ANALISIS

Kisah Simon McMenemy di Timnas Indonesia Nyaris Tamat

Titi Fajriyah, CNN Indonesia | Minggu, 13/10/2019 10:47 WIB
Kisah Simon McMenemy di Timnas Indonesia Nyaris Tamat Kisah Simon McMenemy di Timnas Indonesia nyaris tamat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kisah Simon McMenemy bersama Timnas Indonesia mendekati kata tamat jika merujuk rentetan kekalahan menyakitkan yang dialami di Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia.

Simon sudah mendapat rongrongan dari suporter Indonesia usai laga perdana Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia. Di mana skuat Garuda takluk 2-3 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Kekalahan dari Harimau Malaya berbuntut panjang. Indonesia kembali menelan kekalahan memalukan di pertandingan berikutnya, yakni kalah 0-3 dari Thailand dan teranyar takluk 0-5 dari Uni Emirat Arab.


Simon yang merupakan mantan pelatih timnas Filipina di Piala AFF 2010 itu resmi ditunjuk sebagai pelatih Timnas Indonesia pada 20 Desember 2018 lalu. Gelar juara Bhayangkara FC sebagai di kompetisi Liga 1 2017 menjadi modal utama Simon untuk menukangi Skuat Garuda.

[Gambas:Video CNN]
Simon langsung dihadapkan dengan tugas berat di Kualifikasi Piala Dunia 2022. Laga uji coba melawan Myanmar di Stadion Mandalar Thiri pada 25 April 2019 yang berakhir 2-0 buat Timnas Indonesia sempat memberikan angin segar bagi publik sepak bola Indonesia.

Namun, hal itu juga belum cukup untuk membuktikan tangan dingin pelatih asal Skotlandia itu. Pada uji coba selanjutnya menghadapi Jordan, Indonesia kalah 1-4, meski setelahnya menang 6-0 atas Vanuatu di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan.

Cara bermain yang dibuat Simon di Timnas Indonesia pun kerap dibanding-bandingkan dengan Luis Milla, pelatih sebelumnya. Filosofi sepak bola Indonesia (Filanesia) yang diharapkan bisa menjadi identitas, sedikit terabaikan dengan cara bermain Simon lewat kick and rush ala sepak bola Inggris.

Para pemain terlihat belum cukup nyetel dengan strategi permainan Simon. Gaya membangun serangan dari bawah yang selama ini diterapkan Luis Milla tidak sejalan dengan strategi Simon.

Kisah Simon McMenemy di Timnas Indonesia Nyaris Tamat
Wajar memang bila setiap pelatih punya strategi yang berbeda. Namun, rangkaian kekalahan memalukan di laga internasional bisa jadi bukti sejauh mana kualitas pelatih.

Keputusan Simon untuk memanggil sejumlah wajah lama juga sempat mengundang kritik. Sebut saja, Victor Igbonefo dam Greg Nwokolo. Meski sarat pengalaman, usia yang tak lagi muda membuat penampilannya jadi tak maksimal.

Irfan yang terakhir main bersama Timnas Indonesia pada 2017 dan lebih sering menghangatkan bangku cadangan di Bali United juga menjadi pertaruhan bagi Simon.

Melibatkan Otavio Dutra yang proses naturalisasinya kala itu belum rampung jadi salah satu blunder yang dilakukan Simon. Pasalnya, pemain berdarah Brasil itu tak bisa dimainkan di laga-laga genting.

Otavio DutraOtavio Dutra gagal tampil di tiga laga Kualifikasi Piala Dunia 2022. (Foto: Dok. PSSI)
Jika Milla lebih percaya kepada para pemain muda, Simon justru memilih untuk memanfaatkan pengalaman pemain senior yang kenyang pengalaman. Sayangnya, hal itu belum juga bisa mengangkat pamor tim Merah Putih.

Hanya segelintir pemain muda yang sebelumnya banyak dipercaya tampil saat membela Timnas Indonesia di era Luis Milla dimainkan Simon. Mereka adalah Saddil Ramdani, Hansamu Yama Pranata, Ricky Fajrin, Evan Dimas, Zulfiandi, dan Gavin Kwan Adsit.

Terbukti, dari tiga laga di Kualfikasi Piala Dunia 2022, Timnas Indonesia hanya mampu mencetak dua gol dan kebobolan 11 gol. Kondisi itu membuat posisi Skuat Garuda terpuruk di dasar klasemen dan sulit untuk lolos ke fase selanjutnya.

Di Grup G Zona Asia Kualifikasi Piala Dunia 2022, Timnas Indonesia menelan kekalahan dari Malaysia 2-3 pada laga kandang pertama. Disusul kekalahan menyakitkan dari Thailand 0-3 pada laga kedua.

Sempat unggul, Indonesia malah kalah 2-3 dari Malaysia.Sempat unggul, Indonesia malah kalah 2-3 dari Malaysia. (CNN Indonesia/Fajrian)
Di dua kekalahan tersebut, Simon menyalahkan padatnya jadwal Liga 1 2019 yang membuat para pemainnya kelelahan. Publik bergeming meminta Simon dipecat dari jabatannya sebagai pelatih Timnas Indonesia.

Namun, permintaan dari publik masih ditimbang ulang Exco PSSI. Misalnya Yunus Nusi yang dalam perbincangan bersama CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu menyebut sangat menyayangkan keputusan pergantian pemain yang dibuat Simon saat menghadapi Malaysia.

Tapi dalam evaluasi usai dua kekalahan, Exco memilih untuk tetap mempertahankan Simon setidaknya menunggu hasil dari lawatan ke UAE, tadi malam. Selain waktu yang terlalu sempit jika harus diganti dengan pelatih lain, Simon disebut masih berhak mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.

Sekarang, kisah Simon di Timnas Indonesia mendekati kata tamat. Kekalahan 5-0 dari UAE menjadi jimat buat Exco PSSI memutuskan masa depan Simon bersama Skuat Garuda.

Karier Simon McMenemy di Timnas Indonesia diprediksi tak akan berlangsung lama.Karier Simon McMenemy di Timnas Indonesia diprediksi tak akan berlangsung lama. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Rentetan tiga kekalahan yang dialami Timnas Indonesia memang bukan kesalahan Simon semata. PSSI juga harus berbenah, terutama dalam mengatur jadwal kompetisi dan agenda Timnas Indonesia.

Begitu juga dengan publik yang terlalu cepat menyudutkan kesalahan pada Simon lantaran menginginkan prestasi tanpa melihat proses yang sedang berjalan. Membangun sebuah prestasi tak bisa instan dan membutuhkan proses yang tak sebentar.

Meski nasib Simon bersama Skuat Garuda mendekati tamat, Simon kemungkinan masih bakal menjadi juru taktik Timnas Indonesia kala menghadapi Vietnam di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Selasa (15/10). PSSI tidak punya pilihan karena untuk mencari sosok yang pas butuh waktu dan analisa yang tepat.

Timnas Indonesia kemungkinan baru memiliki pelatih baru pengganti Simon setelah terpilihnya Ketua Umum PSSI yang baru melalui Kongres Pemilihan pada 2 November mendatang. Setidaknya, saat menghadapi Malaysia pada partai tandang 19 November, Timnas Indonesia sudah memiliki pelatih baru. (jun/har)