Rochi, Polosin, dan Momen Emas SEA Games 1991

CNN Indonesia | Senin, 09/12/2019 17:15 WIB
Rochi, Polosin, dan Momen Emas SEA Games 1991 Legenda Timnas Indonesia Rochi Putiray mengenang masa-masa Timnas Indonesia meraih emas SEA Games 1991 di Filipina. (CNN Indonesia/Jun Mahares)
Jakarta, CNN Indonesia -- Legenda Timnas Indonesia, Rochi Putiray, mengenang kembali masa-masa kejayaan ketika skuat Garuda berhasil meraih medali emas SEA Games 1991.

Rochy dalam pebincangan dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu mengatakan atmosfer saat menjalani pemusatan latihan bersama Timnas Indonesia kala itu sangat cair dan bersahabat. Kondisi itu didukung lewat manajemen yang dinilainya sangat apik dalam mengurus tim.

Selain itu, para pemain senior juga tak sungkan membimbing yang muda.


"Kami bisa tertawa bersama di luar lapangan tapi tidak di depan pelatih Anatoli Polosin. Semua pemain mengeluarkan kemampuan terbaik. Apalagi pelatih asal Rusia itu menggembleng fisik kami habis-habisan," ungkap Rochi dalam tulisan Testimoni: Rochi Putiray: Inspirasi John Banting, Polosin, dan AC Milan.

Para pemain Timnas Indonesia saat lolos ke final SEA Games 2019. (Para pemain Timnas Indonesia saat lolos ke final SEA Games 2019. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/wsj)
Rochi yang juga pemain pemain berposisi sebagai penyerang mengaku beruntung bisa melahap segala latihan berat dari Polosin. Meski termasuk pemain muda, ia tak pernah mau mengalah saat menghadapi pemain senior.

Polosin dikenang Rochi sebagai pelatih yang fokus menempa fisik pemain, tidak hanya dari segi taktik tim. Fisik yang juga membuat Timnas Indonesia kala itu disebutnya tampil seperti Singa Lapar.

"Bisa dibilang, semua pemain mau berlari untuk memburu bola. Kami harus jujur bahwa saat itu bermain sangat mengandalkan kekuatan fisik yang jadi bagian dari taktik," terangnya.

[Gambas:Video CNN]
Di tengah persaingan yang ketat antar pemain, Rochi mendapat kepercayaan masuk dalam skuat utama. Padahal ada nama pemain senior lain yang biasa mengisi lini depan, seperti Bambang Nurdiansyah, Widodo C Putro, dan Peri Sandra.

Rochi berhasil cetak dua gol di fase grup, yakni ketika menang 2-0 saat menghadapi Malaysia, tepatnya setelah Widodo C Putro lebih dulu mencetak gol. Sedangkan gol kedua dibuat ketika Timnas Indonesia menang 2-1 atas Filipina setelah Ferryl Ramond Hattu mencetak gol pertama melalui tendangan penalti sekaligus sebagai penentu kemenangan Merah Putih.

Tampil di Stadion Rizal Memorial yang saat ini juga menjadi tempat pertandingan sepak bola di SEA Games 2019, Skuat Garuda kala itu lolos fase grup tanpa terkalahkan. Timnas Indonesia berhasil melaju ke semifinal usai mengalahkan Malaysia (2-0), Vietnam (1-0), dan Filipina (2-1).

Rochi, Polosin, dan Momen Emas SEA Games 1991
"Di semifinal kami berhasil mengalahkan Singapura lewat drama adu penalti dengan skor 4-2 setelah sebelumnya bermain imbang tanpa gol di waktu normal. Di babak final, kami bermain habis-habisan. Fisik kami sama-sama terkuras dan harus puas bermain seri 0-0 di waktu normal. Timnas Indonesia pun akhirnya berhasil menjadi juara usai adu penalti 4-3."

"Emas yang kami raih di SEA Games 1991 akan selalu jadi kenangan manis dalam hidup saya. Saya yakin hal yang sama juga dirasakan rekan setim saya pada saat itu," tulis Rochi.

Pemain asal Maluku itu juga sempat mengungkapkan kesedihannya lantaran emas di SEA Games 1991 menjadi pencapaian yang belum mampu diulangi Timnas Indonesia di SEA Games. Menurutnya, mau tidak mau PSSI tetap jadi bagian yang pantas disalahkan atas belum adanya lagi medali emas Indonesia dari sepak bola di SEA Games.

Setelah 28 tahun berlalu, Timnas Indonesia kembali memiliki peluang untuk mengulang kejayaan sepak bola di arena SEA Games. Pasukan Indra Sjafri bakal menghadapi Vietnam pada laga final SEA Games 2019 yang digelar di Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina, Selasa (1/12). (TTF/bac)