MU dan 'Theatre of Dreams' Bagi Bolt

CNN Indonesia | Rabu, 21/08/2019 11:16 WIB
MU dan 'Theatre of Dreams' Bagi Bolt Bolt (kaus putih) saat mengikuti laga amal di Swiss. (REUTERS/Arnd Wiegmann)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pernah menjadi sprinter top dunia tak lantas menghentikan impian Usain Bolt menjadi pesepakbola dunia.

Sejak kecil sebelum menjadi sprinter hebat, Bolt selalu mengimpikan menjadi pemain di klub idolanya, Manchester United. Bisa bermain di Old Trafford benar-benar secara harfiah menjadi 'Theatre of Dreams' atau panggung dari seluruh impian baginya.

Kecintaannya itu pun tak sebatas kata-kata. Usai pensiun pada 2017, keinginan Bolt untuk menjadi pesepakbola profesional semakin tak terbendung lagi.


Bolt bahkan tak gengsi untuk menjalani tes di sejumlah klub sepak bola meski Bolt seperti dewa di dunia atletik. Terlebih, ia masih menjadi manusia tercepat di dunia.

Pada Maret 2018, Bolt pernah melakoni tes untuk menjadi pesepakbola di klub Bundesliga Jerman, Borussia Dortmund. Saat itu dia baru saja pulih dari cedera hamstring yang dialaminya pada Kejuaraan Dunia Atletik 2017.

Usain Bolt pernah beberapa kali melakukan tes di klub-klub Eropa dan Australia. (Usain Bolt pernah beberapa kali melakukan tes di klub-klub Eropa dan Australia. (REUTERS/Henry Romero)
"Cedera saya sudah membaik dan saya sudah kembali bugar. Saya akan menjalani masa percobaan bersama Dortmund, itu akan menentukan karier saya selanjutnya," jelas Bolt kepada The Express saat itu.

Bolt lantas mengakui rela tes bersama Dortmund untuk membuktikan dirinya layak menjadi pesepakbola dan suatu saat kelak bisa ke MU.

"Mimpi besar saya adalah bermain untuk Manchester United. Jika Dortmund menilai saya cukup baik, maka saya akan berusaha dan berlatih keras," ujar Bolt.

"Saya telah berbicara dengan [Sir] Alex Ferguson dan dia mengatakan akan membantu saya jika saya sudah kembali bugar dan siap."

Bolt pernah mengungkapkan posisinya yang paling ia sukai bermain sepak bola.

Sir Alex Ferguson menjadi pelatih idola Bolt. (Sir Alex Ferguson menjadi pelatih idola Bolt. (Foto: AFP PHOTO/GLYN KIRK)
"Saya pribadi ingin bermain di sayap, tapi setelah berbicara dengan para pesepakbola saya bisa ditempatkan sebagai penyerang," kata Bolt kala itu.

"Saya berusaha menjadi yang terbaik dan kesempatan bermain di Manchester United akan menjadi hal besar. Saya tidak pernah melewatkan latihan sprint. Saya rindu kompetisi dan keluar dari trek dan keramaian, tapi saya selalu berlatih. Saya ingin bangun dan pergi berlatih penuh semangat di Old Trafford."

Bolt kemudian tak berlanjut di Dortmund. Sebelumnya pada Januari 2018, dia pernah menjalani penjajakan di klub Afrika Selatan, Mamelodi Sundowns. Bolt kemudian mengklarifikasi bahwa itu sekadar promosi khusus di klub tersebut.
[Gambas:Video CNN]
Setelah dari Jerman, Bolt mencoba peruntungan di klub Norwegia Stromsgodset pada Juni 2018. Ia tampil selama 20 menit pada laga uji coba klub itu melawan timnas Norwegia U-19.

Pada laga itu, Bold gagal mengonversi peluang menjadi gol. Sundulannya melenceng. Gagal pula sang sprinter untuk bergabung di Stromsgodset.

Bolt yang Tak Bosan Bermimpi Berseragam MU
Berikutnya, Bolt mencoba kesempatan di klub A League Australia, Central Coast Mariners pada tahun yang sama.

Dilansir dari Daily Mail, Bolt hanya melakukan trial selama dua bulan di Central Coast. Dia tak melanjutkan trial pada November 2018.

Nilai kontrak yang tidak sesuai keinginan Bolt disinyalir menjadi salah satu penyebabnya batal bergabung.
[Gambas:Instagram]
Bolt dikabarkan hanya mendapat penawaran kontrak US$150 ribu atau setara Rp2,1 miliar per tahun. Ia disebut menolak tawaran tersebut.

Pihak klub juga tak bisa menjamin Bolt bisa bermain di kompetisi tertinggi Australia, A League.

Meski selalu mengalami kegagalan menjalani sejumlah tes, Bolt sepertinya tak pernah bosan untuk mewujudkan impiannya menjadi pesepakbola profesional. (bac/har)