ANALISIS

Lampard: Semula Meragukan, Kini Diperhitungkan di Chelsea

Jun Mahares, CNN Indonesia | Selasa, 24/12/2019 07:09 WIB
Lampard: Semula Meragukan, Kini Diperhitungkan di Chelsea Frank Lampard berhasil membawa Chelsea perlahan bangkit. (AP Photo/Ian Walton)
Jakarta, CNN Indonesia -- Semula banyak pihak yang meragukan keputusan Chelsea menunjuk Frank Lampard sebagai pelatih. Namun semua prediksi itu perlahan luntur seiring dengan performa apik The Blues saat ini.

Lumrah memang jika banyak pengamat yang mengira Lampard belum layak memimpin klub sebesar Chelsea. Masih bau kencur di dunia kepelatihan dan belum pernah menangani tim elite.

Suporter Chelsea pun tak sepenuhnya bahagia ketika manajemen mengumumkan nama Lampard sebagai pengganti Maurizio Sarri yang lebih kaya pengalaman. Mereka cemas, prestasi The Blues terjun bebas di tangan sang legenda.


Jantung fan Chelsea pun sempat berdebar kencang saat menyaksikan tim kesayangan mereka tak pernah menang di tiga laga perdana. Dua pertandingan di antaranya berujung kekalahan.

[Gambas:Video CNN]
Dua kekalahan itu didapat saat melawan Manchester United dengan skor 0-4 di pekan perdana Premier League, dan takluk melalui drama adu penalti di Piala Super Eropa melawan Liverpool setelah hanya mampu bermain imbang 2-2 di waktu normal.

Sementara hasil imbang diraih saat menjamu Leicester City dengan skor 1-1 di pekan kedua. Hasil minor itu sempat membuat Chelsea terpuruk di papan bawah menempati urutan ke-15.

Rentetan hasil negatif itu membuat Lampard diambang pemecatan dini. Apalagi pemilik Chelsea, Roman Abramovich, dikenal tak pandang bulu memecat pelatih kaliber sekalipun yang memiliki kinerja buruk.

Rafael Benitez, Jose Mourinho, hingga Antonio Conte jadi korban tangan besi Abramovich. Begitu pula nasib Roberto Di Matteo yang tercatat pernah bermain untuk The Blues.

Frank Lampard pernah dilatih Jose Mourinho.Frank Lampard pernah dilatih Jose Mourinho. (DANIEL MIHAILESCU/AFP)
Namun, Lampard sebuah anomali. Abramovich tetap memberikan kesempatan kepada mantan pemain kesayangannya itu. Tak ada pemecatan dini untuk Lampard.

Sebab, jauh sebelum membubuhkan tanda tangan di Stamford Bridge, Lampard sudah memenangi banyak piala di Chelsea, dari Carling Cup, Liga Inggris sampai Liga Champions. Ia juga tercatat sebagai pencetak gol terbanyak dalam sejarah Chelsea dengan 211 gol, meski bukan striker.

Lampard yang Meragukan Mulai Diperhitungkan di Chelsea
Torehan tinta emas itu membuat Abramovich diam-diam memiliki perjanjian empat mata dengan Lampard. Sang taipan menggaransi banyak waktu untuk Lampard berkreasi di Stamford Bridge.

Kepercayaan Abramovich tak disia-siakan Lampard. Mantan gelandang timnas Inggris itu adalah seorang petarung sejati dan memiliki karakter pekerja keras saat aktif bermain.

Chelsea kalahkan Tottenham 2-0.Chelsea kalahkan Tottenham 2-0. (AP Photo/Ian Walton)
Semangat berapi-api itu yang ditularkan kepada skuat arahannya musim ini. Perlahan, kerja keras Lampard membuahkan hasil. Meski masih kesulitan menjaga konsistensi, Chelsea terus bangkit dan melesat ke lima besar.

Tottenham Hotspur jadi korban keganasan Chelsea di bawah kendali Lampard. Tak dinyana, Lampard mampu mematahkan strategi Tottenham yang dilatih mentornya: Jose Mourinho.

Lampard sudah paham betul karakter Mourinho yang pernah melatihnya di Chelsea. Formasi 3-4-3 milik Lampard sukses membuat Tottenham Mourinho tak berkutik dan dipaksa menyerah 0-2 lewat sepasang gol Willian.

Lini serang Spurs: Son Heung Min, Delle Ali, dan Harry Keane dibikin frustrasi. Sementara Mason Mount dan Willian tampak leluasa berkreasi menyokong sang ujung tombak, Tammy Abraham.

Bahkan Soccerway mencatat, Chelsea unggul di semua lini. Tak hanya unggul jumlah gol, Azpilicueta dan kawan-kawan mendominasi penguasaan bola, tembakan ke gawang, hingga memenangi sepak pojok.

Tammy Abraham bersinar di bawah arahan Frank Lampard.Tammy Abraham bersinar di bawah arahan Frank Lampard. (OZAN KOSE/AFP)
Berbicara kepada Daily Mail, Lampard mengaku tak meniru taktik pelatih sebelumnya, Antonio Conte. Menurutnya, skema 3-4-3 miliknya punya cara bermain yang berbeda dan sesuai untuk meredam Tottenham era Mou.

Di tangan Lampard, sejumlah pemain muda macam Tammy Abraham, Fikayo Tomori, dan Mason Mount bersinar terang. Abraham jadi andalan lini depan meski memiliki Olivier Giroud.

Keputusan tersebut menepis anggapan bahwa Lampard terpaksa memainkan talenta muda karena Chelsea terkena sanksi larangan belanja pemain dari FIFA.

Sebaliknya, ia justru memberi kesempatan lebar-lebar kepada para remaja untuk mengembangkan sayapnya lebih jauh lagi. Cara jitu itu dilakukan ketika menangani Derby County yang nyaris promosi ke Premier League.

Setelah terseok-seok di awal musim, Chelsea di bawah kendali Lampard kini mampu bertengger di posisi empat besar, melaju ke babak keempat Piala Liga Inggris, dan tampil apik di Liga Champions. (nva)