KALEIDOSKOP 2019

Ahsan/Hendra, Rencana Cadangan yang Mematikan

CNN Indonesia | Selasa, 31/12/2019 09:04 WIB
Ahsan/Hendra, Rencana Cadangan yang Mematikan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan merebut tiga gelar bergengsi di 2019. (Dok. Humas PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan mencatat prestasi spektakuler di 2019. Bukan hanya Ahsan/Hendra yang gembira, melainkan juga PBSI, Susy Susanti dan Herry Iman Pierngadi.

Di akhir 2018, Ahsan/Hendra memutuskan keluar dari pelatnas Cipayung. Mereka menilai kesempatan untuk mengatur jadwal turnamen bakal lebih besar dibandingkan bila bertahan sebagai anggota pelatnas.

Bila tetap berada di Cipayung, Ahsan/Hendra mungkin harus mengalah pada prioritas pemberangkatan terhadap atlet-atlet yang lebih muda.


Ahsan/Hendra keluar dari pelatnas Cipayung dengan rencana berlatih di klub, Jaya Raya dan Djarum, secara bergantian. Dalam kondisi tersebut, Herry IP dan Susy mengambil tindakan tepat.

Ahsan/Hendra yang berstatus pemain non pelatnas tetap boleh berlatih dan mendapatkan pengawasan dari pelatih di Cipayung serta memanfaatkan semua fasilitas yang ada. Perbedaan hanya terletak pada pemilihan dan pembiayaan turnamen yang mutlak ditangguh sepenuhnya oleh Ahsan/Hendra.

Langkah Herry IP dan Susy terbaca sebagai langkah menyiapkan rencana cadangan. Dalam skuat yang ada, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto adalah proyeksi utama untuk menuju Olimpiade 2020.

Ahsan/Hendra berkarier sebagai pemain profesional sejak awal 2019.Ahsan/Hendra berkarier sebagai pemain profesional sejak awal 2019. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Kevin/Marcus dan Fajar/Rian sudah membuktikan mereka bisa diandalkan lewat keberhasilan di All Indonesian Final pada Asian Games 2018 saat Ahsan/Hendra tak disertakan di nomor perorangan.

Namun Herry IP dan Susy tak mau benar-benar berjudi dengan hanya mengharapkan dua pasang tersebut. Ahsan/Hendra tetap mereka pantau dan tak benar-benar dilepaskan sepenuhnya dari pengawasan.

Pengalaman buruk empat tahun lalu saat ganda putra Indonesia hanya meloloskan satu wakil ke Olimpiade jadi pengingat jelas bagi Herry IP bahwa hanya memberi prioritas pada dua wakil bisa jadi blunder besar.

Ahsan/Hendra Bermain dengan Gembira

Melepaskan status sebagai pemain pelatnas, Ahsan/Hendra justru mampu menarik kembali permainan terbaik yang ada dalam diri mereka.

[Gambas:Video CNN]
Ahsan/Hendra ternyata bisa menjadikan biaya pribadi sebagai motivasi tambahan untuk memaksimalkan prestasi. Ahsan/Hendra bergerilya mencari sponsor untuk pembiayaan satu tahun. Mereka juga harus mengurus segala hal untuk kebutuhan turnamen, mulai dari membeli tiket pesawat hingga pemilihan hotel tempat menginap.

Sepanjang 2019 Ahsan/Hendra berhasil masuk ke babak final turnamen selama 11 kali. Catatan ini jelas jadi gambaran sah bahwa Ahsan/Hendra tampil konsisten dari awal hingga akhir tahun.

Ahsan/Hendra tampil mengejutkan di awal tahun dengan memenangkan All England.Ahsan/Hendra tampil mengejutkan di awal tahun dengan memenangkan All England. (Oli SCARFF / AFP)
Torehan terbaik Ahsan/Hendra jelas ada pada keberhasilan memenangkan All England, Kejuaraan Dunia, dan BWF World Tour Finals di tahun ini. Di tahun-tahun terbaik Ahsan/Hendra sebelumnya pun mereka bahkan tidak mampu memborong tiga gelar bergengsi ini.

Dari segi mental Ahsan/Hendra saat ini berada di fase tak lagi membebani diri dengan target terlampau tinggi. Target mereka 'hanya' semifinal di tiap turnamen yang mereka ikuti. Gelar juara dunia dan All England yang pernah mereka menangkan di periode pertama mereka berpasangan juga membantu mereka untuk tak terlalu menanggung beban.

Dari segi permainan, Ahsan/Hendra kini menitikberatkan pada penempatan bola dalam pola permainan yang mereka lakukan. Hal itu yang terkadang membuat permainan Ahsan/Hendra terlihat tidak seru dan menyenangkan karena mereka bisa mematikan lawan dalam 2-3 pukulan tanpa smes keras yang biasa jadi ciri khas ganda putra.

Ahsan dan Hendra kini juga makin terbiasa melakukan rotasi di lapangan, tak lagi terpaku pada pola Hendra di belakang atau Ahsan di belakang. Bila Hendra dipaksa ke belakang, Hendra bisa menjawab dengan smes yang lebih keras dari sebelumnya dan dropshot yang tetap mematikan.

Ahsan juga makin piawai dan tak gugup bermain di depan net. Netting Ahsan makin tajam dan smesnya dari depan net tentu bakal terasa lebih mematikan untuk lawan.

Ahsan/Hendra, Rencana Cadangan yang MematikanAhsan/Hendra berhasil menjadi juara dunia 2019. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)
Minions Kelemahan Ahsan/Hendra

Bila mencari kelemahan di balik musim sempurna Ahsan/Hendra, hal itu adalah ketidakmampuan mereka mengalahkan Kevin/Marcus di tahun ini.

Ahsan/Hendra belum menemukan cara mengalahkan Minions. Meski Ahsan/Hendra bisa beradaptasi dengan berbagai tipe macam lawan, gaya main Minions jadi hal yang masih belum ditemukan penawarnya oleh Ahsan/Hendra.

Permainan cepat yang diperagakan Kevin/Marcus belum berhasil dirusak oleh Ahsan/Hendra. Tiap pertandingan yang mereka lalui, Kevin/Marcus selalu berhasil menemukan cara menekan dan membawa tempo pertandingan sesuai keinginan mereka.

Terlepas ketidakmampuan mengimbangi Minions, keberhasilan Ahsan/Hendra [bersama Minions] menciptakan sejumlah All Indonesian Final di BWF World Tour musim ini adalah catatan yang sangat positif bagi sektor ganda putra.

Ahsan/Hendra dan Kevin/Marcus sering menciptakan All Indonesian Final tahun ini.Ahsan/Hendra dan Kevin/Marcus sering menciptakan All Indonesian Final tahun ini. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Mimpi All Indonesian Final di Olimpiade 2020

Setelah musim 2019 berakhir pandangan terhadap Ahsan/Hendra tentu berubah drastis dibandingkan satu tahun lalu.

Ahsan/Hendra kini jadi favorit sebagai ganda kedua setelah Minions yang bakal dikirim ke Olimpiade Tokyo 2020. Performa Fajar/Rian yang merosot makin memuluskan jalan Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra menuju Tokyo.

Perburuan dua tiket ke Tokyo sendiri belum sepenuhnya berakhir. Paruh pertama tahun 2020 bisa jadi krusial bagi tiga ganda putra Indonesia.

Turnamen All England akan jadi kunci penting dalam penentuan pemilihan pemain. Fajar/Rian harus bisa jadi juara bila ingin menggoyahkan pilihan Herry IP karena Ahsan/Hendra benar-benar luar biasa di 2019.

Ahsan/Hendra sendiri tentu tak akan bisa memberikan jaminan performa yang tetap konsisten hingga beberapa bulan mendatang.

Bila Ahsan/Hendra bisa berpikir tenang terhadap turnamen-turnamen lain, Olimpiade bakal jadi hal yang berbeda bagi mereka. Ahsan/Hendra tentu tak akan pergi ke Tokyo hanya dengan berharap target minimal meraih medali perunggu.

All Indonesian Final adalah mimpi yang coba diwujudkan nomor ganda putra pada Olimpiade Tokyo 2020.All Indonesian Final adalah mimpi yang coba diwujudkan nomor ganda putra pada Olimpiade Tokyo 2020. ( Dok. PBSI)
Emas Olimpiade adalah target besar yang belum dimenangkan oleh Ahsan/Hendra sehingga mereka akan berusaha keras dan bermain dengan beban yang berbeda dibandingkan yang ada selama ini.

Persaingan di nomor ganda putra sendiri terbilang ketat. Meski Indonesia menguasai perolehan gelar di 2019, tak berarti musuh-musuh dari negara lain memiliki level yang jauh di bawah mereka.

Persaingan ketat itu pun akan terus terjadi hingga Olimpiade nanti.

Ahsan/Hendra sudah membuktikan bahwa mereka menjelma jauh lebih besar dari sekadar rencana cadangan.

Mereka kini justru masuk sebagai salah satu calon kuat peraih medali emas Olimpiade 2020, tentu bila PBSI menjatuhkan pilihan keberangkatan pada mereka.

Kevin/Marcus tidak akan sendirian jadi tumpuan harapan seperti pada era BWF Tour musim 2017 dan 2018. Ahsan/Hendra bisa berdiri sejajar menemani mereka. Ahsan/Hendra bahkan tak akan dianggap ganda nomor dua Indonesia oleh ganda dari negara-negara lainnya lantaran prestasi Ahsan/Hendra lebih bagus dibandingkan mereka.

Tidur Herry IP dan Susy Susanti akan tenang bila mereka melihat Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra lolos ke final Olimpiade 2020. Mereka pasti tidak akan memusingkan siapa yang bakal jadi pemenang karena yang terpenting Indonesia Raya bakal berkumandang. (ptr/har)