Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia
KOLOM
Ahsan/Hendra, Abnormalitas Sebuah Batas
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Selasa, 27 Agu 2019 19:38 WIB
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia -- Basel, Swiss, 25 Agustus 2019, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan tak bisa langsung melonjak kegirangan begitu pukulan lawan melebar dari lapangan St. Jakobshalle pada final Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019.Meski tak ada teriakan ekspresif dan spontan seperti kemenangan-kemenangan sebelumnya, ada keharuan mendalam begitu Ahsan dan Hendra, serta pelatih Herry IP dan Aryono Miranat berpelukan setelah challenge yang diambil Takuro Hoki/Yugo Kobayashi menegaskan shuttlecock keluar lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan usia yang makin menua, Hendra ketika itu sudah 32 tahun coba berkarier mandiri sekaligus persiapan masa pensiun agar tidak kaget dengan perbedaan suasana antara lingkungan kompetitif ala atlet dengan lingkungan normal ala penduduk biasa. Saat itu Ahsan juga mencoba menyusun ulang kariernya di sisa waktu yang ada karena Ahsan juga sudah 29 tahun.
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berhasil bangkit di tahun 2019. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak) |
Bukan kejutan, bila menarik garis dari sudut pandang situasi terkini sebelum Kejuaraan Dunia digelar. Ahsan/Hendra adalah ganda putra nomor dua dunia di bawah Kevin Sanjaya/Marcus Gideon, unggulan keempat di Kejuaraan Dunia, dan berstatus juara All England tahun ini.
Dari sudut pandang kejutan dan bukan kejutan, ada perjuangan dan kerja keras yang dilakukan oleh mereka berdua sehingga perbedaan dua sudut pandang itu bisa terhubung dan dipahami.
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan sempat berpisah usai Olimpiade 2016. (Dok.PBSI) |
Keputusan untuk pembiayaan mandiri ini jadi salah satu titik tolak penting di balik keberhasilan Ahsan/Hendra kembali ke level elite di tahun ini.
Dengan pembiayaan mandiri, ada 'beban' lain yang mereka rasakan. 'The Daddies' tak sekadar fokus pada latihan dan peningkatan kualitas permainan di lapangan, melainkan mengurus pendaftaran turnamen, mengatur jadwal keberangkatan, hingga pemilihan tempat penginapan.
Pelatnas PBSI juga mengambil langkah tepat dengan tetap membuka diri agar Ahsan/Hendra berlatih seperti biasa di Cipayung, dengan fasilitas yang sama dengan pemain lainnya.
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berhasil menyelamatkan wajah Indonesia di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak) |
Ahsan/Hendra juga sudah ada dalam posisi yang aman, baik di mata penggemar maupun media. Status Ahsan/Hendra yang 'pernah mengharumkan nama bangsa' lewat prestasi-prestasi di masa lalu tak akan membuat mereka dihujat dan dicerca bila di tahun-tahun ini mengalami kegagalan demi kegagalan.
Mayoritas menganggap Ahsan/Hendra sudah mendekati batas akhir, ketika mereka juara itu berarti luar biasa sedangkan ketika mereka kalah, maka itu berarti tak mengapa.
Namun delapan bulan tahun 2019 berjalan, Indonesia kembali disadarkan bahwa Ahsan/Hendra bukanlah sosok-sosok yang rela dan mengiyakan bahwa mereka sudah ada di batas kemampuan.
Segala pencapaian Ahsan/Hendra di tahun ini, masuk final di tujuh turnamen plus memenangkan All England dan Kejuaraan Dunia, adalah bukti sahih Ahsan/Hendra tidak akan sukarela menerima definisi batas-batas kemampuan yang ditetapkan oleh orang lain.
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan jadi contoh yang ideal untuk pebulutangkis muda Indonesia. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak) |
Bukan hal mudah untuk merendahkan hati memulai semua dari awal karena mereka pernah ada di puncak dunia. Tetapi Ahsan/Hendra mampu melakukannya.
Menjaga motivasi tetap besar adalah hal yang sulit, menjaga motivasi tetap besar saat sudah memperoleh banyak hal tentu jauh lebih sulit.
Motivasi pun hanya salah satu aspek dalam syarat berprestasi. Ahsan/Hendra sukses menerjemahkan ambisi untuk berprestasi yang masih tinggi lewat kerja keras dari hari ke hari.
Ahsan/Hendra memperlihatkan segalanya, bahwa usia 35 masih mampu membuat orang terkesima, bahwa usia nyaris 32 masih bisa merebut gelar juara dunia.
Selamat Ahsan/Hendra! (har)
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berhasil bangkit di tahun 2019. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan sempat berpisah usai Olimpiade 2016. (Dok.PBSI)
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berhasil menyelamatkan wajah Indonesia di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan jadi contoh yang ideal untuk pebulutangkis muda Indonesia. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)