Saya juga pernah cedera saat jadi pemain. Retina mata saya rusak karena terkena bola tendangan pemain Tanzania. Kebetulan itu 1979 Universiade di Meksiko, lalu sembuh tapi tidak pernah bermain lagi.
Saya langsung masuk rumah sakit. Begitu jatuh di lapangan dibawa ambulans ke rumah sakit. Saat rombongan pulang saya langsung berobat ke Los Angeles.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mata saya kena tendang lagi, yang sebelumnya pernah cedera juga, di mata kiri. Saat itu tidak apa-apa. Tapi keesokan harinya waktu pertandingan terasa.
Kalau tidak dioperasi, pandangan mata saya hilang. Saya dioperasi di Genoa sendiri, tidak ada yang tunggu. Masuk ruang operasi saya sendiri. Langsung operasi besar mata saya.
Bola mata dikeluarkan, karena retina ada di belakang mata. Justru sembuhnya karena banyak di lapangan. Seperti ada sugesti kalau mencium bau rumput pagi yang baru dipotong, kalau melihat rumput yang hijau.
Saya juga ada pengalaman menarik di Primavera. Saya sebelum datang ke Primavera disuruh bikin SIM Internasional biar bisa bawa kendaran di sana. Kebetulan di sana kita ada mobil van, karena waktu itu kita banyak laga home and away.
Perjalanan di sana sekitar tiga sampai empat jam, sampai sejauh itu, kadang lima jam. Itu waktu di musim pertama. Tapi waktu di musim kedua pakai bus kalau perjalanan jauh.
Di Italia juga orang kalau bawa mobil kan disiplin, tidak saling kebut-kebutan, mengambil jalur orang lain. Bayangkan saja, di sana kalau jarak 20 meter saja kita menyalip sudah diteriakin orang.
Pengalaman saya di Primavera kita tanding hari Sabtu, kalau Minggu-nya menonton pertandingan Sampdoria. Dari tempat kita di Tavarone sampai ke Genoa itu sekitar satu setengah sampai dua jam.
Begitu pulang dari nonton pertandingan semua anak-anak tidur, tinggal saya sendiri. Sudah menguap, mata juga kadang sudah enggak kuat. Itu luar biasa pengalamannya.
Saat pulang mereka semua tidur, lalu saya mengisi bensin. Saat sedang isi bensin ada polisi Italia melihat-lihat ke dalam mobil.
Polisi itu melihat banyak orang di dalam mobil seperti imigran, mana tidak ada sepatunya, cuma pakai kaus kaki. Polisi itu bertanya, itu siapa? Sempat dikira kita ini imigran. Saya bilang kita skuat Primavera Indonesia. Polisi itu menyahut, 'saya wasit' dalam bahasa Italia. Akhirnya kami jadi akrab.
Bahkan, sewaktu saya jadi pelatih suka terbangun pukul 12 malam atau 3 pagi, sepak bola langsung terpikirkan dan sudah ada di kepala. Sekarang juga terkadang masih suka. Apalagi sekarang mengurusi sepak bola Indonesia. Saya bukan mengurusi Timnas Indonesia saja tetapi bagaimana sepak bola Indonesia ke depan.
Harus kita hindarkan itu. Sebelum 2015 kita dualisme (2011). Kalau ada dualisme siapa yang memikirkan pengembangan? Kan tidak ada. Semua maju karena edukasi. Ditambah disanksi FIFA. Waktu zaman Pak Edy Rahmayadi kita itu sedang memulai sepak bola yang baik. Kita baru punya panduan tentang sepak bola yang baik dan benar.
Saat ini saya bertugas sebagai Direktur Teknik di PSSI, orang biasanya bilang Direktur Teknik itu berhubungan dengan Timnas Indonesia. Hubungannya ada, tapi tugas seorang Direktur Teknik adalah pengembangan sepak bola untuk masa depan. Karena untuk kita butuh berprestasi tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses. (ptr)

Danurwindo sempat menjadi pemain sebelum menjalani karier sebagai pelatih. (CNN Indonesia/Surya Sumirat)
Danurwindo memiliki pengalaman menimba ilmu kepelatihan di Inggris. (CNN Indonesia/Surya Sumirat)