Air Jordan, Blunder Terbesar Adidas

CNN Indonesia | Senin, 17/02/2020 13:59 WIB
Air Jordan, Blunder Terbesar Adidas Michael Jordan memutuskan bergabung dengan Nike pada 1984. (Christian Petersen/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Andai Adidas mengeluarkan uang sedikit lebih banyak pada 1984, Nike saat ini mungkin tidak akan merasakan sukses bersama Michael Jordan lewat produk Air Jordan.

Hingga kini keputusan Adidas untuk tidak mengontrak Jordan pada 1984 dianggap sebagai salah satu blunder terbesar dalam sejarah apparel olahraga.

Di awal karier sebagai atlet bola basket, Jordan selalu jatuh cinta dengan sepatu Adidas. Dikutip dari ESPN, Jordan 'terpaksa' menggunakan Converse saat memperkuat North Carolina karena pelatih mereka saat ini, Dean Smith, memiliki kontrak dengan Converse.


Ketika dipilih Chicago Bulls pada draft NBA 1984, Jordan mendapat tawaran dari sejumlah perusahaan apparel olahraga besar dunia untuk bergabung: Adidas, Nike, Converse.

Michael Jordan baru menggunakan sepatu Nike saat bermain di NBA.Michael Jordan baru menggunakan sepatu Nike saat bermain di NBA. (AFP PHOTO/VINCENT LAFORET)
Jordan sudah menetapkan pilihan: Adidas. Si Nomor 23 sudah menolak tawaran Converse karena saat itu mereka sudah memiliki banyak pemain bintang di NBA, mulai dari Julius 'Dr. J' Erving, Larry Bird, hingga Magic Johnson.

"Saya tidak pernah menggunakan Nike sampai menandatangani kontrak dengan Nike. Sampai kuliah saya menggunakan Converse. Sampai saat itu sepatu favorit saya adalah Adidas. Sampai pada titik orang-orang berusaha merekrut saya untuk sepatu apa yang akan saya pakai, saya pro Adidas," ujar Jordan dalam wawancara dengan ESPN.

Air Jordan, Blunder Terbesar Adidas
Nike kemudian melakukan pertemuan dengan Jordan untuk membujuk enam kali juara NBA itu bergabung. Meski sudah memberikan semua yang diminta Jordan, Nike tetap tidak menjadi pilihan utama Jordan.

"Sampai Nike melakukan presentasi dengan saya, mereka benar-benar membuat saya terlibat dalam pembuatan sepatu, desain sepatu yang ingin saya pakai, tapi kemudian saya sangat loyal dan kembali ke Adidas," ujar Jordan.

"Dengan orang Adidas yang melakukan kontak dengan saya, saya bilang ini kontrak yang diberikan Nike, jika kalian masuk mendekati nilai kontrak mereka, saya akan menandatangani kontrak dengan kalian," sambung Jordan.

[Gambas:Video CNN]
Namun, Adidas tidak melakukan usaha ekstra untuk mendapatkan tanda tangan. Alasannya sederhana. Adidas adalah produk Eropa dan belum melihat NBA sebagai pasar penting. Ketika itu Adidas memprioritaskan pemain dengan tubuh tinggi besar, seperti Karem Abdul Jabbar.

"Ketika itu Adidas produk Eropa dan mereka tidak terlalu mendorong untuk masuk pasar Amerika Serikat, dan mereka berpikir ini tidak terlalu berharga. Hal itu sempurna untuk saya, karena membuat keputusan saya menjadi lebih mudah, dan sejak saat itu hubungan saya dengan Nike terus berkembang," ucap Jordan.

Nike kemudian mengontrak Jordan selama lima tahun dengan nilai US$250.000 per tahun. Produk Air Jordan menyelamatkan Nike dari keterpurukan. Business Insider melansir produk Air Jordan memberi keuntungan Nike hingga US$3 miliar (setara Rp53,5 triliun) per tahun

"Sulit untuk mengatakan apa yang akan terjadi jika saya bergabung dengan Adidas. Yang pasti permainan saya di lapangan tidak akan berubah karena sepatu, tapi mungkin saya bisa membantu bagaimana sepatu itu dipasarkan. Apakah produk Air Jordan akan tetap kuat jika itu mereka Adidas? Kita tidak akan pernah tahu," ucap Jordan.

Kini produk Air Jordan tidak hanya digunakan di olahraga bola basket, tapi sudah merambah ke bisbol, tenis, hingga sepak bola. (har/bac)