ANALISIS

MU Pasang Strategi Pertahankan Kekalahan di Markas Liverpool

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Senin, 20/01/2020 08:41 WIB
MU Pasang Strategi Pertahankan Kekalahan di Markas Liverpool Manchester United tak bisa mengimbangi Liverpool di Anfield. (AP Photo/Jon Super)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemain Liverpool terburu-buru sedangkan Manchester United terlihat santai dalam duel Liga Inggris di Anfield. Padahal papan skor menunjukkan 1-0 untuk The Reds.

The Reds berhasil unggul 1-0 atas MU lewat gol Virgil van Dijk di babak pertama. Namun yang tergesa-gesa setelah momen tersebut bukanlah MU, melainkan Liverpool.

Melihat pemandangan di awal babak kedua, laga Liverpool lawan MU seolah jadi laga di fase knock out Liga Champions. MU seolah puas dengan kekalahan 0-1 dari Liverpool karena kekalahan itu tetap membawa mereka lolos ke babak berikutnya. Sementara itu Liverpool justru terus terpacu untuk mencetak gol demi gol.


Padahal ini adalah laga Liga Inggris. Ketika kekalahan 0-1 tetap tak bernilai poin, sama halnya dengan kekalahan dua gol atau tiga gol. MU pun tak berada dalam kondisi harus mempertahankan selisih gol seperti halnya tengah dalam partai terakhir penentuan gelar juara Liga Inggris.

Dari awal pertandingan, susunan pemain MU sudah menunjukkan keanehan. Juan Mata yang tengah dalam grafik meningkat di beberapa pertandingan terakhir disimpan Ole Gunnar Solskjaer di bangku cadangan.

Gol Virgil van Dijk tidak membuat Ole Gunnar Solskjaer bergerak melakukan perubahan di awal babak kedua.Gol Virgil van Dijk tidak membuat Ole Gunnar Solskjaer bergerak melakukan perubahan di awal babak kedua. (AP Photo/Jon Super)
Solskjaer memutuskan menurunkan Brandon Williams dan Luke Shaw secara bersamaan. Gunanya untuk mematikan pergerakan Mohamed Salah di sisi kanan penyerangan Liverpool.

Ketika skema bertahan MU runtuh karena Van Dijk berhasil membawa Liverpool unggul 1-0 di menit ke-14, Solskjaer tak juga bergerak pada saat jeda pertandingan.

Solskjaer seolah sudah puas dengan penampilan MU di babak pertama. Padahal MU hanya melepaskan satu tembakan tepat sasaran, itu pun lewat tendangan jarak jauh Andreas Pereira yang mudah ditangkap Alisson Becker.

Solskjaer hanya duduk manis di awal babak kedua melihat Liverpool menggempur pertahanan MU. Pemain-pemain MU bahkan tidak terlihat tergesa-gesa lantaran tengah dalam kondisi tertinggal.

Hal itu bisa terlihat ketika mereka mendapatkan lemparan ke dalam di menit ke-56. Sama sekali tidak terlihat niat buru-buru menyusun serangan. Pemain-pemain MU justru seolah memanfaatkan lemparan ke dalam untuk mengatur ulang napas mereka di tengah pertandingan.

Hal lain yang menyedihkan dari pola serangan MU adalah ketika mereka seperti tidak pernah berlatih umpan-umpan pendek di depan kotak penalti lawan.
MU kesulitan membongkar pertahanan Liverpool karena umpan-umpan mereka sering salah sasaran di depan kotak penalti lawan.MU kesulitan membongkar pertahanan Liverpool karena umpan-umpan mereka sering salah sasaran di depan kotak penalti lawan. (AP Photo/Jon Super)
Koordinasi pemain MU kacau dan akhirnya para pemain tidak percaya diri sehingga memutuskan melakukan tembakan jarak jauh yang tidak membahayakan.

Di tengah kacau-balaunya serangan MU, 'Setan Merah' masih punya dua peluang bagus untuk mencetak gol. Pertama, ketika sodoran bola dari Aaron Wan-Bissaka gagal dijangkau oleh Andreas Pereira di muka gawang pada babak pertama.

Kedua, ketika umpan 1-2 Martial-Perreira, satu-satunya umpan pendek yang berhasil di laga itu, malah diakhiri tendangan melambung oleh Martial di babak kedua.

Setiap MU melancarkan serangan, kaki-kaki pemain MU pun terasa berat untuk menghalau serangan cepat Liverpool. Beruntung bagi MU, Liverpool tidak mampu memaksimalkan sejumlah peluang emas yang bisa jadi gol kedua.

Andai Liverpool, terutama lini serang mereka, tampil di level terbaik, Liverpool mungkin sudah bisa mengantongi keunggulan tiga gol di pertengahan babak kedua.

Saat MU terus kesulitan mencetak gol, Solskjaer baru bergerak di 15 menit terakhir dengan memasukkan Mata dan Mason Greenwood secara bersamaan.

[Gambas:Video CNN]
Sebelum Solskjaer bangun dari tempat duduknya dan berteriak ke para pemain, MU seolah sudah puas dengan kekalahan 0-1 dari Liverpool.

Waktu 15 menit tentu cukup sulit untuk langsung mengubah alur permainan dengan cepat. Liverpool yang sejatinya tidak tampil di permainan terbaik pada laga ini, mampu mempertahankan diri dari serangan-serangan MU yang tak lagi berbahaya di 15 menit terakhir.

Dalam tekanan serangan yang tidak terlalu berbahaya, Liverpool akhirnya menyegel gol kedua lewat serangan balik Mohamed Salah yang berlari tanpa penjagaan pemain-pemain MU.
MU Pasang Strategi Pertahankan Kekalahan di Markas Liverpool

Minim Gairah dan Perlu Striker Baru

Pemain-pemain MU yang diperintahkan Solskjaer untuk bertahan dan menunggu serangan balik tidak bisa benar-benar menjalankan strategi dengan baik.

Tidak ada pressing ketat dari pemain-pemain MU yang lebih banyak berlari-lari kecil atau bahkan berjalan. Gol dari Van Dijk di awal laga bahkan tak mampu membangkitkan gairah dan nafsu untuk membalas dalam diri pemain-pemain MU.

Entah karena bermain di laga ulang Piala FA pada tengah pekan lalu, fisik pemain-pemain MU tidak cukup mumpuni untuk mengimbangi Liverpool di laga ini.

Pilihan untuk menurunkan Pereira sebagai otak serangan juga mutlak sebuah kesalahan. Pereira sering salah dalam memberikan umpan terobosan dan malah sering asyik mencoba tendangan-tendangan jarak jauh.
LIverpool baru mendapat gol kedua di akhir pertandingan.LIverpool baru mendapat gol kedua di akhir pertandingan. (AP Photo/Jon Super)
Satu hal lain yang patut jadi pelajaran bagi MU adalah mereka harus benar-benar bergerak mencari ujung tombak di bursa transfer Januari.

Ketiadaan Marcus Rashford di laga ini dan gaya main Anthony Martial yang lebih sering melebar ke sisi kiri jadi masalah bagi MU.

Dengan ketiadaan predator yang berdiam di kotak penalti lawan, gelandang-gelandang MU tidak bisa melepaskan umpan yang langsung mengarah ke jantung pertahanan.

MU jelas tak berdaya di laga ini. Makin miris ketika melihat Solskjaer seperti puas dengan kekalahan 0-1 di tengah pertandingan. (jal)