Bowie Haryanto
Mengawali karier sebagai wartawan olahraga di harian Berita Kota. Menjadi asisten redaktur olahraga di portal inilah.com, dan redaktur olahraga di portal viva.co.id. Sekarang menjadi writer olahraga di CNN Indonesia.

Dicari: Suporter Indonesia yang Dewasa

Bowie Haryanto, CNN Indonesia | Jumat, 06/09/2019 19:02 WIB
Dicari: Suporter Indonesia yang Dewasa Oknum suporter mencoreng nama baik Indonesia saat melawan Malaysia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dengan wajah dan pernyataan yang tegas kapten Timnas Indonesia Andritany Ardhiyasa mengungkapkan kekecewaan terhadap oknum suporter Indonesia usai kekalahan dari Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis (5/9) malam.

"Jujur hati saya lebih sakit melihat apa yang terjadi di stadion. Ini mencoreng Indonesia. Kita semua di sini ingin menang walau hasil malam ini enggak bagus tapi kita harus bisa menerima. Jujur sebagai kapten sangat sedih melihat apa yang dilakukan oknum suporter," ujar Andritany.

Sebuah kekecewaan yang masuk akal dari Andritany. Apa yang terjadi di SUGBK saat Indonesia vs Malaysia tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya. Entah mengapa suporter Indonesia 'gemar' menjadi sorotan karena alasan yang salah. Kerusuhan suporter seperti hal yang biasa di Indonesia.


Orang-orang mungkin akan mengatakan, "Sepak bola adalah soal harga diri bangsa". Terutama Indonesia kalah dari Malaysia yang notabene rival abadi dalam sepak bola. Tapi, kekalahan tidak bisa menjadi alasan untuk melukai suporter lawan. Ini adalah pertandingan sepak bola dan kita bukan sedang perang.

Kalau bicara soal kecewa, tentu kita pantas kecewa melihat Timnas Indonesia kalah. Namun, di saat yang bersamaan kita juga harus dewasa menjadi suporter. Kalah-menang dalam olahraga adalah hal yang biasa. Tinggal bagaimana kita bisa memetik pelajaran dari hasil yang kita dapat, baik itu kemenangan atau kekalahan.

Oknum suporter Indonesia berusaha menyerang pendukung Malaysia.Oknum suporter Indonesia berusaha menyerang pendukung Malaysia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Kalau melihat susunan pemain yang diturunkan Simon McMenemy, termasuk menjadikan Manahati Lestusen dan Hansamu Yama sebagai duet starter di jantung pertahanan, memang pantas dipertanyakan. Tapi, kembali lagi Simon pasti punya pertimbangan tertentu dalam menerapkan strategi dan permainan. Mungkin hanya Simon dan tim pelatih Timnas Indonesia yang tahu.

Tidak ada gunanya membahas strategi usai pertandingan. Mungkin akan ada orang yang berpikir seharusnya Victor Igbonefo atau Rudolof Yanto Basna menjadi starter, bukan Manahati. Ada juga pemikiran seharusnya Zulfiandi tidak ditarik keluar di awal babak kedua.

Dicari: Suporter Indonesia yang Dewasa
Semua omongan soal strategi yang seharusnya digunakan Simon saat Indonesia dikalahkan Malaysia tidak ada gunanya. Pasalnya, semua strategi akan terdengar indah usai pertandingan, apalagi usai kekalahan.

Sekarang yang terpenting adalah bagaimana membuat seluruh suporter Indonesia bersikap dewasa. Memastikan insiden seperti di GBK pada Kamis malam tidak terjadi lagi.

Merugikan Diri Sendiri

Tanda-tanda 'rusuh' di Indonesia vs Malaysia sebenarnya sudah tampak beberapa pekan sebelum pertandingan. Dimulai dari Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) yang dua kali datang ke Jakarta untuk meminta kepastian keamanan kepada PSSI dan Kepolisian untuk suporter, ofisial, pemain, dan awak media Malaysia.

Hal seperti ini tidak pernah terjadi. Hubungan Indonesia dan Malaysia memang sering tidak harmonis, tapi baru kali FAM secara terang-terangan meminta kepastian keamanan.

Suporter Indonesia belum semuanya dewasa menghadapi kekalahan.Suporter Indonesia belum semuanya dewasa menghadapi kekalahan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Tidak lama berselang Deputi Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia Steven Sim Chee Keong meminta penonton Malaysia yang menyaksikan langsung pertandingan di Jakarta untuk tidak terpengaruh dengan spekulasi terkait keamanan. Seakan-akan suporter Malaysia sudah mendapat ancaman sebelum berangkat ke Jakarta.

Tanda berikutnya terjadi pada hari H pertandingan. Ratusan suporter Malaysia sudah mendapat perlakuan tidak mengenakan saat tiba di GBK. Dalam video yang viral di media sosial, terlihat suporter Malaysia berusaha diserang oknum suporter Indonesia saat ingin masuk Stadion GBK. Lagi-lagi hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya saat Timnas Indonesia menjamu Malaysia.

Puncaknya terjadi saat pertandingan saat sejumlah oknum suporter turun dan berusaha menghampiri pendukung Malaysia. Insiden pelemparan juga terjadi hingga akhirnya sejumlah suporter Malaysia mengalami luka.

Ulah oknum suporter merugikan Timnas Indonesia.Ulah oknum suporter merugikan Timnas Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi karena hanya akan merugikan diri sendiri. Kini, 'terima kasih' kepada oknum suporter tersebut, Indonesia hampir pasti mendapat sanksi dari AFC karena FAM akan melaporkan insiden di GBK kepada AFC dan FIFA. Sanksi yang mungkin akan merugikan Timnas Indonesia dalam perjalanan di kualifikasi Piala Dunia 2022.

Indonesia bisa mendapat sanksi beragam, mulai yang ringan hingga berat. Sanksi yang mungkin didapat Indonesia bisa berupa denda hingga larangan menggelar laga kandang dengan penonton di kualifikasi Piala Dunia 2022.

Apapun sanksi yang didapat, Indonesia dipastikan tiga kali 'tertiban tangga'. Sudah kalah di pertandingan dari Malaysia, nama baik negara tercoreng, dan terakhir mendapat sanksi. Insiden di GBK tersebut juga bisa menjadi nilai minus bagi Indonesia yang sebelumnya mengajukan diri masuk bidding tuan rumah Piala Dunia 2034.

[Gambas:Video CNN]
Oknum suporter yang melakukan penyerangan di GBK juga tidak memikirkan nasib suporter Indonesia yang berencana hadir di Stadion Bukit Jalil saat bertandang ke markas Malaysia pada 19 November 2019. Bukan tidak mungkin suporter Indonesia mendapat perlakuan yang sama saat menjalani away-day.

Tidak ada toleransi untuk oknum suporter yang melakukan penyerangan di GBK dan mereka harus mendapat hukuman untuk memberi efek jera.

Kini kita harus berbenah dan menjadikan insiden di GBK sebagai pembelajaran. Sudah cukup kita mencoreng nama baik dan membuat malu Indonesia di mata internasional lewat sepak bola.

Bukan tugas mudah untuk menjadikan semua suporter Indonesia dewasa menghadapi kekalahan. Dibutuhkan kerjasama yang maksimal semua pihak, termasuk suporter. Karena perlu dicatat, suporter juga punya kewajiban untuk menjaga nama baik Indonesia. (nva)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS