Analisis

Tiga Serangkai Pembeda Liga Inggris

Nova Arifianto, CNN Indonesia | Jumat, 13/09/2019 07:45 WIB
Tiga Serangkai Pembeda Liga Inggris Pep Guardiola dan Juergen Klopp mendapat apresiasi dari pelatih legendaris Italia, Arrigo Sacchi. (REUTERS/David Klein)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih legendaris Italia, Arrigo Sacchi, menyebut Pep Guardiola, Juergen Klopp, dan Mauricio Pochettino sebagai inovator yang mengubah sepak bola.

Liga Inggris bukan cuma kompetisi yang mengumpulkan klub-klub atau pemain-pemain top, tetapi juga menjadi ajang adu ilmu pelatih-pelatih papan atas.

Manchester City, Liverpool, Chelsea, Tottenham Hotspur, Arsenal, dan Manchester United adalah daya tarik tersendiri dalam persaingan perebutan gelar juara Premier League.


Pemain-pemain kunci yang juga berharga mahal seperti Rodri Hernandez, Kepa Arrizabalaga, Paul Pogba, Nicolas Pepe, atau Virgil van Dijk memiliki porsi tersendiri dalam persaingan Liga Inggris.

Tiga Serangkai Pembeda Liga InggrisPep Guardiola sudah dua kali mengantarkan Manchester City ke tangga juara. (REUTERS/Toby Melville)
Tetapi di balik itu semua ada campur tangan dan keterlibatan sosok manajer yang mendapat apresiasi dari salah seorang juru latih legendaris asal Italia Arrigo Sacchi.

Mantan pelatih AC Milan peletak pondasi The Dream Team di klub Rossoneri itu tak sungkan memberi pujian bagi keberadaan pelatih-pelatih kelas wahid dalam pertarungan perebutan gelar juara Liga Inggris sehingga memberikan nuansa bergengsi bagi liga yang sudah memasuki musim ke-28.

Sacchi menyebut Pep Guardiola, Juergen Klopp, dan Mauricio Pochettino adalah tiga sosok pembeda Liga Inggris dibanding liga sepak bola lain.

"Sepak bola mereka sama seperti saya dan saya sangat mengapresiasi nilai mereka, kultur dan mentalitas. Tim Milan saya berinovasi, tim Guardiola dan Klopp juga terus berlanjut dalam berinovasi," kata Sacchi dikutip dari Dailymail.

[Gambas:Video CNN]
Sacchi yang pernah menjadi pelatih Italia dan mengantar Gli Azzuri menjadi finalis Piala Dunia 1994 merasa Klopp dan Guardiola memiliki kesamaan dengan dirinya karena memiliki tugas untuk membuat khalayak luas menikmati sepak bola.

Pengusung formasi menyerang 4-4-2 itu pun mengaku tak bisa memilih yang terbaik di antara manajer Man City, Liverpool, dan Tottenham tersebut lantaran Sacchi menilai Guardiola, Klopp, dan Pochettino menjadi favorit Sacchi saat ini dan ketiganya dinilai memiliki sistem filosofi yang sama.

Filosofi sepak bola ofensif yang dianut Sacchi, memang juga menjadi pilihan Guardiola, Klopp, dan Pochettino. Kombinasi permainan sepak bola menyerang dengan pressing yang kerap mematikan lawan dalam membangun serangan menjadi pemandangan lazim ketika menyaksikan Man City, Liverpool, atau Tottenham bermain.

Tiga Serangkai Pembeda Liga Inggris
Guardiola yang masih lebih 'muda' ketimbang Klopp dan Pochettino di Liga Inggris justru sudah lebih dulu mengangkat trofi juara. Berbekal permainan oper-operan cepat dengan disiplin tinggi dan agresif serta diikuti penciptaan ruang yang sempat tenar dengan label 'tiki-taka'.

Ketagihan dengan permainan kaki ke kaki, Guardiola bahkan benar-benar mencari kiper dan pemain-pemain belakang yang mampu dan terampil memainkan bola.

Kemampuan Manchester Biru memainkan gaya seperti yang diinginkan Guardiola merupakan keberhasilan lain dari mantan gelandang timnas Spanyol itu dalam menerjemahkan taktik ke setiap pemainnya. Sebuah tugas yang tidak mudah, namun berhasil dijalankan Guardiola sehingga membuatnya masuk dalam kategori manajer top dunia.

Tiga Serangkai Pembeda Liga InggrisJuergen Klopp belum berhasil meraih gelar Liga Inggris. (REUTERS/Russell Cheyne)
Berbeda dengan Guardiola yang sudah mengusung gelar juara domestik, Klopp yang memperkenalkan Gegenpressing lebih dulu meraih prestasi di level regional terlebih dahulu. Butuh waktu empat musim bagi Klopp untuk menyesuaikan taktik pilihannya dengan skuat Liverpool.

Bermain sepak bola dengan penuh gairah dan semangat tak ingin kehilangan bola menjadi modal dasar permainan ala Klopp. Taktik seperti itu memang mengharuskan para pemain memiliki kecepatan, stamina prima, organisasi permainan rapi untuk membangun serangan sekaligus menutup ruang gerak lawan.

Pilihan Klopp memainkan sepak bola yang terus-menerus menekan pernah mendapat kritik lantaran tak bisa mengendalikan permainan dan tak bisa menjaga gawang dari kebobolan, namun pembelian Alisson Becker, Virgil van Dijk, Naby Keita, dan Fabinho menjawab kritik tersebut.

Tiga Serangkai Pembeda Liga InggrisMauricio Pochettino menangani Tottenham Hotspur sejak 2014. (Reuters/Andrew Couldridge)
Pochettino juga tak berbeda dengan Guardiola dan Klopp. Termuda dibandingkan dua koleganya, mantan bek timnas Argentina itu juga memilih permainan menekan dan menyerang sebagai cara meraih kemenangan.

Menyerang dari bawah dan kemudian membuat pemain lawan tak nyaman ketika menguasai bola adalah upaya gaya Tottenham di bawah arahan Pochettino yang juga gemar mempromosikan pemain-pemain muda.

Perkara mempromosikan pemain muda erat kaitannya dengan kemampuan pendekatan Pochettino sehingga mampu menyemangati para pemain untuk tampil lebih baik secara teknik, fisik, dan mental.


Permainan menyerang dan agresif yang dipraktikkan tiga pelatih tersebut di atas memang acap membuat mata melek. Namun selain apresiasi dari Sacchi, ada kritik yang merupakan pangkal masalah timnas Inggris tak bisa berprestasi.

"Saya suka gairah dominasi mereka. Sepak bola harus mendominasi dan indah. Saya suka melihat mereka. Masalah di Liga Prmier adalah mereka bermain terlalu sering dan terlalu banyak kompetisi. Mungkin ini alasan timnas mereka tidak pernah meraih hasil yang bagus," kata Sacchi. (har)