Analisis

Kutukan bagi Jose Mourinho Seperti Cerita Sinetron Azab

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Kamis, 20/02/2020 07:32 WIB
Kutukan bagi Jose Mourinho Seperti Cerita Sinetron Azab Jose Mourinho dikutuk tak memiliki striker. (AP Photo/Matt Dunham)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kutukan Jose Mourinho di klub mana pun dia melatih sudah seperti sinetron berjudul: 'Azab Sering Main Bertahan, Mourinho Dikutuk Tak Punya Striker'

Mungkin begitulah jika mengikuti pola sinetron yang saat ini ada di Indonesia. Terlepas dari hal itu, Jose Mourinho benar-benar menderita melihat Tottenham Hotspur bermain tanpa striker pada laga lawan RB Leipzig di Liga Champions.

Mourinho adalah tipe pelatih yang mengutamakan hasil. Bagi Mourinho, permainan indah tidak akan jadi tujuan utama. Bila menang harus diperoleh dengan cara bertahan total, hal itulah yang akan ia lakukan.


Sejarah panjang perjalanan Mourinho sudah membuktikan hal tersebut. Mourinho dipuji atas keberhasilannya mengantar Inter Milan menyingkirkan Barcelona di semifinal Liga Champions 2009/2010. Padahal saat itu Barcelona dikenal sebagai klub terbaik di dunia.

Mourinho akan dengan mudah memutuskan bermain total bertahan dan parkir bus meski ia punya striker dan gelandang top di dalam timnya. Mourinho bisa saja mengabaikan ketajaman Didier Drogba (Chelsea) dan Diego Milito (Inter Milan) sehingga ia sama sekali tak berminat untuk bermain menyerang saat Mourinho melihat peluang menang bakal lebih besar bila ia bermain bertahan.

RB Leipzig mengalahkan Tottenham Hotspur 1-0. (RB Leipzig mengalahkan Tottenham Hotspur 1-0. (AP Photo/Matt Dunham)
Kritik terhadap gaya dan strategi Mourinho juga masih terdengar ketika ia menangani Manchester United. Suporter MU kecewa dengan permainan 'Setan Merah' yang seolah kehilangan identitas di tangan Mourinho.

Manchester United yang dikenal sebagai tim dengan permainan menyerang dan menghibur berubah jadi tim yang terpaku pada hasil akhir pertandingan. Padahal di era Mourinho, MU punya sosok Romelu Lukaku, Anthony Martial, Marcus Rashford yang punya naluri tinggi saat menyerang.

Ingin Menekan Namun Tak Punya Penyelesai Serangan

Situasi unik seolah hukum karma kemudian menimpa Mourinho saat ia kini jadi arsitek Tottenham Hotspur.

Tottenham sebelumnya dikenal sebagai klub yang minim striker. Harry Kane dianggap sudah cukup untuk jadi tumpuan di lini depan.

Ketika Kane cedera panjang, Mourinho menunjuk Son Heung Min sebagai ujung tombak. Son mampu bermain apik dan kecepatan Son membantu Tottenham menuai hasil positif.

Kutukan bagi Jose Mourinho Seperti Cerita Sinetron AzabTottenham berusaha menekan tapi tumpul di depan. (AP Photo/Matt Dunham)
Namun ternyata Son Heung Min juga ikut masuk daftar cedera menyusul Harry Kane. Permasalahan menjadi serius karena Son Heung Min juga beristirahat hingga akhir musim.

Mourinho akhirnya dihadapkan pada situasi aneh. Ia diharuskan bermain tanpa striker saat menjamu RB Leipzig.

Bila dulu Mourinho memilih bermain bertahan saat menganggap peluang menang lebih besar bila memakai cara tersebut, Mourinho kini justru dihadapkan pada situasi ingin menekan namun tak punya penyelesaian serangan.

Jika dibandingkan dengan tim-tim terdahulu Mourinho, Tottenham belum punya lini belakang solid yang bisa dipercaya dan didorong untuk bermain bertahan. Karakter pemain-pemain Tottenham sendiri adalah karakter pemain-pemain cepat yang bisa dengan mudah merusak pertahanan lawan.

Kutukan bagi Jose Mourinho Seperti Cerita Sinetron Azab
Lucas Moura kemudian dipasang di posisi ujung tombak, ditopang oleh Gedson Fernandes, Dele Alli, dan Steven Bergwijn.

RB Leipzig memang pada akhirnya lebih sering menekan, namun Tottenham juga tak kalah dalam hal penciptaan serangan.

Kelemahan terbesar Tottenham di laga tersebut adalah mereka tak punya penyelesaian serangan. Ada beberapa umpan silang yang melintas di depan gawang Leipzig namun tak ada pemain yang berdiri di posisi yang tepat.

Tottenham kesulitan membobol gawang Leipzig. (Tottenham kesulitan membobol gawang Leipzig. (Photo by Ronny Hartmann / AFP)
Dele Alli dan Lucas Moura yang coba mengisi posisi sebagai ujung tombak dalam beberapa momen serangan gagal membaca peluang dengan baik. Alhasil, serangan-serangan Tottenham banyak yang berujung gagal. Banyak umpan silang, yang bila dibayangkan, bisa disambut dengan sangat baik oleh Harry Kane dan Son Heung Min.

Ketiadaan striker benar-benar berpengaruh besar pada wajah Tottenham. Peluang berbahaya Tottenham pada permainan terbuka hanya hadir lewat Steven Bergwijn.
Di luar itu, harapan Tottenham untuk mencetak gol ada pada dua tendangan bebas yang dieksekusi oleh Giovani Lo Celso dan Erik Lamela.

Mourinho termasuk beruntung timnya hanya kalah 0-1 di laga leg pertama. Hugo Lloris patut mendapat pujian sebagai pahlawan yang menghindarkan Tottenham dari kekalahan lebih telak.

Dengan kalah 0-1 di leg pertama, Tottenham masih bisa berharap lolos ke fase berikutnya meski harus jadi tim tamu di Jerman. Namun sebelum berpikir ke sana, Mourinho harus benar-benar cari cara memiliki penyelesai serangan di lini depan dari skuat yang ia miliki saat ini.

Bukan hanya untuk perjuangan di Liga Champions, melainkan juga untuk finis empat besar di Liga Inggris. (bac)