ANALISIS

Coutinho dan Teori Bielsa

Haryanto Tri Wibowo, CNN Indonesia | Senin, 30/03/2020 07:03 WIB
Coutinho dan Teori Bielsa Philippe Coutinho hampir pasti dilepas Bayern Munchen. (Peter Kneffel/dpa via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Berkeliaran ke sana sini; bertualang; hanya berjalan ke sana sini."

Itu adalah definisi kata 'luntang-lantung' dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Luntang-lantung adalah kondisi yang sedang dialami Philippe Coutinho saat ini.

Level pemain sepak bola saat ini biasanya dibagi menjadi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo di level teratas. Kemudian di level bawahnya ada pemain seperti Neymar, Kylian Mbappe, Eden Hazard, dan Mohamed Salah.


Coutinho sempat berada satu level dengan Neymar dan kawan-kawan. Gelandang serang sekaligus winger 27 tahun itu sempat dianggap sebagai salah satu pesepakbola terbaik di dunia saat memperkuat Liverpool.

Namun, keputusan untuk meninggalkan Liverpool dan bergabung dengan Barcelona pada Januari 2018 mengubah perjalanan karier Coutinho. Sebuah keputusan berani penuh risiko.

Philippe Coutinho dipinjamkan Barcelona meski baru 1,5 musim di Camp Nou.Philippe Coutinho dipinjamkan Barcelona meski baru 1,5 musim di Camp Nou. (AP Photo/Martin Meissner)
Di titik ini Coutinho tidak bisa menahan godaan Barcelona. Main bersama Messi yang dianggap sebagai The GOAT di dunia sepak bola bukan kesempatan yang bisa datang hingga dua kali.

Biasanya akan ada dua output yang akan didapat pemain bintang yang dibeli Barcelona atau Real Madrid: Jadi pemain mahal yang gagal atau sukses dan menjadi legenda klub. Coutinho (untuk sementara) mendapatkan output yang pertama.

Hanya dalam satu setengah musim memperkuat Barcelona, Coutinho memang meraih sukses lebih banyak daripada lima setengah musim di Liverpool. Setidaknya dari segi gelar. Coutinho meraih empat gelar bersama Barcelona, sementara di Anfield, The Little Magician tidak mampu mencicipi trofi.

Tapi kemudian Coutinho dipinjamkan ke Bayern Munchen pada Agustus 2019. Sebuah keputusan aneh diambil Barcelona. Klub asal Catalunya itu meminjamkan pemain termahal dalam sejarah klub hanya dalam 1,5 musim di Camp Nou.

Apa yang salah dengan Coutinho di Barcelona? Satu yang pasti Coutinho berubah menjadi pemain yang menampilkan permainan 'rata-rata' di Camp Nou. Padahal Coutinho bukan pemain 'rata-rata'.

Itu semua karena Coutinho gagal beradaptasi dengan lingkungan baru di Barcelona. Coutinho seperti kucing yang terjebak di tengah jalan tol. Kebingungan dan tidak tahu ke mana harus melangkah.

Coutinho dan Teori Bielsa
Kondisi Coutinho sejalan dengan teori pelatih sepak bola veteran Argentina Marcelo Bielsa. Pelatih 64 tahun itu menganggap adaptasi adalah kunci utama dari kesuksesan transfer pemain.

"Kamu mungkin melihat ratusan video sang pemain, menginvestigasi cederanya, kehidupan pribadi, statistik. Kamu bisa tahu semua tentang dia. Tapi ada satu variabel yang tidak bisa dikontrol: Bagaimana dia beradaptasi di habitat baru."

"Mustahil untuk mengetahuinya, karena ini adalah kehidupan baru, sesuatu yang baru untuk semua orang yang tidak bisa kita analisis sebelum kedatangan sang pemain," ujar Bielsa.

Teori itu cocok menggambarkan kondisi Coutinho di Barcelona. Coutinho mendapat kebebasan dalam bermain ketika masih di Liverpool. Sementara di Barcelona, Coutinho mendapat peran baru dari Ernesto Valverde yang sulit dilakukannya.

Di musim terakhir bersama Barcelona, Coutinho lebih sering bermain sebagai sayap kiri dan beberapa kali menjadi gelandang serang. Namun, peran sayap kiri Coutinho di Liverpool berbeda dengan di Barcelona.

Barcelona dikabarkan ingin menjual Philippe Coutinho musim depan.Barcelona dikabarkan ingin menjual Philippe Coutinho musim depan. (BENJAMIN CREMEL / AFP)
Coutinho tidak punya kebebasan yang sama seperti di Liverpool sebagai pemain sayap kiri. Satu-satunya pemain yang memiliki keistimewaan itu adalah Messi.

Akhirnya Coutinho lebih banyak berkutat di sisi kiri dan menyuplai bola, sesuatu yang bukan kebiasaannya. Coutinho yang sudah terbiasa menjadi bintang di Liverpool, kini hanya berada di bawah bayang-bayang Messi.

Usaha Valverde untuk menjadikan Coutinho sebagi gelandang serang juga tidak membuahkan hasil. Coutinho tidak terlalu kreatif dalam membangun serangan dan bermain di belakang striker. Di atas kertas, Ousmane Dembele lebih berguna daripada Coutinho dengan skema permainan Barcelona baik saat masih dilatih Valverde atau sekarang bersama Quique Setien.

Keluar dari bayang-bayang Messi sepertinya menjadi jalan keluar terbaik bagi Coutinho. Tawaran bergabung dengan Bayern Munchen dengan status pinjaman satu musim pun tanpa pikir panjang diterima pemain jebolan Vasco da Gama tersebut.

Keputusan bergabung dengan Munchen juga tidak menjadi jalan keluar yang tepat bagi Coutinho. Pelatih Hans-Dieter Flick hanya menjadikan Coutinho sebagai pilihan kedua. Munchen pun dikabarkan ogah mempermanenkan kontrak Coutinho.

[Gambas:Video CNN]
Menjadi satu-satunya pemain Amerika Selatan di skuat Munchen membuat Coutinho kesulitan beradaptasi dengan Liga Jerman. Coutinho sebenarnya tidak terlalu buruk di Munchen dengan koleksi 22 penampilan di Bundesliga, meski hanya 15 di antaranya menjadi starter.

Tapi, manajemen Munchen tidak terlalu terkesan dengan Coutinho. Terlebih gaji tinggi yang harus dibayar Die Roten hanya untuk membayar pemain yang lebih sering duduk di bangku cadangan. Gaya permainan Coutinho pun tidak cocok dengan Munchen yang lebih kaku dalam penerapan strategi.

Kondisi luntang-lantung masih bisa dialami Coutinho musim depan, karena Barcelona kemungkinan besar tidak akan mempertahankannya. Kondisi finansial yang buruk karena virus corona membuat Barcelona lebih memilih menjual Coutinho.

Barcelona masih memiliki utang 75 juta euro uang transfer Coutinho yang dibayar secara dicicil ke Liverpool. Kini Barcelona dikabarkan ingin menjual Coutinho minimal 80 juta euro. Sialnya, Barcelona sudah sulit mencari pembeli Coutinho dengan harga 80 juta euro sebelum wabah virus corona muncul.

Kembali ke Inggris bersama Chelsea atau Tottenham Hotspur menjadi pilihan yang masuk akal bagi Coutinho. Liga Inggris sejauh ini merupakan habitat terbaik untuk Coutinho.

Pertanyaan yang kemudian harus dijawab Barcelona adalah mampukah mereka mencari klub yang mau mengeluarkan 80 juta euro di tengah krisis finansial karena virus corona untuk membeli Coutinho? Jika tidak, karier Coutinho akan kembali dalam posisi luntang-lantung. (jun)