ANALISIS

'Dosa' Indonesia Lawan Vietnam Jangan Terulang di Semifinal

bac, CNN Indonesia | Jumat, 06/12/2019 07:26 WIB
'Dosa' Indonesia Lawan Vietnam Jangan Terulang di Semifinal Timnas Indonesia saat kalah 1-2 dari Vietnam. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Timnas Indonesia nyaris sempurna lolos ke semifinal SEA Games 2019. Berada di Grup B yang merupakan grup neraka, skuat arahan Indra Sjafri menempati posisi runner-up.

Status juara Grup B menjadi milik Vietnam. Skuat arahan Park Hang Seo bermain imbang lawan Thailand 2-2, Kamis (5/12), sekaligus menyingkirkan negara tersebut dari SEA Games 2019.

Vietnam unggul satu poin dari Indonesia. Di waktu yang berbarengan, Evan Dimas dan kawan-kawan membantai Laos 4-0 untuk memastikan tiket ke semifinal SEA Games 2019.


Kiprah Indonesia di fase grup bisa dibilang nyaris mulus. Garuda Muda meraih empat kemenangan dalam lima pertandingan di Grup B.

Satu-satunya batu sandungan skuat Merah Putih adalah ketika takluk 1-2 dari Vietnam. The Golden Star sendiri tak pernah terkalahkan di fase itu dengan empat kemenangan dan sekali imbang lawan Thailand.

Indonesia terjungkal lawan Vietnam juga karena 'dosa' yang dilakukan para penggawa Merah Putih. Kesalahan dalam menerapkan strategi yang membuat Indonesia kalah 1-2 dari Vietnam.

Timnas Indonesia membiarkan Vietnam menguasai lini tengah. (Timnas Indonesia membiarkan Vietnam menguasai lini tengah. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Indra Sjafri tampak mengendurkan kesolidan mereka terutama di lini tengah. Situasi itu kian kentara ketika Indonesia sudah unggul lebih dulu 1-0 melalui gol Sani Rizki pada menit ke-23.

Indonesia lebih banyak bermain bertahan dengan membiarkan Vietnam menguasai lini tengah.

Situasi tersebut membuat Vietnam leluasa menyusun skema serangan dari tengah. Sebaliknya, tekanan demi tekanan dari The Golden Star membuat pertahanan Indonesia terdesak.

Benar saja, Vietnam mampu mencuri satu gol melalui sundulan Nguyen Thanh Chung pada menit ke-65 memanfaatkan umpan sepak pojok.

[Gambas:Video CNN]
Bermain imbang 1-1 tak membuat Indonesia beranjak untuk 'melumpuhkan' kekuatan Vietnam di lini tengah. Alhasil, Vietnam berbalik unggul 2-1 berkat gol Nguyen Hoang Duc.

Huang Duc memanfaatkan celah di pertahanan Indonesia dengan melepaskan tembakan dari luar kotak penalti dan menaklukkan kiper Merah Putih, Muhamad Riyandi.

Kesalahan yang hampir mirip juga dilakukan Thailand ketika bersua Vietnam pada laga terakhir Grup B. Skuat Gajah Perang bahkan sudah unggul 2-0 dari Vietnam.

Timnas Indonesia saat mengalahkan Thailand 2-0. (Timnas Indonesia saat mengalahkan Thailand 2-0. (AP Photo/Aaron Favila)

Keunggulan itu membuat Thailand lebih bertahan dan membiarkan Vietnam menguasai lini tengah. Vietnam pun mampu menyamakan skor 2-2 dengan permainan agresif mereka mengepung pertahanan Thailand.

Pada laga fase grup, Thailand juga sempat bermain menggebrak lebih dahulu saat menghadapi Merah Putih. Namun, serangan-serangan mereka kerap terputus dari lini tengah.

Tiga gelandang jangkar, Evan Dimas-Zulfiandi-Syahrian Abimanyu tidak membiarkan gelandang-gelandang Thailand leluasa bergerak. Asnawi Mangkualam dan Firza Andika juga tak terlalu bernafsu naik membantu serangan.

Hasilnya cukup positif. Indonesia menang 2-0 atas Thailand di laga perdana dengan strategi 'menyabotase' serangan skuat Gajah Perang dari lini tengah.

Strategi yang mirip juga dilakukan Indonesia ketika menghadapi Singapura, salah satu lawan kuat di Grup B.

Trio Evan Dimas, Zulfiandi, dan Syahrian Abimanyu juga mampu memutus serangan demi serangan Singapura dari lini tengah. Strategi itu pun membuat Indonesia menang 2-0 atas Singapura.

Serangan balik cepat juga menjadi andalan para pemain Merah Putih. Sukses Indonesia melancarkan serangan balik bukan hanya ditunjang kerja para gelandang mempersempit ruang gerak para pemain lawan.

Timnas Indonesia mengalahkan Singapura 2-0. (Timnas Indonesia mengalahkan Singapura 2-0. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Karakter bek sayap Indonesia seperti Asnawi Mangkualam dan Firza Andika yang sangat cepat juga menunjang strategi tersebut. Dalam posisi tertekan, para bek sayap Merah Putih tetap menjaga pos mereka.

Begitu Indonesia memutus penguasaan bola lawan, pemain macam Asnawi atau Firza langsung melesat cepat membantu serangan.

Indonesia baru bermain lebih agresif dengan penekanan pada penguasaan bola saat menghadapi tim yang lebih lemah seperti Brunei Darussalam dan Laos. Garuda menang 8-0 atas Brunei, dan mengalahkan Laos 4-0.

'Dosa' Indonesia Lawan Vietnam Jangan Terulang di Semfinal
'Dosa' seperti saat lawan Vietnam tentu tak boleh terulang pada laga semifinal lawan Myanmar, Sabtu (7/12).

Karakteristik permainan Myanmar juga nyaris identik dengan Vietnam yang berusaha menekan dengan merebut penguasaan bola dari sektor tengah.

Menghadapi tim-tim seperti itu, Indonesia tentu tak boleh 'kalah gertak'. Tim-tim dengan mental kuat macam Myanmar atau Vietnam harus 'dilukai' lebih dulu dan terus ditekan.

Dengan demikian, lawan akan kesulitan mengembangkan permainan sesuai rencana mereka. (sry)