Dalam dunia olahraga, sebuah statistik atau pola yang berulang adalah sebuah hal yang selalu menarik untuk diperhatikan dan dicermati. Banyak pola dan statistik yang beredar di berbagai macam cabang olahraga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan punya prestasi bagus di tahun ganjil. (dok. PBSI) |
Dua tahun berselang, Ahsan/Hendra kembali unjuk gigi. Di tahun 2015, Ahsan/Hendra sukses merebut gelar juara dunia untuk kedua kalinya sejak mereka dipasangkan.
Puncak pengakuan kehebatan Ahsan/Hendra di tahun ganjil ada pada 2019. Setelah tidak berpasangan di tahun 2017, Ahsan/Hendra membuktikan mereka masih berbahaya di tahun 2019. Tiga gelar bergengsi, All England, Kejuaraan Dunia, dan BWF World Tour Finals diborong oleh mereka.
Di tahun genap, prestasi Ahsan/Hendra sendiri tidak sepenuhnya buruk. Pada 2014, mereka jadi juara All England dan Asian Games. Namun di tahun itu pula Ahsan cedera sehingga Ahsan/Hendra tidak bisa bermain di Kejuaraan Dunia.
Salah satu prestasi Ahsan/Hendra di tahun ganjil adalah juara dunia 2015. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman) |
Pola unik yang dialami oleh Ahsan/Hendra ini yang kemudian membuat banyak orang yang menganggap Ahsan/Hendra punya keberuntungan dan kehebatan yang lebih kuat bila bertarung di tahun ganjil.
Dan lantaran pandemi Corona, Olimpiade 2020 harus diundur hingga tahun depan, alias di tahun 2021.
Ahsan/Hendra Tak Hanya Berharap Tahun Ganjil
Ahsan/Hendra tentu tidak akan maju ke Olimpiade tahun depan hanya dengan harapan mereka bakal dinaungi lebih banyak keberuntungan di tahun ganjil. Hendra pun sudah menegaskan bahwa mereka tidak memikirkan apapun soal pola unik kehebatan di tahun ganjil.
Namun satu hal yang pasti, Ahsan/Hendra tetap bakal berusaha keras memburu medali emas Olimpiade yang diundur ke tahun depan.
Medali emas Olimpiade adalah satu-satunya yang masih hilang dalam koleksi gelar Ahsan/Hendra. Mereka sudah punya tiga gelar juara dunia, dua gelar All England, dan medali emas Asian Games.
Hendra memang sudah punya medali emas Olimpiade, namun hal itu tidak menghalanginya untuk tetap lapar gelar dan kembali mendapatkan emas di Olimpiade berikutnya.
[Gambas:Video CNN]
Motivasi adalah poin utama di balik kekuatan Ahsan/Hendra. Mereka berhasil mempertahankan motivasi dan tekad di usia yang tak lagi muda. Motivasi kuat ini yang kemudian menuntun mereka tetap penuh disiplin, baik dalam latihan maupun di kehidupan keseharian.
Dalam situasi pandemi corona, situasi latihan yang ada saat ini tak akan bisa berjalan normal. Tanpa kepastian turnamen bakal kembali berjalan, semua atlet bakal sulit berlatih dengan ritme yang biasa. Dalam ritme biasa, atlet punya target jangka pendek dan jangka panjang sehingga pelatih bisa menyusun pola latihan dengan tepat. Hal ini sulit dilakukan pada periode kali ini.
Sejauh ini turnamen bakal berhenti setidaknya hingga bulan Juni. Jeda waktu tanpa turnamen ini bakal lebih panjang dibandingkan jeda turnamen di pergantian tahun.
Saat BWF Tour kembali bergulir, bakal banyak penyesuaian dari seluruh atlet badminton dunia. Bahkan termasuk dari mereka yang tetap bisa rutin latihan dalam situasi terdampak pandemi Corona.
Di luar kesulitan mempertahankan ritme latihan, jeda karena pandemi corona ini bisa dimanfaatkan untuk menyegarkan kembali kondisi tubuh dan psikis bagi Ahsan/Hendra.
Ahsan/Hendra pernah yakin bahwa kegagalan di Olimpiade 2016 bakal sulit ditebus, terutama setelah mereka berpisah di pengujung 2016.
Namun kini mereka ternyata mendapat kesempatan emas untuk memburu gelar yang belum mereka dapatkan. Kesempatan menggenapkan legenda Ahsan/Hendra itu yang bakal dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh mereka. (ptr)
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan punya prestasi bagus di tahun ganjil. (dok. PBSI)
Salah satu prestasi Ahsan/Hendra di tahun ganjil adalah juara dunia 2015. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)