Analisis

Secercah Harapan Chelsea Usai Dibantai MU

Juprianto Alexander, CNN Indonesia | Senin, 12/08/2019 19:24 WIB
Secercah Harapan Chelsea Usai Dibantai MU Chelsea mengawali kiprah di Liga Inggris dengan kekalahan telak dari Manchester United. (AP Photo/Dave Thompson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Chelsea memulai musim baru Liga Inggris dengan hasil mengecewakan usai dilumat Manchester United 0-4 di Stadion Old Trafford, Minggu (11/8).

Jika mengacu skor akhir, mereka yang tidak menyaksikan laga ini mungkin mengira The Blues kalah segalanya dari tuan rumah. Namun, faktanya di arena pertandingan skuat asuhan Frank Lampard kalah telak karena tidak bisa meminimalkan kesalahan.

Di awal pertandingan, Chelsea seperti bermain di rumah sendiri. Tim London Barat memperagakan permainan ofensif dan berani memainkan bola-bola pendek untuk menusuk ke kotak penalti lawan.


Sebaliknya MU terlihat gugup. Tampak ada beban karena skuat muda yang diusung Ole Gunnar Solskjaer memulai musim di hadapan puluhan ribu fan fanatik.

Dipermak Man United, Chelsea Tak Seburuk ItuChelsea sebenarnya tampil baik saat ditaklukkan Manchester United. (AP Photo/Dave Thompson)
Dua gelandang Chelsea, Mateo Kovacic dan Jorginho, berhasil memenangi perang di lini tengah melawan Scott McTominay dan Paul Pogba. Pergerakan pemain muda, Mason Mount, juga terlihat dinamis dalam menopang pergerakan pemain muda lainnya di lini depan Chelsea, Tammy Abraham.

Mount tampil tanpa beban dan kerja samanya dengan Ross Barkley membuat bek kanan anyar MU, Aaron Wan-Bissaka, dipaksa bekerja lebih keras. Untungnya, pemain yang didatangkan dari Crystal Palace dengan transfer 55 juta euro itu benar-benar tampil solid sepanjang pertandingan.

Dua bek sayap Chelsea, Cesar Azpilicueta dan Emerson Palmieri, juga rajin naik membantu serangan hingga mendekati area kotak penalti tuan rumah. Pendekatan taktik Lampard ini terlihat mirip Juergen Klopp dan Pep Guardiola. Dua pelatih yang memang dikenal fanatik dengan sepak bola ofensif.

Chelsea hanya butuh waktu empat menit untuk mengancam gawang David de Gea. Sayang tembakan keras Abraham dari dalam kotak penalti hanya mengenai tiang kanan gawang De Gea.

Terlalu asyik menyerang membuat Mount dan kawan-kawan lalai dalam bertahan. Akibatnya kesalahan Kurt Zouma di dalam kotak penalti berujung penalti yang dikonversi jadi gol oleh Marcus Rashford pada menit ke-18.

Dipermak Man United, Chelsea Tak Seburuk ItuEmerson Palmieri dan Cesar Azpilicueta tampil ofensif di sisi bek sayap Chelsea. (AP Photo/Dave Thompson)
Setelah tertinggal 0-1, Chelsea tetap memegang kendali permainan. Dua peluang dimiliki Barkley dan satu peluang lainnya dari Emerson menerpa mistar.

Di babak kedua, permainan Chelsea tidak kendur meski The Red Devils tampil lebih baik dibandingkan babak pertama. Ancaman terus diberikan namun tidak dibarengi penyelesaian akhir yang baik.

Situasi itu dimanfaatkan dengan baik oleh MU. Lagi-lagi kelengahan di pertahanan membuat tuan rumah bisa mencetak dua gol hanya dalam tempo dua menit melalui Anthony Martial (65') dan gol kedua Rashford (67').

Kebobolan tiga gol membuat penampilan Chelsea yang menawan sejak menit pertama tak lagi berbekas. Man United yang berada di atas angin lantas mencetak gol keempat lewat kaki mantan pemain Swansea City, Daniel James, yang membuat skor akhir jadi 4-0 (81').

Para pemain Chelsea mengakhiri pertandingan di Stadion Old Trafford dengan kepala tertunduk. Meski demikian, Lampard sedikit bisa tersenyum karena statistik menunjukkan anak asuhnya tidak kalah dari MU.

Dipermak Man United, Chelsea Tak Seburuk ItuDebut Frank Lampard sebagai manajer Chelsea di Liga Inggris berujung kekalahan telak. (AP Photo/Dave Thompson)
Chelsea total melakukan 18 percobaan mencetak gol atau tujuh kali lebih banyak dari Rashford dan kawan-kawan. The Blues juga unggul tipis dalam hal penguasaan bola dengan 54 persen berbanding 46 persen.

Soal jumlah umpan dan akurasi umpan, Chelsea juga di atas MU. Para pemain Chelsea melakukan 523 umpan dengan akurasi mencapai 84 persen, sementara MU tercatat hanya melakukan 449 umpan dengan akurasi 81 persen.

Jika mengacu penampilan dan statistik, Lampard bisa melihat sedikit cahaya terang dari kekalahan anak asuhnya di markas MU. Legenda Chelsea itu pun telah memperlihatkan dengan jelas identitas permainan yang akan diusungnya hingga akhir musim nanti.

Sama seperti manajer Chelsea sebelumnya Maurizio Sarri, Lampard memakai pendekatan sepak bola ofensif. Bedanya mantan manajer Derby County itu tidak menjadikan Jorginho sebagai satu-satunya penggerak permainan tim pengoleksi enam gelar Liga Inggris tersebut.

Lampard menjadikan Jorginho dan Kovacic sebagai dinamo permainan timnya. Peran nama terakhir kemungkinan bakal digantikan N'Golo Kante yang hanya bermain 20 menit di laga ini.

Sosok Mount juga tidak bisa ditepikan dari skuat yang dibangun Lampard. Pemain kelahiran Portsmouth itu memiliki karakteristik dan kualitas yang sekilas mirip Lampard di masa jaya.

Dipermak Man United, Chelsea Tak Seburuk Itu
Mount punya dua kaki yang sama kuat, berani melepaskan tembakan jarak jauh, dan visi bagus sebagai gelandang serang. Praktis hanya soal waktu hingga akhirnya Mount jadi pemain berpengaruh di lini tengah Chelsea.

Praktis kerja lebih keras harus dilakukan Lampard untuk mencari pemain yang bisa memberikan perbedaan seperti Eden Hazard yang sudah pergi ke Real Madrid. Harapan itu ada dalam diri Christian Pulisic tetapi penyerang sayap asal Amerika Serikat itu agaknya masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan iklim sepak bola Negeri Ratu Elizabeth.

Di luar Chelsea sepertinya masih akan baik-baik saja musim ini. Harus diakui skuat yang dibangun Lampard tentu sulit untuk bersaing meraih gelar Liga Inggris dengan Manchester City, Liverpool atau malah Tottenham Hotspur yang belanja besar-besaran di bursa transfer awal musim. Maklum Chelsea sedang terkena sanksi FIFA dan tidak bisa membeli pemain.

Mengacu aksi di laga pertama, Chelsea dan Lampard punya modal untuk bisa finis di posisi empat besar klasemen akhir. Namun, tim yang bermarkas di Stamford Bridge itu masih harus menata tim dengan lebih baik dan rasanya racikan Lampard belum akan bertuah dalam jangka pendek, dalam hal ini ajang Piala Super Eropa melawan Liverpool, Rabu (14/8).