFF U-16

Nova Arifianto, CNN Indonesia | Kamis, 25/07/2019 07:09 WIB
Jangan Tambah Beban Timnas Indonesia di Piala AFF U-16 Bima Sakti menjadi pelatih Timnas Indonesia U-16. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Timnas Indonesia U-16 akan menjalani turnamen Piala AFF U-16 2019 di Thailand, 27 Juli hingga 9 Agustus 2019, dengan status sebagai juara bertahan. Sebuah predikat yang bisa menjadi beban bagi ABG-ABG pilihan Bima Sakti.

Usai ingar bingar Timnas Indonesia U-23 menjadi juara Piala AFF pada awal tahun ini, tidak ada lagi ajang sepak bola yang mempertaruhkan nama bangsa di ajang internasional. Sehingga pecinta Tim Garuda seperti kehilangan tontonan.

Setelah berbulan-bulan hanya menyaksikan pelipur lara bertajuk laga uji tanding, dalam waktu dekat ajang tahunan kelompok umur regional Asia Tenggara akan kembali berlangsung. Timnas Indonesia U-16 akan berlaga di Thailand.


Menjadi kampiun, adalah harapan pecinta sepak bola nasional kepada Timnas Indonesia U-16. Doa suporter bisa saja menjadi kekuatan Tim Garuda Asia, namun iringan ekspektasi pun bisa menjadi beban yang memberatkan kaki pemain-pemain muda yang bakal melakukan debut mengenakan seragam Timnas di level internasional.

Jangan Tambah Beban Timnas Indonesia di Piala AFF U-16Amirudin Bagus Kahfi Alfikri menjadi salah satu pemain andalan di Piala AFF U-16 2018. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Sebelum ada beban harapan penonton, kini setidaknya Timnas Indonesia U-16 menghadapi pergulatan rasa 'deg-degan' menjelang debut melawan kekuatan lawan asing yang ditambah pula status juara bertahan yang diraih si kembar Bagas-Bagus dan kawan-kawan pada tahun lalu di Sidoarjo.

Sebanyak 23 pemain terbaik menurut pelatih Bima Sakti yang dipilih dari berbagai klub junior Liga 1 dan sekolah khusus olahraga itu bakal bertanding membela negara di Thailand mulai 27 Juli.

Berbeda dengan kakak-kakaknya yang sempat menjalani uji coba internasional dan meraih trofi dalam turnamen uji tanding, Timnas Indonesia U-16 kali ini hanya menjalankan laga uji coba di dalam negeri.

Di fase grup, Timnas Indonesia U-16 secara beruntun akan bertemu dengan Vietnam, Singapura, Timor Leste, Filipina, dan Myanmar dalam pertandingan yang hanya memiliki waktu istirahat selama 24 jam.

Jeda waktu pertandingan yang hanya satu hari bakal memberi tantangan tersendiri pada kondisi fisik pemain. Selain itu kepaduan organisasi tim yang baru dibangun dalam dua bulan terakhir juga bakal diuji.

Tanpa meremehkan kualitas Singapura, Timor Leste, dan Filipina yang bisa saja menghadirkan kejutan, Vietnam dan Myanmar akan menjadi lawan yang patut mendapat antisipasi berlebih lantaran kedua negara tersebut memiliki sistem pembibitan usia muda yang bersaing di Asia Tenggara.

Jangan Tambah Beban Timnas Indonesia di Piala AFF U-16
Sejak menjalani pemusatan latihan nasional sejak 13 Juni, bukan perkara mudah bagi pemain-pemain belia mempertahankan konsistensi permainan yang diinginkan Bima dan tim pelatih.

Sebagai mantan pemain yang pernah merintis karier di Timnas Indonesia pada level usia muda, Bima tentu memiliki pengalaman yang dapat dijadikan panduan untuk membesut talenta-talenta anyar.

Mantan gelandang yang memiliki pengalaman bermain di Eropa itu sudah menekankan anak asuhnya masih membutuhkan berbagai penyesuaian untuk tampil di pentas internasional untuk kali pertama.

Jangan Tambah Beban Timnas Indonesia di Piala AFF U-16Bima Sakti memiliki pengalaman sebagai pemain muda di Timnas Indonesia. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H.)
Menjadi bagian kesebelasan berlabel 'tim nasional' tentu menjadi capaian tersendiri bagi Marselino Ferdinan dan kawan-kawan, namun ini bukan akhir perjuangan mereka.

Selain karena akan mengikuti kualifikasi Piala Asia U-16 2020 pada September mendatang yang akan berlangsung di Indonesia, patut diingat usia belasan target juara bukan hal yang utama dalam olahraga sepak bola.

Hal ini pula yang patut ditekankan terus bagi para pendukung Timnas Indonesia, bahwasa timnas kelompok umur merupakan bentuk pembinaan dan regenerasi, yang kelak bakal berpangkal pada kesuksesan timnas senior pada masa yang akan datang.

Biarkan para pemain muda asuhan Bima menikmati proses menjadi pemain profesional yang benar. Jangan beri tekanan berlebihan, agar mereka punya masa depan yang cerah.
Tren di Indonesia berubah sejak keberhasilan Evan Dimas dan kawan-kawan di ajang Piala AFF U-19 2013. Beban juara Timnas Indonesia kerap terlimpah pada skuat kelompok umur lantaran tim senior selalu gagal menjadi kampiun di ajang prestisius sejak SEA Games 1991.


Kendati ada berbagai kejuaraan di level kelompok umur, bukan berarti gelar juara di usia junior menjadi tujuan utama. Lagi pula Lionel Messi pun dianggap tetap tidak memiliki gelar juara bersama Argentina meski pernah membawa Tim Tango meraih gelar juara Piala Dunia U-20 2005 dan emas Olimpiade 2008 lantaran selalu gagal menjadi juara ketika bersama Albiceleste di level senior. (har)